Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan

17/10/12

Sekilas Jejak Boot-Camp Training Program Ethics for Entrepreneur

Boot-Camp Training Program Ethics for Entrepreneur Bank Mandiri & Rumah Perubahan Apa yang kita lakukan semata-mata untuk diri sendiri, akan mati bersama kita. PerUBAHan yang kita lakukan dan bermanfaat bagi orang lain, akan kekal abadi… (Dikutip dari Header Web Rumah Perubahan_ Renald Kasali Training Center)
From Alamyin
Sekilas Jejak Boot-Camp Training Program Ethics for Entrepreneur. Awalnya tidak percaya kalau Rumah Perubahan yang didirikan oleh Pak Rhenald Kasali mengundang saya dan 47 anak muda se-Indonesia (walau sudah ada juga yang om-om, peace om) dari Aceh, Sumatra, Bandung, Jogja, Makassar, Purwakarta, Kalimantan, Surabaya, Papua, Bogor, Palembang, Jakarta dan lain-lain untuk menghadiri Boot-Camp selama 4 hari 23-27 September 2012, Para peserta adalah Finalis wilayah dan Nasional Wirausa Muda mandiri (WMM). Pertama kali di telpon saya acuh saja, namun begitu cek email ternyata benar. Pesannya Official dari Rumah Perubahan kerjasama dengan Bank Mandiri. Besoknya di hubungi lagi oleh Neng Terecia untuk konfirmasi kepastian kehadiran dan akhirnya saya menyatakan kesedian dan kesiapan menghadiri kegiatan tersebut. Namun sebelumnya saya pun mencari informasi tentang Rumah Perubahan, search sana-sini, bertanya pada om Goggle dan denah lokasinya. Sehari sebelumnya saya berangkat sekalian singgah menyapa teman di PB HMI-MPO di Jaksel. Sdr.Akbar salah seorang pejabat teras organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar di Indonesaia yang pertama kali saya temui. Dia pun yang membantu menunjukkan arah transportasi menuju kantor Rumah Perubahan. Esok hari, tepat jam 15.00 berangkat menuju Rumah Perubahan (RP), Alamatnya (RP) yang sedikit sulit ditemukan sebagaimana yang dialami juga oleh beberapa teman yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Perubahan. Tiba di (RP) disambut dengan senyum sumringah oleh pengelolah tempat tersebut. Asri, tenang dan menyejukkan adalah kesan pertama ketika memasuki halaman tempat tersebut. Malam Pertama di Rumah Perubahan, peserta yang datang dari hampir seluruh penjuru tanah air masih terkesan “dingin” mungkin pada Jaim kale…. Konsep Rumah Perubahan yang dikhususkan untuk Training for Entrepreneurship tidak seperti pusat training pada umumnya. Konsep yang sederhana nan elegan serta perpaduan penginapan ala Jepang (tatami) yang memungkinkan peserta saling kenal dan berinteraksi tanpa harus takut kehilangan barang-barang berharga. TRUST, saling percaya adalah nilai yang pertama kali terekam dalam benakku.
From Alamyin
Hari pertama, Perkenalan oleh Bung Wisnu, Fasilitator kami yang harus jadi korban kejahilan peserta Batch 4&5, jangan ada dendam walau dua kali harus di “celup” ke sungai :). Pukul 13.17 usai break, Pak Rhenald member sambutan selamat datang dan pengantar tentang Ethics for Entrepreneur. Banyak hal yang disampaikan oleh beliau diantaranya yang sempat terekam adalah Wirausaha itu komersial, karena komersial maka ada transaksi, dalam transaksi ada interaksi, pengusaha yang baik harus tetap memperhatikan etik dalam interaksi. Tidak ada bisnis yang tujuannya kaya. Dalam bisnis yang penting adalah kerja keras bukan kerja cerdas yang biasanya berujung instan. Beliau juga menekankan bahwa, kalau mau beretika, Anda harus tetap kritis. Dalam benakku sepakat dengan ungkapan yang terakhir, karena hanya dengan kritis, inovasi dapat terwujud. Hari pertama di Rumah Perubahan adalah hari yang sangat berkesan. Pendopo yang sederhana yang dibawahnya ada kolam ikan, Suasana