Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

28/03/19

MEMBACA PENEMBAKAN DI NEW ZEALAND DARI PERSPEKTIF GEOPOLITIK


M. Arief Pranoto *)

Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ras, dan lain-lain melainkan karena faktor geoekonomi. Perang agama, suku dan seterusnya hanya sebuah geostrategi dari si pemilik hajatan guna "memasuki" wilayah dan/atau negara target belaka. Kenapa? Biasanya bagi wilayah atau kawasan yang ditarget memiliki kepentingan entah implikasi maupun kontribusi terkait geoekonomi negeri pemilik hajatan, dan narasi geoekonomi tersebut kerap disebut "national interest" atau kepentingan nasional. 

Selanjutnya terkait asumsi global "If you would understand world geopolitics today, follow the oil" (Deep Stoat), bila ingin paham geopolitik hari ini, ikuti aliran minyak, kita coba memakai teori Deep Stoat sebagai salah satu pisau bedah untuk menguak kasus penembakan masjid di New Zealand (NZ) yang menelan korban tewas 40-an orang lebih.


Pertanyaan pertama, apakah NZ produsen minyak? Ternyata tidak. Tidak ada minyak di NZ, bahkan sejak 2000-an ia mencanangkan go north demi mencari minyak ke utara.

Pertanyaan kedua, apakah di NZ ada sejarah konflik ataupun teroris? Juga tidak. Bahkan menurut PBB di awal 2018, NZ termasuk 10 besar negara paling bahagia karena aspek destinasi, maskapai, dan brand terbaik, dll di bawah Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, dan Kanada, tetapi masih di atas Swedia dan Australia. 

Kesimpulan awal, faktor minyak sesuai asumsi Stoat pun gugur, karena selain NZ bukan produsen minyak, juga tak ada sejarah konflik dan teroris di sana. Adanya dugaan bahwa para pelaku penembakan ialah teroris impor merupakan hal logis. Niscaya pelaku bukan warga negara NZ.

Pertanyaan berikutnya, lantas geoekonomi apa yang hendak diraih si pemilik hajatan melalui pintu masuk penembakan liar di masjid kuat diduga ada kepentingan asing di NZ? Ini yang hendak diurai.

Naik dahulu ke isu global. Tak dapat dipungkiri, memasuki Abad ke 21 ada dua isu aktual yang menggejala di dunia geopolitik. Isu dimaksud antara lain:

  1. Pergeseran geopolitik (geopolitical shift) dari Atlantik ke Asia Pasifik. Entah akibat pertumbuhan ekonomi, atau faktor konsumsi, entah karena pasar yang potensial, dan seterusnya. Yang jelas, ada geopolitical shift dan para adidaya berbondong-bondong ke Asia Pasifik. Kajian Jala Sutra ---air yang paling halus--- pergeseran tersebut merupakan ujud keseimbangan alam. Bila kemarin orang melihat Barat, wajar kini menengok ke Timur. Jika Barat adalah era ketenggelaman (matahari) sebab bergerak dari atas ke bawah, maka Timur adalah masa keterbitan (matahari), bergerak tumbuh dari bawah ke atas. Jadi cuma masalah keseimbangan belaka;
  2. Ada perubahan "power concept" dari militer ke power ekonomi. Power cöncept itu sendiri adalah politik kekuatan dalam dunia geopolitik dimana untuk memenuhi tujuan serta cita-cita dilandasi oleh power politik, militer dan power ekonomi. Agaknya tren yang berkembang kini adalah power ekonomi di depan ketimbang dua power (militer dan politik) lainnya. Maka frasa perang dagang lebih disukai daripada lobi politik dan invasi militer yang biaya tinggi serta perlu restu internasional;  
Terkait topik di muka, pertanyaannya adalah, ada apa di negeri-negeri kepulauan (polinesia) di Pasifik terkait geopolitik? 

Tak boleh dipungkiri, kawasan polinesia terutama negara-negara di Pasifik Selatan telah jatuh dalam debt trap (jebakan utang) Cina seperti Fiji, Vanuatu, Kaledonia Baru dan seterusnya. Metode debt trap ala invasi senyap Cina bermodus ekonomi melalui pembangunan infrastruktur relatif efektif terutama di lintasan One Belt One Road (OBOR) atau Jalur Sutra Abad ke 21.

Kelompok negara di lintasan OBOR termasuk negara polinesia digelontar utang dalam jumlah besar yang tak akan sanggup mereka bayar. The Sun melansir, beberapa negara yang menunggak utang dipaksa menyerahkan aset negara, harus mengizinkan Cina membuat pangkalan militer, hingga pemberlakuan mata uang Cina (Yuan) di negara tersebut, dan seterusnya. Salah satu negara di lintasan Jalur Sutra Baru adalah Sri Lanka. Ia menyerahkan pelabuhannya ke Cina dengan konsesi 99 tahun karena gagal bayar. Belum lagi Djibouti yang telah bercokol pangkalan militer Cina, ataupun Zimbabwe dan Angola yang telah memakai Yuan sebagai alat transaksi sehari-hari, dan seterusnya.


Tampaknya geliat OBOR melalui invasi senyapmya telah mengusik hegemoni Barat di Pasifik Selatan karena kelompok negara polinesia mulai "jatuh" satu persatu dalam debt trap Cina. Hanya soal waktu saja (jatuh tempo) untuk mengakuisisinya.

Dalam pola asymmetric warfare (perang asimetris), usai 'isu' ditebar ke publik, akan digulirkan 'tema atau agenda' sebagai lanjutan isu, setelah itu akan ditancapkan 'skema.' Istilahnya ITS (Isu-Tema-Skema). 

Pola yang kerap berulang, isu dan agenda bisa berubah-ubah menyesuaikan waktu dan ruang, tetapi skema hampir tak berubah sepanjang masa yakni mencaplok geoekonomi, atau frasa lainnya ialah mengamankan kepentingan nasional, atau dalam dunia geopolitik sering diistilahkan what lies beneath the surface. Apa yang terkandung di bawah permukaan.

Dari perspektif pola perang asimetris, peristiwa penembakan masjid di NZ, tatarannya hanya isu. Niscaya akan ada tema/agenda lanjutan, kemudian ditancapkan skema. Terpulang dari mens rea si pemilik hajatan. Jika isu dimaksud sebagai pola, niscaya bakal ada lanjutan agenda dan skema. Tetapi jika isu tersebut sebagai modus, maka sifatnya hanya test the water. Memancing reaksi publik. Melihat sikap, reaksi, kekuatan solidaritas dan seterusnya. 

Tuduhan Sadam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal, contohnya, itu hanya isu belaka. Pintu masuk saja. Apa agendanya? Serbuan militer koalisi pimpinan Paman Sam. Lantas, setelah agenda sukses, apa skemanya? Ternyata kavling-kavling sumur-sumur minyak di Irak. Ini hanya contoh bekerjanya pola ITS, isu-tema-skema dalam perilaku geopolitik di tingkat global.

Harus diakui, dibanding para adidaya Barat yang terlebih dahulu menancapkan hegemoni di negara-negara polinesia, bahwa agresivitas Cina di Pasifik Selatan melalui silent invasion bermodus utang infrastruktur, sungguh tidak terbendung. Jangankan negara kecil di Lautan Pasifik, bahkan negara sekelas Australia sendiri hampir kebobolan dirembes dari sisi politik, budaya, real estate, pertanian bahkan sampai ke sekolah dasar oleh silent invasion. Invasi senyap ala Cina. Seandainya Sheri Yan ---diduga mata-mata Cina---  yang ditangkap oleh FBI di New York pada Oktober 2015 masih berkeliaran, kemungkinan Australia pun bisa "jatuh" di tangan Cina, sebab target silent invasion adalah elit-elit politik dan para pengambil kebijakan di Australia.