hijau nan asri seolah jauh dari hingar bingar perkotaan. Di Hari yang sama, dari Pihak Bank Mandiri, Ibu Diah Martha yang memberi sambutan, motivasi dan share seputar nilai TRUST seperti yang diyakini Mandiri. Hari kedua di Rumah Pengetahuan. Masuk pendopo lebih awal dari hari pertama. Jam 05.00 wib. diruangan kami diposisikan duduk bersila tapi bukan untuk makan. Didepan setiap peserta telah disediakan kertas dan pengalas, lilin dan oles anti nyamuk. Instruktur pagi ini adalah Mba’ Ira. Perempuan yang kelihatannya menyukai yoga, terpancar dari wajahnya yang ayu nan menawan. Sebelum berangkat ke Green Area, Kami dibimbing oleh instruktur menarik nafas secara perlahan.. hitungan1-10 tariik nafas. 1-8 tahan nafas dan 1-10 hembuskan nafas secara perlahan. demikian seterusnya hingga beberapa menit. Walaupun hanya bernafas terasa melelahkan bagi yang tidak biasa melakukan yoga, seperti saya :-) konsentrasi mengikuti instruktur yoga dan rangkaian kata yang dituturkan oleh Mba Ira, yang mengalir dari bibirnya yang mungil, yang tergambar dari suaranya yang merdu, tertata dan menyejukkan. saya dan kawan2 peserta yang lain tetap hening dan hokmat mengikuti yoga yang betlangsung sekitar 10-20 menit. untaian kata yang diinjeksikan ketelainga kami dalam keadaan semedi, begitu menyentuh. ajakan mengenali diri, merefleksi kehidupan diri dan kualitas diri. merenungi hal-hal yang pernah dilakukan. suasana hening di pagi hari dimana matahati belum menampakkan wajahnya. walau yoga sedikit terganggu dengan kehadiran teman2 yang terlambat, atas keterlambatan mereka dan berdasarkan kesepakatan bersama, mereka harus membayar denda Rp.50 perorang. Yoga selesai dan mba Irha mengarahkan kami ke green area. dengan mengikuti obor yang telah disiapkan panitia sepanjang jalan menuju green area. Di green area di atas rumput yang hijau dikelilingi taman tanaman sayur, kali dan kolam ikan. suasana hening pagi jauh dari kebisingan kota Jakarta. Tempat yang didesain layaknya kehidupan yang akrab dengan alam dan alami. Di atas tikar di lapangan kami menulis segala imajinasi tentang diri kami. Saya hanya membuat gambar tentang diri yang tumbuh dan berbagi dengan yang lain. Imajinasi saya tentang Lilin, kertas putih dan lilin. Kemudian mengintrodusir kedalam diri. Acara pagi dilanjutkan dengan Aerobik. Instruktur cewek lagi. pagi yang benar-benar indah. diawali dengan hening ala Yoga dipandu mba Ria. dan aerobik dipandu oleh Neng Lulu. semangatnya luar biasa, enerjik. … Goyangannya Neng, Mbak, Kang, Daeng, Mas, Bung, Bro, Bang….. acar pagi selesai, saatnya mandi dan bergegas ke Pendopo.
From Alamyin
Hari ketiga, Para peserta makin akrab. Jaim-jaiman pada hari pertama berangsur luluh dibawa oleh angin sejuk Rumah Perubahan. Bung Bolang yang mengajarkan mantra pemanggil hujan, namun tak hujan-hujan…. :-). Game-game kecil sebelum Out Bound dimulai. Out Bound seru-seruan dari mengumpulkan telur, duren, mangga, buah kelapa, panjat pohon hingga mencuri koleksi kelompok lain jika mereka lalai menjaga barangnya. Saya di kelompok 4, tepatnya dengan brand “Kelompok WOW”. Tiga kelompok lainnya juga punya yel-yel yang unik . walau berbeda para peserta tetap semangat berburu dan mengumpulkan poin. Setelah penghitungan hasil koleksi telur, duren, mangga dan kelapa di hitung, muncullah juara yang memperoleh poin terbanyak. Sambil mencicipi hasil buruan para peserta berbagi cerita tentang game yang diberikan Bolang (bukan si Bolang, katanya). Sesi selanjutnya adalah Gladiator. 