Dan hari ini, agaknya supremasi dan hegemoni Barat di Pasifik mulai  meredup. Bukan karena geliat Cina, namun Jala Sutra mengisyaratkan, niscaya matahari akan  kembali terbit dari Timur meski ia tengah mengurai dimana titik epicentrumnya. Tentang gerak laju Cina di lintasan OBOR, agaknya mulai ada geliat perlawanan dari bangsa-bangsa pada negara dimana invasi senyap Cina beroperasi di Jalur Sutra (baru) Abad ke 21. Ini poin pokok atas kondisi geopolitik di Asia Pasifik. Lantas, siapa pemilik hajatan atau pemilik skema di baik isu penembakan jamaah masjid pada Jumat, 15 Maret 2019 di NZ? 

Ketika tulisan ini terbit, lanjutan agenda memang belum terlihat. Bacaan geopolitik masih gelap. Jika yang dimainkan adalah isu sebagai modus. Selesai sudah, karena sifatnya test the water. Tak ada kelanjutan agenda. Nah, catatan ini mengendus kondisi bahwa yang dimainkan ialah isu sebagai pola. Kendati masih gelap, ada dua kemungkinan siapa di balik isu dimaksud, antara lain:

  • Kemungkinan I adalah Barat. Apa mens rea dan motivasi Barat di belakang isu penembakan? Kharakter perilaku geopolitik ala Barat cenderung membendung gerak siapapun yang berpotensi menggerus supremasi dan hegemoni. Makanya, apapun elemen penguat hegemoni harus dijamin keamanannya. Irak misalnya, ia digempur secara militer pimpinan Amerika Serikat (AS) karena Saddam Hussen berencana mengubah alat transaksi minyak dan cadangan devisa Irak dari US Dollar ke Euro. Demikian pula Libya. Tatkala Kadhafi hendak membuat uang emas/Dirham dan mewajibkan semua piutangnya dibayar dengan Dirham seketika Libya pun dibuat luluh lantak oleh Barat. Itulah skenario "utang dibayar bom" yang pernah berlangsung di Jalur Sutra.
Dan geliat Cina di lintasan OBOR terutama kawasan Pasifik Selatan bukan hanya mengganggu  unsur-unsur supremasinya tetapi sudah menggerus hegemoni. Kenapa harus di NZ tidak di Fiji, atau bukan di Vanuatu? Sebagaimana diketahui bersama, bahwa NZ masuk dalam ANZUS, sebuah pakta pertahanan di Pasifik yang beranggotakan Australia, New Zealand dan AS. Menyentuh salah satu anggota identik menyentuh semuanya. Ada solidaritas dalam ANZUS. Maka jika "Kemungkinan I" yang tengah berlangsung, nanti akan ada pergeseran pasukan ---entah dari Darwin, atau dari Kawasan Komando di sekitarnya--- bergerak ke NZ dengan alasan keamanan kawasan. Itulah agenda lanjutan. Lantas, apa skemanya? Tak lain dan tak bukan guna membendung gerak laju Cina di Pasifik Selatan. 

Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan Kemungkinan II?

Ya, Kemungkinan II adalah Cina. Mengapa Cina, lantas apa motivasinya? Ada beberapa alasan, antara lain misalnya: 
  1. Terungkapnya Sheri Yan ---ratu sosialita Australia--- yang kuat diduga adalah agen atau mata-mata Cina. Ia ditangkap oleh agen FBI pada Oktober 2015 di New York;
  2. Ditangkapnya Weng Wanzhou, FCO Huawei oleh otoritas Kanada atas order Paman Sam;
  3. Terbit dan beredarnya buku-buku yang mengurai model "silent invasion" ala Cina yang ditulis oleh Gart Alexander dan Clive Hamilton; dan
  4. Munculnya kesadaran serta penolakan rakyat di Vietnam dan seterusnya, selain akibat tsunami TKA Cina yang merebut lapangan kerja warga lokal, juga faktor jebakan utang dengan segala konsekuensi ketika jatuh tempo. Kedaulatan negara minimal berkurang akibat akuisisi aset-aset strategis, dan seterusnya. 
Hal-hal di atas, setidak-tidaknya menginspirasi beberapa negara ingin berlepas diri dari gelombang invasi senyap Cina yang bermodus utang infrastruktur, atau ingin mengungkap siapa "sosok boneka"-nya seperti halnya kasus  di Thailand (Thaksin), atau di Australia (Sheri Yan) dan seterusnya

Tampaknya top manajemen OBOR membaca atmosfer dan fenomena ini. Adakah operasi senyap telah bocor? Entahlah. Tetapi setidaknya sudah tercium muncul kesadaran bangsa-bangsa di Jalur Sutra Baru di satu sisi, sedang anak panah OBOR telah dilepas dari busurnya pada sisi lain. Selain sulit untuk ditarik kembali, OBOR tak bisa ditarik kembali. Artinya, tak mungkin OBOR dihentikan, namun kesadaran publik yang harus segera digerus atau dialihkan agar tidak mengendala bagi kelanjutan program di kemudian hari. Memang terbaca meski samar, usai AS meninggalkan ruang konflik di Suriah, isu ISIS pun hambar. Kurang laku. Publik global perlu "permainan baru" agar kesadaran yang muncul kembali (tergerus) teralihkan.


All warfare is deception, kata Sun Tzu, semua peperangan adalah tipuan. Butuh strategi dan taktik 'mengecoh langit menyeberangi lautan'. Persepsi dan logika publik perlu dikocok-kocok kembali. Contohnya, bila opini publik selama ini tergiring pada stigma bahwa terorisme identik dengan Islam (radikal), maka isu di NZ telah menimbulkan ruang diskusi baru, isu-isu baru, dialog dan asumsi-asumsi baru. Seperti isu bangkitnya supremasi ras putih, misalnya, atau dialog sentimen perang salib, radikalisme agama dan ras semodel Ku Klux Klan, dan seterusnya. Kondisi semacam ini justru diharapkan oleh Cina terus menggelombang (snowball process). Sekali lagi, opini dan persepsi publik kembali diaduk-aduk, dikocok-kocok. Pelaku teror dipilih ras kulit putih (nonmainstream) menyerang jamaah masjid, ini merupakan kontra isu atas kelaziman subjek dan objek terorisme selama ini yakni "muslim menyerang gereja".


Sampailah pada ujung catatan ini. Meski masih prematur namun dapat dijadikan simpul awal melihat kasus di NZ, yaitu: 


Pertama, bila yang berlangsung adalah Kemungkinan I, niscaya agenda lanjutan usai isu ditebar adalah pergeseran pasukan ke NZ dengan skema kuno: "Membendung gerak laju Cina" di Pasifik Selatan; dan

Kedua, bila yang berlangsung adalah Kemungkinan II, maka agenda lanjutan ialah deception atau penyesatan, pengalihan secara terus menerus, dan seterusnyasedang skemanya adalah: "OBOR berjalan sesuai tahapan".  

Barangkali, inilah bacaan sementara geopolitik atas isu penembakan di NZ. Kendati sentimen ras dan agama itu hidup serta berkembang di publik global, namun isu sentimen tidak menjadi bahasan utama, karena selain untuk menghindari trap geostrategi ala Barat yang selama ini bermain-main di ranah persepsi publik, juga bahasan sentimen nantinya malah bisa menyulut kegaduhan baru berbasis persepsi yang justru menjauhkan dari akurasi kajian.

Apa boleh buat. Tulisan ini cuma analisa, bukan text book. Artinya masih akan muncul kemungkinan-kemungkinan lain selain Kemungkinan I dan II di atas. Dan penulis sangat menyadari keterbatasan fakta, data serta informasi yang berkembang terutama keterbatasan kemampuan serta wawasan, sehingga analisa ini belumlah final. Karena minimnya data, analisa ini hanya berpijak pada pola-pola yang kerap terjadi di panggung geopolitik global.

Dan sesungguhnya kebenaran apapun sifatnya cuma nisbi, relatif dan bergerak sesuai tuntutan zaman. Tesis akan memunculkan antitesis, dan antitesis membidani sintesis dan seterusnya. Tak ada maksud menggurui siapapun terutama pihak-pihak yang berkompeten dibidangnya. Hanya sharing pemikiran tentang apa yang telah terjadi berbasis kredo geopolitik guna mendekati kebenaran sejati, yakni kebenaran-Nya.