5 orang dari setiap kelompok harus bertarung di Kolam Gladiator untuk menangkap ikan lele dengan mata tertutup. Disinilah seru-seruan berlanjut….Semangat, keakraban, persaudaraan, solidaritas, dan nilai pembelajaran mengalahkan lumpur di kolam gladiator. Di sesi inilah Bang Wisnu (fasilitator) harus rela basah-basahan dengan kami. Untuk kali pertama, fasilitator dikerjai oleh peserta. :-) Selama Boot-Camp, kami memperoleh pengetahuan yang melimpah dari berbagai Praktisi bisnis dan akademisi diantaranya Pak Sudamek (Garuda Food), Bu Noni Purnomo (Bluebird), Pak Masril Koto (Bank Petani), … (Depo Bangunan), Tjahjadi Lukiman (Adira Motor atau Dokter Perusahaan :) thanks bukunya Pak), Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat UI), Tonny Warsono (Wijaya Karya), Teddy Rahmat (Hanjuang), Hasnul Suhaimi (XL).,. Berbagai trik, metode dan pengalaman di share oleh orang-orang hebat di atas. Sekali lagi, kerja keras, Trust dan nilai integritas lainnya. Singkat cerita, sampailah pada malam terakhir. Setelah mengikuti sesi sharing di Cracker Room dengan CEO salah satu operator di Indonesia dalam mengembangkan market sharenya. Acara di lanjut di Pendopo, peserta kelihatan semangat dan fresh, walau sudah menjelang pukul 22.00 WIB, soalnya yang ditemani berbagi cerita adalah empunya Pendopo (Pak Rhenald). Sesi ini semacam sesi “refleksi diri” atau sejenis coaching. Dimana setiap peserta harus menulis 2 nama teman yang dianggap perlu ‘memperbaiki diri” atau “merefleksi diri”. Namun sebelumnya pak Rhenald share tentang cerita persepsi Gorilla yang hidup pada temperature dan cahaya ekstrim. Etik menurutnya bukan hanya value tetapi juga strategi, dengan kata lain nilai yang baik harus di dukung dengan proses yang baik pula agar mencapai hasil yang baik. Setelah semua peserta selesai menuliskan 2 nama peserta lain, di rating dan memperoleh point terbanyak akan di beri kehormatan untuk duduk di depan kami. Sedangkan peserta yang lain harus memberi komentar tentang pribadi peserta yang memperoleh scoring tinggi. Tiga diantara yang memperoleh point banyak sebut saja X, Y, dan Z. Ada 2 syarat yang tidak boleh dilanggar oleh yang ditunjuk member komentar. Pertama, tidak boleh memuji atau menyebut kebaikan. Kedua, Tidak boleh mengatakan “saya tidak mengenalnya”. Jika melanggar maka akan di cebur ke kolam, hahahaha…. Serantak ketawa para peserta. Walau jam di Pendopo menujukkan pukul 00.15, peserta masih semangat dan enjoy mengikuti sesi malam terakhir ini. Point penting dari ‘refleksi diri”, Alhamdulillah tidak ada yang tersinggung, suasana cair , sedikit ada haru biru dan sesekali guyon menghiasi malam-malam terakhir kami di Rumah Perubahan.
From Alamyin
Mengakhiri Review singkat ini, saya kutip penggalan tulisan yang pernah saya tulis Enterpreurship VS EnterpreneurShit. Sungguh, kita merindukan enterpreneur yang benar-benar “Siiip” “Jempolan” “mantap” yang tidak hanya berbisnis untuk memenuhi hasrat keserakahannya semata. Namun dia juga peduli pada keberlanjutan sistem sosial yang lebih baik, ekosistem alam tetap terjaga, dan yang paling penting tidak menghancurkan kearifan dan nilai-nilai budaya kita yang luhur. Budaya yang menganggap bahwa Anda adalah diri saya yang lain. Terima kasih Bank Mandiri, Rumah Perubahan, Teman-teman Boot-camp Batch 4&5, dan siapapun yang terkait demi suksesnya kegiatan ini. Lets Change ! Review kegiatan ini bukan official penyelenggara, tetapi murni persepi dan pendapat pribadi Reviewer yang juga adalah salah satu peserta dalam kegiatan tersebut. wassalam. WAB. alamyin. di Publish pertama kali di kompasiana.com oleh Alamyin #http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/10/17/sekilas-jejak-boot-camp-training-program-ethics-for-entrepreneur/501725/