Terima kasih.

*) Peneliti Global Institute
Sumber Gsmbar : https://meic.cfainstitute.org

27/02/19

WE, ROCKY GERUNG AND MIDDLE FINGER

Syamsu Alam *)

Pertentangan atau konflik umumnya terjadi disebabkan adanya konsepsi yang menyejarah dalam pikiran kita. Atau pengetahuan masa lalu kitalah yang kerap membuat kita berselisih dengan orang lain. Konsepsi memengaruhi persepsi yang digunakan untuk mengekspresikan tindakan kita, termasuk merespon fenomena.

Respon atas fenomena itulah yang menyebabkan konflik. Kenapa? Karena ada pengetahuan masa lalu yang berbeda dan cenderung dipaksakan. Klaim akalkulah yang sehat, dan yang lain dungu, adalah jenis kedunguan yang sudah lama ada dalam masyarakat yang miskin tradisi literasi. Klaim kelompokku benar, dan kamu salah. Klaim-klaim yang justeru mencederai akal sehat. Apa legitimasi akal sehat? Apakah si Rocky Gerung (RG) yang?

Tidak sesederhana itu, Ferguso.

Mari kita cek ada apa di balik fenomena RG dan middle finger.

Jika ada seseorang mengacungkan middle finger (jari tengah) ke kita, mungkin kita akan merespon dengan emosional. Marah, ngakak, atau balik membalas dengan jari tengah. Kenapa? Karena kita mempunyai pengetahuan sebelumnya tentang jari tengah. Yang bisa diperoleh dari film-film, bacaan, atau dari film spesifik XXX. Ekspresi kita, sekali lagi sangat dipengaruhi oleh konsepsi di kepala kita masing-masing.

Yang berbahaya jika kita terpenjara dalam pengetahuan sebelum tersebut. Dan apakah kita harus marah secara berlebihan? Tergantung jam terbang kita menghadapi ekspresi orang atas diri kita. Jika kita marah mungkin yang kita ketahui tentang jari tengah adalah fuck padahal itu hanya sepenggal arti darinya. Masih banyak makna lain darinya.

Kakek-kakek, nenek-nenek atau siapa pun yang tidak mempunyai pengetahuan sebelumnya tentang middle finger akan bersikap biasa-biasa saja. Ia tidak akan merespon dengan emosional (marah). Dia mungkin akan senyum-senyum saja. Atau bertanya tentang artinya.

Memang benar, kata seperti senjata, bisa membunuh atau bisa menghidupkan. Bisa positif bisa negatif. Dan Kamus, kata Prof. Wim,  tidak bisa menyelesaikan perselisihan arti kata-kata. Menurutku, kamus hanyalah kumpulan arti-arti kata yang subjektif dan bersifat lokalitas (keilmuan, daerah, suku, bangsa, dinasti).

Lalu, apa hubungannya RG dengan jari tengah. Apakah kita akan memberikan predikat middle finger kepadanya. Sekali lagi, tergantung jam terbang menghadapi kenakalan berpikir seseorang. Saya melihat beragam ekspresi muncul di media atas ulah Om RG. Dari yang cacian yang soft sampai yang hard. Dari yang sebelumnya membenci filsafat bahkan mengharamkannya tiba-tiba gemar dan nge-fans dengan orang yang seolah-olah filosof. Entah karena pandangan politik atau apalah.

RG mengingatkan kita pada banyak hal, di antaranya yang berkesan adalah tentang Hoaks. Baginya, Pemerintah adalah pembuat Hoaks paling hebat. Dalam banyak hal dan peristiwa i agree with you, bro. Tetapi tidak dalam hal yang lain. Bahkan banyak hal. Sebut saja di antaranya, saya susah menemukan filosof zaman dulu yang akrab dengan pikiran-pikran seolah-olah  nakal sekaligus piawai mengumbar kata-kata ‘kedunguan’. Bahkan di publik dengan terang menderang menyebut presiden dungu, dst.

RG, middle finger sama dengan konsep Nabi. Kita memiliki konsepsi tentang nabi. Saya pernah disarankan untuk ‘kembali ke jalan yang lurus’ hanya karena membagikan bacaan, tentang Sokrates adalah Nabi. Kenapa bisa begitu, padahal itu hanya bacaan. Boleh jadi karena pengetahuan sejarahnya tentang Nabi dilokalisasi dalam domain ‘Nabi dan Rasul Islam’ yang 25. Padahal ada riwayat menyebutkan ada sekitar 124.000 Nabi. Pemaknaan atas kata-katalah kerap membuat kita bermusuhan, bertikai hingga perang. Kata-kata ‘dimanakan’ misalnya, dalam terminologi orde baru maknanya bisa ‘horor’.

Oleh karena itu sebelum terlalu dalam menghakimi Om RG, mari kita renungkan sosok Om RG.

Saya teringat suatu pesan mulia, bahwa jika Anda menuduh orang sesat, kafir tetapi ia tidak sesat, kafir maka tuduhan itu sesunghuhnya berbalik pada dirinya sendiri. Boleh jadi ia yang sering menuduh  orang lain dungu mungkinkah akan berbalik pada dirinya sendiri. Wallahu a’lam bissawwab. Kehadiran RG ke ruang publik atas branding media, mengingatkan kita pada kaum Sofis, pada zaman Socrates. Mari kita simak sekilas tentang kaum Sofis.

K.Bertens (1999) mengemukakan bahwa Sofis (sophistes) tidak dipergunakan sebelum abad ke-5 SM. Arti yang tertua adalah “seorang yang bijaksana” atau “seorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu”.  Herodotos memakai nama sophistes untuk Pythagoras. Pengarang Yunani yang bernama Androtion (abad ke-4 SM) menggunakan nama ini untuk menunjukkan “ketujuh orang bijaksana” dari abad ke-6 SM dan Sokrates.

Lysias, ahli pidato Yunani yang hidup sekitar permulaan abad ke-4 memakai nama ini untuk Plato. Tetapi dalam abad ke-4 SM nama philosophos menjadi nama yang biasanya dipakai dalam arti sarjana atau cendikiawan, sedangkan nama sophistes khusus dipakai untuk guru-guru yang berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peranan penting dalam masyarakat Yunani sekitar paruh kedua abad ke-5. Di sini kita juga menghunakan kata Sofis dalam arti terakhir ini.

Pada kemudian hari nama Sofis tentu tidak harum. Akibatnya masih terlihat dalam bahasa-bahasa modern. Dalam bahasa Inggris misalnya kata sophist menunjukkan seseorang yang menipu orang lain dengan mempergunakan argumentasi-argumentasi yang tidak sah. Cara berargumentasi yang dibuat dengan maksud itu dalam bahasa Inggris disebut sophism atau sophistery. Terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan kritiknya pada kaum Sofis menyebabkan nama Sofis berbau jelek.

Salah satu tuduhan adalah bahwapara Sofis meminta uang untuk pengajaran yang mereka berikan. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para Sofis merupakan “pemilik warung yang menjual barang rohani”. Aristoteles mengarang buku yang berjudul Sophistikoi Elenchoi (cara-cara berargumentasi kaum Sofis); maksudnya, cara berargumentasi yang tidak sah. Demikian para Sofis memeroleh nama jelek.

Kaum Sofis juga dikenal kerap menebarkan keraguan pada khalayak tanpa memberikan keteguhan keyakinan. Ia menafikan hampir segala hal, namun tiada penetapan kebenaran. Maka makin menyatalah, kegaduhan di mana-mana. Sebahagian besar orang agar meragukan banyak hal, celakanya lagi jika tiada standar kebenaran yang diyakini. Hal mana akan menggiring kita pada nihilisme.

Menurutku, nihilisme (meragukan segala hal, tanpa satu tujuan) hanyalah titik awal menuju keyakinan, sebagaimana yang diikrarkan oleh kaum Muslim. Lailaha, Tiada Tuhan, Illallah Kecuali Allah. Kata pertama adalah pengingkaran segala hal, setelahnya harus ada penetapan (tasdiq) keyakinan. Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan adalah contoh yang paling tepat untuk hal pengangkaran-penetapan keyakinan.

Semestinya, fenomena RG ditanggapi seadanya saja. Orang-orang yang mencibirnya berlebihan, tak ada bedanya dengan kaum fanatiknya yang mengelu-elulannya dengan takbir. Bagi saya, hadirnya RG hanyalah fenomena standar yang mengajarkan keraguan-raguan untuk senantiasa memperbaharui keyakinan dan kebiasaan. Menurut Muthahhari, keragu-raguan adalah tahap awal menuju keyakinan.

Namun, jangan berlama-lama sampai menetap pada keragu-raguan tersebut. Bahkan, sejatinya kita senantiasa memperbaharui keyakinan-keyakinan, kebiasaan-kebiasaan kita. Karena sabda Sokrates mengingatkan bahwa hidup yang tidak pernah dikritisi atau (dipertanyakan/diragukan) adalah hidup yang tak layak dihidupi.

Namun perlu diingat bahwa hadirnya RG tak seindah kisah Sokrates atau pun Syekh Siti Jenar yang menjadi tumbal penguasa zalim. Karena mempertahankan keyakinan akan keesaan Tuhan. Adakah RG mengajarkan hal itu, sejauh ini, belum. Ia baru sampai pada tahap awal keragu-raguaan. Dan jika kukuh diposisi itu, hakkul yaqin pada kegenitan intelektual, mengobrak-abrik apa pun yang ia hadapi, itulah senyata-nyatanya kedunguan. Wallahau a’lam Bisshawwab.

Esai ini pernah dimuat di Kalaliterasi.com
*) Pegiat di Praxis Community

09/10/17

Panduan Menulis Esai dengan Mudah

Menulis adalah cara untuk mengabadikan diri.
Menulis sebagai puncak kecemerlangan pikiran seseorang.
Menulis adalah aktivitas intelektual tertinggi.

Menulis sebagai upaya membangun peradaban.  Menulis terasa berat karena melibatkan hampir semua potensi manusia. Potensi pertama yaitu kemampuan melihat, mengamati, dan merasakan fakta-fakta empiris (Indera). Kedua, kamampuan menalar untuk menghubungkan sejumlah fakta-fakta dan ide-ide yang dimiliki penulis. Entah ide tersebut berasal dari hasil bacaan atau diskusi dengan orang lain. dan potensi terakhir adalah hati atau bisikan qalbu.

Penulis handal yang mampu mengalirkan tulisannya hingga menggerakkan para pembacanya adalah kombinasi dari ketiga potensi manusia tersebut.

Berikut adalah peta pikiran (mind map) apa dan bagaimana itu esai. Semoga peta pikiran berikut dapat memotivasi para pembaca untuk lebih giat menulis. Menulis sebagai salah satu tradisi Literasi. Karena Literasi adalah salah satu upaya melawan Hoax.


Inilah esai Mind Map.pdf

Mohon maaf ini bukan panduan teknis tahap demi tahap. Kemudahan menulis karena bahan bakarnya ada pada setiap individu yang mempunyai ketiga potensi di atas. Pada setiap esai selalu memuat pengantar, isi, dan kesimpulan. Keterampilan dan kepiawaian merangkai kata akan lahir dengan sendirinya seiring dengan makin banyaknya 'jam terbang'. Intinya menulislah.....

Chart di atas memang terkesan ribet, beberapa istilah diantaranya butuh penjelasan. Peta pikiran di atas adalah presentase di dua kelas di kampus UNM Makassar. Pertama di kelas Literasi BEM UNM, kedua di Kelompok Studi 'Praxis'. Dari hasil diskusi kedua kelompok ini, ada kesamaan pandangan diantara audiens. Mereka mengatakan lebih termotivasi dan lebih mudah memahami tentang esai dengan peta pikiran di atas.

Pada kedua forum diskusi di atas sebagai upaya berbagi cerita dan pengalaman tentang menulis. Salah satu trik sederhana adalah, IKATLAH IDE KAPAN DAN DIMANAPUN IA MUNCUL. Kadang-kadang saat 'EE' atau mengendarai kendaraan, tiba-tiba muncul ide, maka disarankan untuk segera mengikatnya dengan MENULISKANNYA. Karena ketika saat-saat itu dilewati atau menundanya, maka bisa dipastikan ide itu akan berlalu bak dan sekedar melintasi pikiran kita.

Sekali lagi mohon maaf, ini bukan panduan tahap demi tahap sebagaimana membuat mie instan, ini sekadar motivasi untuk diri sendiri, dan jika ada yang berkenan menginternalisasi ke dalam dirinya silakan. Keep It Simple and Sob (KISS).

Sumber bacaan: Inilah esai, Muhiddin M Dahlan. Radioboekoe

#Mind map  #Menulis Esai  #Esai

09/07/17

ADA APA DENGAN ISTILAH "PARENTA" KANDA?

ADA APA DENGAN ISTILAH "PARENTA" KANDA?
Seminggu terakhir, tepatnya usai lebaran 25 Juni 2017. Kosakata "parenta" seperti virus  yang menggejala di kepalaku, bahkan sebagian besar pikiran 'kaum muda". Setidaknya 5 orang yang saya say hei.. dalam rentang tersebut, mereka membalas sapaan yang memuat kosakata ada 'PARENTA (Perintah)', siaaap menunggu "PARENTA". Rentangan usia teman saya itu berkisar 25-30an tahun lebih 😃. Masa ranum-ranumnya, masa aggresifnya, mestinya.

Saya pun kadang imut-imutan, amit-amitan dan ikut-ikutan menjadikannya lelucon menggunakan istilah tersebut. Meskipun tanggapan saya pada kelima teman tersebut berseberangan dengannya. Saya hanya tanya kabar ko', ada yg balas ADA PARENTA. Spontan sy jawab sejak kapan ko sy pernah perintah. Ujar saya pada kawan lama yang pernah tidur se-sofa di PKM kampus UNM Parang Tambung. Entah alam sadar atau alam bawah sadar yang memengaruhi pita suaranya atau jempolnya untuk mengeluarkan ekspresi spontan "PARENTA".

Menurut hemat saya, tidak susah untuk menelisik memvirusnya istilah tersebut. Saya sepakat dengan teman saya Jalaluddin Rumi Prasad, apakah benar kita yang menggunakan facebook (jejaring sosial lainnya) atau kah mereka yang telah berhasil memanfaatkan kita? Pertanyaan filosofis yang ringan, tapi susah dijawab dengan jawaban yang menyehatkan pikiran. Karena faktanya setiap sistem pasti dibangun dengan algoritma. Inilah salah satu sumbangan terbesar Al khawarizmi, lidah orang barat memplesetkannya jadi algorithm. Apakah istilah 'parenta' adalah sebuah bangunan kesadaran atau alam bawah sadar kolektif yang telah menginvasi pikiran-pikiran kita.

Well, istilah tersebut sudah pasti lahir dari suatu sistem komunikasi pada suatu komunitas tertentu. Biasanya pada komunitas yang sangat hirarkis-lah yang sangat akrab dengan kosakata "perintah". Institusi militer, bahasa mesin (pemrograman) dll. Intinya mempertegas adanya relasi kuasa dan menguasai. Bagi Foucalt, kontrol kekuasaan berdasarkan pada kuasa wacana atau kuasa pengetahuan. Tidak jauh berbeda dengan Filosof Francis Bacon Knowledge is Power. Lewat pengetahuan kekuasaan dapat menyebar dengan cepat pada setiap tingkatan. Siapa yang menguasai wacana dialah yg sesungguhnya berkuasa.

Mari kita cek, kira-kira siapa-siapa dan pada komunitas apa yang amat akrab dengan kosakata 'Parenta'. Sedekat pemantauan saya, istilah tersebut populer dilantunkan oleh antek2 kekuasaan lapis kedua-lapis paling bawah. Ring satu tim sukses sampai tukang pasang spanduk dan baliho para kandidat-kandidat penguasa.Yaa istilah ini populer pada segerombolan tim sukses bakal calon kandidat. Ini subjektivitas saya, suatu istilah yang diadaptasi dari model kekuasaan yang cenderung absolut, dan tentulah kita hampir sepakat penuh pada Lord Acton, Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut sudah pasti korup. Saya sepakat 100 persen dengan Lord.

Menurut hemat saya, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Fenomena latah meniru tanpa koreksi terhadap hal apapun termasuk 'kosakata' sekalipun adalah wujud betapa tidak kreatif dan progresifnya kita. Otak kita seolah didesain seperti mengikuti perintah algoritma facebook untuk membagikan apa yang kita pikirkan. Berdasar pada kecenderungan2 itulah orang cenderung diberikan sugesti pertemanan yang kira2 hampir sama dengan kecenderungan kita, selaku user. Maka apa jadinya kalau hampir semua teman kita adalah se-ide, se-kosakata, se-iya dan se-tidak. Dunia kita pasti akan sempit. Itu itu tonji dibicarakan, itu-itu saja yang di bahas. Akibat lebih jauh kita amat gampang tersulut emosi , terbawa perasaan. Oleh karena sebuah sistem telah berhasil menyempitkan cara pandang kita. Media sosial yang semestinya meluaskan cara pandang tapi terperangkap dalam sumur paling dalam kesempitan "PARENTA KANDA".

JADI, amat sangat wajar jika konflik, mobilisasi, dan memobilisasi konflik dan kerusuhan begitu mudah kita jumpai. Lihatlah konflik2 di sekitar kita berada, di sekolah, di kampus, di kantor, di pangkalan ojek, di tempat hiburan, di pusat keramaian. Senggol sedikit 'Bacot'. Berbeda sedikit 'musuh' ' bunuh' dan seterusnya. Mental kita sudah hampir terpola pada kanal-kanal yang sempit, yang kadang lebih rendah dari otak reptil. Otak reptil, ibarat oposisi biner, reptil yang kagetan hanya punya dua pilihan, menyerang atau kabur.

Sehingga apa yang terjadi, kita lebih sibuk membicara orang, calon, kandidat (1), membicarakan peristiwa-peristiwa (2), dan membicarakan ide-ide besar (3). Kalimat penutup di atas saya adaptasi dari Eleanor Rosevelt. Poin 1,2, 3 adalah hirarki kekuatan berpikir kita. Kualitas berpikir yang paling tinggi, tentu membicarakan ketiganya sekaligus. Membicarakan orangnya, peristiwa, plus ide-ide besar yang dibangunnya. Dan menunggu perintah boleh jadi ada pada poin (-9). 
Wallahu A'lam Bissawab.

#Salam, dari lubuk hati Alam yang paling dalam, yang masih belajar untuk tidak ma'parenta'.
Syamsu Alam.

20/02/17

AROMA EMPIRISME PARA PEMBELA AJARAN (T)UHAN



Berselancar di media sosial, setidaknya memberikan beberapa manfaat. Diantaranya dapat bersilaturrahmi dengan teman lama dan berbagi cerita suka dan derita dengan daftar teman. Selain itu dapat melatih kesabaran menahan diri, tetap hening dan terjaga dalam keriuhan "Bom Informasi". Manfaat lebih jauh dapat menggambarkan REFERENSI, PREFERENSI, dan INTERPRETASI yang diikuti (dipilih) oleh seseorang.

Tulisan ini adalah refleksi diri dan teman-teman yang di ruang-ruang komentarnya dijejali dengan aroma-aroma interogasi. Interogasi atas status dan tweet yang berujung pada pemaksaan kesepahaman serta pilihan keyakinan si interogator. Mereka seperti pasukan pemusnah, yang bisa datang kapan saja di status-status atau postingan kita. Tiba-tiba datang dengan secuil referensi di otak kanan dan kirinya serta  kosakata yang sangat terbatas di tangannya.

Si interogator memburu dengan pertanyaan-ertanyaan yang kadang OUT OF CONTEXT. Kalaupun dalam konteks variasinya tidak banyak, tidak menantang dan prematur. Kesannya pun cenderung memaksakan pemahamannya. Isu minoritas kaum Syiah, pendukung Ahok yang dilabeli kafir, hingga tokoh-tokoh ulama sekaliber Prof. Qurais Shihab pun tak luput dari cercaan "Liberal" dan "Syiah". Saya jadi ingat ungkapan satire. Apakah ketika kita memegang palu semua tampak seperti paku? Si interogator sudah tidak bisa membedakan sekadar "have fun" dengan komentar-komentar, diskusi ringan, bahkan penghormatan pada yang lebih tua: kakak, bapak tidak dibaikan. Upaya untuk saling memahami perbedaan seolah ditutup dengan kebencian. Oleh karena kebenciannya itu saya curiga, jangan-jangan mereka sudah seperti si pemegang palu itu.

Inilah era BANALITAS informasi. Yaa sekadar informasi yang liar hingga tak terkontrol, fasenya seperti fase kapitalisme lanjut, yang bercirikan tua renta tapi liar. Padahal di atas tahap informasi masih ada dua tingkatan, yaitu pengetahuan dan kebijaksanaan. Atas semua data dan  informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dan perspektif yang beragam, kemudian diolah menjadi PENGETAHUAN. Artinya dalam pengetahuan, ada proses BERPIKIR. Contoh, dulu ketika masih kuliah S1 dengan doktrin-doktrin gereja ortodoks yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan...OOPS Sorry, salah. Maksud saya, Doktrin-doktrin lembaga dakwah kampus (Sebagai derivasi dari induknya- Wahabisme) dengan ciri khas yang nyentrik: panggilan antum/akhi, celana khas puntung, rutin hafal hadis dst, doyan menyesatkan dan mengkafirkan. Sy meyakini dengan haqqul yaqien, siapapun di luar Islam, Kafir. Hingga pada suatu ketika saya membaca buku, yang membahas tentang Kafir dengan persfektif yang beda dengan definisi kafir di atas. Ringkasnya seperti berikut yang sadur dari tulisan kanda Kama. Kafir dalam terminologi adalah menolak, mengingkari, mengingkari kenyataan, kebenaran, kebaikan dll. Seirama dengan hal tersebut, dari makna terminologi ini para ulama membagi kafir menjadi dua. Kafir hakiki dan kafir fikhih. Kafir hakiki hampir sama (klo tidak persis) dgn makna terminologi: tapi kafir fikhih adalah kafir menurut pandangan kaum Islam yg mengatakan yg tidak mengucapkan syahadatain, dalam artian bahwa siapapun yg tidak mengucapkan syahadatain, maka ia kafir. pertanyaannya: apakah Islam hanya sekedar mengucapkan syahadatain lalu melakukan apa saja yg ia inginkan untuk menolak org yg mungkin dia tdk kafir secara hakiki. Berdasar pada berbagai REFERENSI itu,  saya mendapat tambahan pengetahuan, yang berdampak pada cara pamdang terhadap orang di luar apa yang saya yakini selama ini. 

Tahapan selanjutnya setelah data dan informasi diolah dan menghasilkan pengetahuan baru adalah KEBIJAKSANAAN. Bijak menghadapi orang yang beda keyakinan, beda pacar, beda istri, beda suami, baju, makanan, status sosial, tingkat pendidikan dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata yang Tuhan hamparkan di seantero semesta, tentang betapa perbedaan nyata adanya.

Pada dasarnya perbedaan ada karena tiga hal. Yaitu, Referensi, Preferensi, dan Interpretasi (Tafsiran). Prinsip Logika mengajarkan. TIDAK ADA  SESUATU YANG SAMA SELAIN SESUATU ITU SENDIRI. X hanya sama dengan X. Lalu, mengapa kalian (penebar kebencian) harus mengenterogasi siapapun yang berbeda dengan pilihan, dan cenderung memaksakan pemahaman. Dan jika berbeda, atribut 'Sesat" 'Liberal" Syiah" adalah kata kunci penutup diskusi (debat).

Teks pertama Al Quran, IQRA (arti BACALAH),  cara pandang terhadap TEKS 'BACALAH' setiap orang pasti berbeda. Tafsir tergantung Referensi dan Preferensi (Kecenderungan). Kalau kecenderungan kita sekadar membaca dengan indera (mata, telinga, peraba) semata, maka ayat itu ditafsitkan secara inderawi. Tetapi kalau membaca berdasarkan potensi yang dimiliki manusia maka tingkatannya tentu bukan hanya indera, tapi dengan akal, dan hati. 

Membaca dengan  akal, berarti proses berpikir atas tanda-tanda baca yang Tuhan titipkan di alam raya. Ayat tertulis dan tercipta. Perbedaan hadir sudah tentu sebagai pelajaran bagi manusia, bagi yang mau belajar dan mengambil hikmah atas hal tersebut. Penemuan teori gravitasi, penemuan Archimedes, dan sejumlah penemuan-penemuan lainnya yang telah bermanfaat bagai semua umat manusia. Meskipun sejarah mengajarkan, kadang ilmuan berseteru dengan kaum agamawan. Dan, Einstein, memformulasi agama dan sains dengan sangat apik lewat ungkapan. "Agama tanpa ilmu buta, Ilmu tanpa agam lumpu". Sehingga, semestinyalah rasionalitas bersenyawa dengan doktrin agama.

Kekuatan mengolah hati, melakukan perenungan dan kontemplasi atas seluruh gerak sebab akibat alam semesta. Kemampuan mengasah hati dengan praktik-praktik spiritual, telah melahirkan banyak ajaran-ajaran 'kearifan".  Banyak hal yang terjadi di luar jangkauan nalar dan indera, dan hanya penyerahan pada yang Kuasa yang dapat menenangkan diri. Inilah, pertautan potensi manusia yang semestinya sling menguatkan indera-akal-hati, bukan saling mematikan. Sebagaimana para penganut Empirisme yang menolak gagasan-gagasan kaum Rasionalisme, terlebih pada pengetahuan yang bersifat non-inderawi.

Mereka (para interogator) biasanya membenci logika dan filsafat. Meskipun tak sadar mereka menerapkan prinsip-prinsip keduanya. Atas semua hal yang saya lihat, pikir atas perilaku kelompok-kelompok yang sering digelari "Takfiri" ini menyerupai kaum Emipirisme dalam beragama.  Mereka yang tekstual dan abai dengan konteks, mereka sibuk mempercantik fitur-fitur diri yang nampak secara inderawi (materi), pakaian, jidat, hafalan quran dan hadis. Lihai mengenakan aksesoris fikh lainnya dan mengabaikan dimensi ruh (spiritual). Dimensi immateri akan mewujud dalam bentuk perilaku seperti kebijaksanaan, kearifan dan cinta kasih selaku sesama makhluk ciptaan TYME, hatta termasuk yang beda dengan kita.


#Ditulis setelah diinterogasi oleh seorang bocah mahasiswa Al Birr Makassar dan teman FB tentang kekafiran di Indonesia. Maaf pada  'bocah' puber pembela (T)UHAN itu sy block untuk menjaga kewarasan saya.
 

22/07/16

Sarjana Gelondongan


Pengumuman SBMPTN baru-baru ini, membawa dua cerita. Bahagia bagi yang lulus dan kecewa bagi yang tidak ada nomor testnya dalam pengumuman lulus. Dibahagian yang lain tentu ada prosesi 'sakral' bagi mahasiswa lama. Ingin sarjana. Proses menjadi sarjana adalah jalan terjal, licin dan penuh intrik. :)

Singkat cerita apa dan bagaimana pun prosesnya. KNOWLEDGE IS POWER harus jadi tumpuan utamà. Beberapa bulan lalu ramai tentang bersih-bersih DIKTI atas kampus-kampus yang penuh intrik, dan cara-cara culas dalam mengelola kampus. Hasilnya ratusan program studi, bahkan kampus DEXIT (DiktiExit) :)

Kita merindukan kampus-kampus yang tidak hanya melahirkan Sarjana Gelondongan, sarjana yang karbitan, sarjana roti kata Iwan Fals. Sarjana yang  tidak bisa bersaing dalam kontestasi MEA (yang lagi in :)) bahkan untuk survive dalam hutan rimba rayuan konsumerisme dan gaya hidup STEPA (Selera Tinggi Ekonomi Pacce/susah disangsikan. 

Lebih intim sebenarnya, saya merindukan sarjana yang menghargai hidup dan kehidupan. Menikmati perihnya belajar, disiplin, dan argumentasi yang nakal. Sarjana yang masa mahasiswanya menghargai proses dialektika kampus. Menjunjung tinggi semangat berpengetahuan, bahwa dalam proses berpengetahuan pasti ada berkah. Ini aksioma yang saya yakini. 

Kenapa aksioma, karena pesan utama dan paling utama Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, adalah BACALAH. Sebuah pesan revolusioner, dengan menggelutinya hidup manusia pasti mulia.
Sarjana dalam pandangan masyarakat kebanyakan, adalah entitas yang dianggap serba bisa dan peluang kemapanan. Sebuah beban yang begitu berat. Dekade akhir-akhir ini, amat mudah menjadi sarjana, bahkan master bla....bala.. pun begitu gampang. Bisa berbekal kedekatan dengan yayasan/kampus, atau pun cukup merogoh kantong lebih dalam, siap-siaplah jadi sarjana.
Saya kadang heran kenapa, kata2 sarjana begitu digandrungi. Bahkan dengan cara apapun, ada saja yang rela menempuh segala macam cara. Huuh. Sekian dulu curhatnya.....
We need a Human not Machine.

15/07/16

'Kegilaan' Fans Bola

Sepakbola benar-benar sudah menjadi ritual, bahkan menyerupai agama. Ada kiblatnya, ritualnya, penggemar fanatik, tempat ibadahnya sendiri dan seterusnya. Sepakbola bisa disorot dari berbagai sudut pandang, ada yang melihat dari sisi ekonomi, politik, manajemen, humor, dan lain-lain. Bisa juga sekedar sebagai alat satir dan lain-lain, namun yang pasti, ia adalah bisnis dalam bidang olahraga. Berikut hanyalah catatan sekilas, spontanitas, sesaat setelah menyaksikan PIALA EURO, lebih tepatnya kemenangan Jerman, dan memastikan diri lolos ke Semifinal. Kenapa Jerman, saya suka aja, no reason :P

Cerahkanlah pikiran dan matanya  bagi fans yang 'Summun' 'Bukmun' 'Umyun' (buta mata, telainga) terhadap pemain klubnya.  Tim bola itu kolektif,  ada supporter, pemain,  pelatih (fisik dan psikis),  tukang masak2, satpam,  sopir,  dll, istri dan anaknya,   bukan hanya seorang pemain  yang hanya main di Klub kesayanganmu.  Atau kekelahan tim yang kalian ngga suka,  entah karena musuh bebuyutannya di liga yang sama.  Tim Negara yang kalah disebabkan oleh pemain di klub liga yang kalian benci. Contoh,  kemenangan Jerman dinilai karena ada pemain madrid (Kross). Kekalahan Belgia misalnya,  kau salahkan karena ada Hazard yang main di Chelsea.  Sy pikir ini ketololan yang luar biasa,  yang bisa saja berdampak pada cara pandangmu terhadap apapun,  boleh jadi terhadap paham,  teori,  dll.   Ini adalah sejenis TERORISME fans bola.  Haha lebay...

Jujur,  paling jengkel sama penonton yang beginian,  cerewet,  sok ta,  dan apapun hasil pertandingannya selalu saja ada pembenaran atas kehebatan TIM yang didukungnya. Seperti mahasiswa yang tidak pernah kehabisan alasan,  meskipun dia tahu alasannya itu ngawur,  wur.  Sadar ko,  kau cuma penonton,  yang bersorak di depan layar kaca pula.  Kalian hanya bagian dari hiruk pikuk industri bola. Ingat itu,  industri bola.

Tapi,  sebagai industri,  untung rugi pasti pertimbangan yang utama. Meski demikian,  selaku pemain futsal yang tidak pernah ikut turnamen bergengsi kecuali porseni jurusan. Pernahlah,  mencatatkan nama sebagai top skorer 😀 "mode sombong". Nah,  sebagai penonton keterlibatan emosional perlu,  supaya sorak makin seru,  tapi ngga mesti buta mata,  hati dan pikiran keleesss. Apapun adalah pemain tim lo di liga yang selalu handal. Jangan lupa EVERYTHING IS CONNECTED,  ini bukan nokia tapi pesan utama AVATAR AANG. Yang gundul,  segundul harapan saya agar tim-tim yang yang megandal PARKING BUS digundul pula oleh tim yang bisa menghibur kami sebagai penonton. Attack, spartan, maskulin  meski harus sesekali feminim di lapangan.  Itu, coy.

Intinya,  santaimako deeh.  Kalah ya terima,  seperti kebesaran hati Buffon menyalami pemain-pemain Jerman. Dan selamat buat Tim yang senang dengan strategi "MENYERANG" karena MENYERANG ADALAH STRATEGI BERTAHAN YANG PALING BAGUS (Arsene Wenger). 

Selamat Buat all supporting TIM JERMAN,  boleh jadi juga kontribusi hitler di alam kubur,  atau Anda para penonton yang dalam hati kecilnya terbesit haralan semoga Jerman menang kodong.  Nah,  itu.  Selamat menikmati tontonan selanjutnya,  penonton yang baik adalah yang sorakannya besar,  meriah dan membuat iri penonton lain.  Yaa emosi massa yang liar,  binal,  dan kadang tak terkontrol.  Tapi pembaca yang budiman,  tetaplah terkontrol sejauh yang Anda bisa.

@alamyin. 27 Rumallang 2016. at BoGoR

04/05/16

KENAPA SEKOLAH/KULIAH MEMBOSANKAN?

Sebuah catatan harian HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2016

Kita mungkin sekolah (=kuliah), tapi tidak semua orang yang sekolah mampu mengenyam pendidikan. Kenapa? Cara pandang terhadap anak sebagai kertas putih (tabula rasa) boleh jadi adalah salah satu penyebabnya. Bagi Ki Hadjar Dewantara, anak-anak kita seperti biji. Tugas kita, menumbuhkan biji. Akarnya tidak terlihat. batang, daun, juga tak nampak. Tapi, kalau diberi kesempatan tumbuh, akan jadi tanaman yang indah. Cara pandang terhadap [institusi] sekolah sebagai sarana mendisiplinkan peserta didik, bahkan mengontrol dan menyeragamkan pikiran dan pemikiran.

Proses Belajar Mengajar (PBM) yang FUN adalah salah satu jalan menumbuhkan tanaman yang indah. Kondisi Fun adalah zona alfa bagi Otak. Kondisi alfa adalah tahap paling iluminasi (cemerlang) proses kreatif seseorang. Kondisi ini dikatakan sebagai kondisi paling baik untuk belajar. PBM umumnya memposisikan peserta didik layaknya OTAK REPTIL. Karakteristik reptil hanya dua, menyerang atau lari. Cara berpikir dan bertindak reward dan punishment adalah wujud nyata dari prakttik otak reptil. Siswa hanya akan giat belajar dan 'bersaing' jika diiming-iming nilai, atau diancam tidak lulus, dan lain sebagainya. Sebagaimana perilaku guru/dosen yang semangat mengikuti kegiatan, berkarya kalau ada poin dan koin. Amat susah kita temukan guru/dosen yang melakukan aktifitas pengajaran, penelitian dan pengabdian, benar-benar untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Tugas kita para guru/dosen atau PEMBELAJAR hanyalah membangkitkan nyala api pikiran para pelajar/mahasiswa agar menjadi pembelajar. Mereka akan berusaha menyelesaikan masalah hidupnya sendiri atau bekerjasama dengan orang lain untuk menyelesaikan persoalan kehidupan bersama. Situasi pembelajaran yang baik, ketika guru/murid, dosen/mahasiswa sama-sama mempelajari teori dan mengujinya pada realitas kehidupan.

Pendidikan sejatinya adalah ruang REFLEKSI BERSAMA, bukan ruang kontrol, apalagi hendak mengendalikan dan mendominasi pikiran. Yang tua dan duluan sekolah tak sewajarnya menilai yang muda (siswa/mahasiswa) dengan kemampuan yang dimilikinya saat ini. Yang tua boleh jadi duluan makan garam, tapi sangat mungkin yang muda lebih peka merasakan keasinan garam. Dengan demikian tidak ada yang merasa diri paling hebat dan merendahkan yang lain. Kealpaan ruang refleksi bersama dalam pendidikan akan melanggengkan FEODALISME dalam segala hal. Entah karena keturunan karaeng atau puan, ataupun karena status jabatan dan pangkat akademik.

Duhai para guru/dosen BERHENTILAH menyamaratakan pikiran unik para pelajar. Mereka adalah manusia. Mereka bukan tikus/kelinci percobaan, Sebagaimana percobaan dalam menemukan teori-teori belajar. SUDAHI pula lah menggilai epistemologi ilmu alam yang serba kuantitatif dan menerapkannya pada ilmu sosial dan humaniora. Karena setiap ilmu unik dengan epistemologinya masing-masing. Sebagaimana UNIKnya setiap manusia.

Pendidikan hanya akan menyenangkan jika mengutamakan logika rasional (bukan logika dagang), melibatkan emosi positif didalamnya, dan suasananya menyenangkan. Syarat utama menyenangkan jika menempatkan manusia selaku subjek yang unik. Keunikan itulah yang mengantarkan kita pada penghargaan terhadap ciptaan Tuhan.

Apa guna banyak baca buku kalau hanya untuk membodohi.
Apa guna banyak beli buku, kalau hanya dijadikan pajangan.
Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya digunakan untuk menindas dan mengilusi kita.

Sumber Gambar: http://institute-of-progressive-education-and-learning.org 
@alamyin 04.09 ‪#‎Selamat‬ Hardiknas 2016

16/04/16

Makassar Kota Dunia

http://www.alam-yin.com/2016/04/makassar-kota-dunia.htmlMakassar Kota Dunia
 
Dalam MAKassAR ada Makar
Ada pula 'ass'

Laut ditimbun jadi daratan
Daratan seperti lautan, saat musim hujan

Dalam kota,
Gedung dan jalan lebih utama,
Warga kota yang kumuh
Bak sampah yang harus dimusnahkan

Dalam Kota dunia,
Kita bisa mati dibegal
dironton ribuan orang.

alamyin, 2016

Saya bukan sastrawan, hanya saja di kota ini yang sedang berbenah dan berlomba menjadi kota metropolitan, semakin sesak dan tidak nyaman ditinggali. Untain kata di atas entah apa namanya hanyalah sentilan hati kecil dari seorang warga kota yang pernah menjadi korban setengah begal.

Rehatlah sejenak wahai kota Makassar dari mendandani diri dengan gedung-gedung dan ornamen bisnis. Kabarnya pantai Losari akan ditimbun menjadi, akan disulap menjadi hunian dan sentra bisnis menyerupai Hongkong, Dubai, dan kota dunia lainnya. 

Rehatlah sejenak !

28/01/16

"MERAH" DI KAMPUS ORANGE (UNM)

(Sebuah catatan atas Suksesi Rektor UNM, 2016)

SYAMSU ALAM

"MERAH" identik dengan darah,  berani,  atau secara kelembagaan identik dengan kampus Unhas atau partai politik atau bahkan aliran ideologi tertentu (kiri),  tidak.. tentu tidak,  karena amat sulit kita menemukan Akademisi (Intelektual) Kiri di UNM (Universitas Negeri Makassar) . Tapi dikalangan mahasiswa UNM gagasan kiri (sosialisme)  bukan hal yang langka. Salah satu indikatornya pernah ditemukan logo peralatan kerja petani (baca: palu arit),  indikator lainnya seorang penanya mengutip Lenin pada sesi tanya jawab pada pemaparan Rencana Program Kerja calon Rektor UNM Periode 2016-2020 (27/01/16) di ruang teater Pinisi UNM. Meskipun demikian UNM tetaplah kampus Orange.

Dalam persfektif atmosfer akademik tentu berbagai pemikiran "sah dan halal" dipelajari.  Ini,  boleh jadi pertanda baik bahwa civitas akademika (dosen,  mahasiswa,  pegawai)  kampus setengah Oemar Bakri tidak perlu fobia terhadap aliran pemikiran apapun.  Karena salah satu ciri kampus yang besar dan unggul adalah tempat bersemai dan berdialektikanya berbagai pemikiran.  Bukankah pelangi itu indah karena warna-warninya.

BRANDING VISI MISI

Enam kandidat calon rektor UNM telah memaparkan rencana-rencananya jika ditakdirkan oleh Tuhan melalui 97 suara senat UNM disaring menjadi 3 (tiga)  calon dan putusan akhir adalah suara pak Menteri.  Seharian pada pemaparan dan tanya jawab calon Rektor UNM tidak banyak hal baru yang dipaparkan,  bahkan pemaparan program keenam kandidat tidak jauh berbeda dengan Program Rektor sebelumnya. Setidaknya keenam calon Rektor ada kesepahaman atau kemiripan gagasan visi misi dalam tiga kosakata.   Ketiganya adalah Kolaborasi,  MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)  dan World Class University.

Pada ketiga kosakata itulah, penulis hendak menyematkan kata "Merah".  Dalam psikologi warna dan kaitanya dengan branding,  Warna "Merah" identik dengan hasrat,  semangat,  ambisi,  nafsu,  passion.
Para kandidat sepaham untuk meningkatkan daya saing dalam pusaran MEA dan persaingan menjadi universitas unggulan dengan berbagai predikat yang akan membanggakan para civitas akademika UNM dengan tidak sekedar mengandalkan pada seorang Rektor tetapi dengan berkolaborasi. Meskipun belum ada penjelasan lebih jauh berkolaborasi dengan siapa. Kata Kolaborasi kian populer menjelang Revolusi Industri keempat versi World Economic Forum (WEF),  Sebuah revolusi batu yang berbasis digital.  Pemicu utamanya bergesernya mode of production dari input modal fisik ke input modal non-fisik (ide dan kreativitas) pemanfaatn input tersbut menjadikan berbagai perusahaan dan organisasi meraih sukses di pentas regional maupun global. Keberhasilan organisasi  menjadi pemenang dengan strategi "Kolaborasi".  Beberapa organisasi diantaranya adalah Wikipedia, Facebook, Skype, Goldcorp, Linux, P&G dll.

Don Tapscott penulis The Digital Economy  dan Wikinomics,  mengungkapkan bahwa awalnya "Kolaborasi Maya"  yang dilakukan oleh para netizen,  programmer,  youtuber dan lain-lain adalah semacam gerakan massif sebagai anti-tesa atas dominasi perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai media mainstream. Bahkan kerap dikatakan sebagai "komunisme gaya baru".  Tetapi para aktivis "Kolaborasi Maya" tetap memacu krativitas dan berinovasi tiada henti tanpa terpengaruh dengan stigma komunisme gaya baru.  Misalnya Linux, yang awalnya hanyalah proyek "gotong-royong" dimana para programer berjejaring,  berbagi source code,  sharing pengalaman hingga akhirnya bisa bersaing dengan Microsoft atau Mac. Padahal tidak ada perusahaan yang menaunginya,  toh,  bisa menjadi pemain dalam dunia Sistem Operasi. Hal yang sama terjadi pada perusahaan dan organisasi yang melakukan "Kolaborasi".

KONSEKUENSI KOLABORASI

Berdasarkan sudut pandang perencanaan,  kalaborasi identik dengan proses,  dimana inputnya adalah Mahasiswa,  Dosen,  Pegawai,  Satpam, Stakeholder dan shareholder yang terkait dengan pengguna jasa dan produk (output)  perguruan tinggi. Produk perguruan tinggi bisa berarti lulusan sarjana dan pascasarjana atau hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,  perusahaan,  atau pemerintah dalam menyusun kebijakan. Dimensi dampaknya (impact) adalah apakah produk tersebut dimanfaatkan sesuai kompetensinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian bangsa. Jika Kolaborasi dimaknai seperti ini maka Tri Dharma Perguruan tinggi akan berjalan sesuai dengan koridornya dan cita mewujudkan kampus  menjadi "Center of Excellence". Tentu dengan berbagai konsekuensi-konsukuensi dan perbaikan sistem kelembagaan.

Cerita sukses tentang organisasi yang menerapkan Kolaborasi "Massif" berani mentransformasikan sistem manajemennya.  Organisasi yang awalnya menerapkan manajemen vertikal,  hirarkis yang kaku,  berdasarkan komando,  perintah atasan,  dan standar operasional yang sangat kaku dan mekanistik,  dapat menyebabkan bawahan terkena penyakit sindrom ABS (Asal Bos Senang). Dengan Kolaborasi gaya tersebut ditransformasi menjadi Organisasi dengan sistem manajemen horisontal,  terbuka, komunikasi lebih cair,   fleksibel,  penuh ruang improvisasi bagi siapapun yang terlibat dalam kolaborasi. Dengan sistem seperti ini maka jarak antara pejabat Universitas,  Fakultas,  Jurusan dan Prodi dengan yang bukan pejabat seperti dosen,  pegawai dan mahasiswa bisa dianggap tidak berjarak.

Konsekuensi lebih jauh adalah akan menghancurkan tatanan struktural feodalisme,  entah feodalisme keturunan "karaeng",  "puan" atau feodalisme keilmuan "professor" dan bukan professor.  Tentu saja hal ini adalah alamat baik buat atmosfer akademik,  dimana setiap civitas akademika adalah subjek dan ilmu pengetahuan adalah objeknya.

Konsekuensi selanjutnya,  setelah struktur feodal sudah runtuh,  maka akan tercipta kesetaraan,  ruang-ruang dialogis antar civitas akademika dan stakeholder makin luas.  Dan pada akhirnya demokratisasi kampus dapat terwujud. Apakah semudah itu?  Tentu tidak.  Tapi yang pasti jika Kolaborasi telah menjadi kosakata pamungkas para kandidat Rektor UNM maka semestinya prinsip-prinsip kolaborasi harus menjadi tonggak-tonggak pengelolaan perguruan tinggi.

KOLABORASI:  LIPSING ATAU INISIASI

Harapan terbesar kita sebagai masyarakat biasa,  atas setiap suksesi para calon pemimpin adalah satunya kata dan perbuatan atau dalam terminologi kampus adalah “kejujuran ilmiah” para kandidat.  Semua yang dipaparkan seolah-olah adalah  energi positif dengan beragam angan-angan indah.  Kata memang adalah senjata,  dia bisa memotivasi atau mematikan.

Kolaborasi layaknya diperlakukan tidak seperti liberalisasi pasar regional ASEAN dalam MEA,  karena dalam liberalisasi menyimpan potensi laten ketimpangan dan menindas Negara yang tidak punya akses dan aset.  Kolaborasi tentu memuat prinsip  pro-konsumer, tersedianya perpustakaan besar untuk berbagi sumber-sumber pengetahuan,  terciptanya transparansi sebagaimana "kolaborasi maya"  berbagi source code,  menyuburkan pikiran kolaboratif bukan pikiran kolutif dan koruptif. Semoga UNM tetap Jaya dalam Tantangan.