03/09/12

ENTREPRENEURSHIP PERSFEKTIF MATEMATIKA

Oleh : Syamsu Alam

Satu dekade terakhir pemerintah, baik pusat ataupun daerah menargetkan ribuan bahkan jutaan entrepreneur muda. Berbagai event dilakukan untuk menstimulus generasi muda berwiraswasta. Bahkan program CSR (Corporate Social Resposibilty) perusahaan swasta dan perusahaan BUMN mengadakannya dalam bentuk lomba atau pelatihan bertajuk 'Entrepreneur". Saya pun bertanya-tanya, Kenapa pemerintah Indonesia fokus pengembangan entrepreneurship? Salah satu alasan yang paling umum adalah belajar dari pengalaman negara-negara tetangga yang sukses membangun ekonomi bangsa dengan bertumpu pada semangat dan praktik kewirausahaan. Misalnya Korea, Cina dan negara-negara asia lainnya yang sukses dengan program kewirausahaan. Alassan lain adalah banyaknya pengangguran di Indonesia, yang cenderung meningkat setiap tahun.

Tulisan ini diinspirasi dari dua kejadian yang dialami oleh penulis, pertama ketika presentase penjurian wilayah Wirausaha Mandiri 2011. Inspirasi kedua, Ceramah Sujiwo Tejo di FedEx Bandung, dengan tema Math : Finding Harmony in Chaos.

Berbagai publikasi, buku, majalah, surat kabar yang membahas tentang entrepereneurship. Kita sering kali menemui ungkapan "from zero to hero". Ungkapan yang senantiasa menyemangati menginspirasi para pembaca, pemirsa ataupun audience agar tergerak melakukan usaha atau bergabung dengan usaha yang sedang di presentasikan oleh trainer. Saya ingin menuangkan kekurang sepakatan saya dengan slogan tersebut. Dengan mencoba memanfaatkan basis keilmuan yang ketika kuliah di jurusan matematika dan ilmu ekonomi yang sedang saya geluti. Para trainer hendak menyemangati para audience dengan mengatakan from "zero", yang berarti tidak mempunyai apa-apa menjadi "one" (yang sukses, berhasil menggapai cita-cita). Sepintas, kata-kata tersebut dapat membius para audience, namun kalau dipikir dengan seksama penggunaannya kurang tepat. Menyatakan "kita" sebagai manusia yang akan memulai usaha dengan tanpa modal apapun merupakan kekeliruan besar, sebagaimana kelirunya filosof empirisme, John Locke mengatakan manusia lahir seperti "kertas kosong" tidak mempunyai apa-apa, tanpa potensi dan tanpa pengetahuan dasar.

Spirit yang ingin dikembangkan oleh pemerintah ataupun pra trainer di atas adalah "spirit perubahan", "spirit inspirasi" untuk tergerak mengakumulasi keuntungan, dari tidak berpunya menjadi berlimpah (kaya raya), rangsangan lewat cerita inspirasi orang-orang sukses senantiasa kita dengar. Harta yang banyak, merek mobil mewah, rumah yang megah, teknologi canggih yang dipakai, bahkan mungkin istri yang banyak pula. :).

Spirit akumulasi menyerupai deretan bilangan Fibonacci, dimana angka selanjutnya dapat diperoleh dengan menjumlahkan angka yang sebelumnya. Namun, menurut hemat saya, Spirit entrepreneurship lebih tepat jika diandaikan dengan deretan bilangan asli (Natural). Bilangan yang dimulai dengan angka 1 menuju tak terhingga. Saya menyebutnya from one to unlimited. Walaupun banyaknya bilangan antara 0-1 adalah tak terhingga namun angka nol yang diartikan dengan tidak mempunyai modal apa-apa adalah kekeliruan para trainer entrepreneur. Karena faktanya bahwa, semua manusia diciptakan dengan "fitrah". Fitrah tidak sama dengan 'tabula rasa' ala John Locke(b. 1632, d. 1704). Fitrah menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi-potensi berbuat baik, potensi mengabdi kepada yang menciptakannya. Dengan demikian ungkapan tidak mempunyai apa-apa keliru adanya.

Dalam ekonomi, setiap individu ataupun masyarakat bukan hanya mempunyai modal ekonomi (modal fisik), tetapi juga mempunyai modal sosial (Social Capital) dan modal manusia (Human Capital), bahkan di referensi yang lain ada banyak modal termasuk modal moral dan lain-lain. Sederhananya apapun yang dapat menghidupkan atau menggerakkan aktifitas ekonomi adalah merupakan modal. dan Modal dasar yang paling hakiki yang dimiliki oleh manusia sebagai individu adalah "Fitrah akal sehat”.

Alangkah indahnya, jika inspirasi dan semangat entrepreneurship dibangun dari fondasi "fitrah", di mulai dari fondasi yang 1 menuju yang tak terhingga (unlimited). Terminologi tak terhingga bisa merujuk pada perbuatan-perbuatan baik, kedermawanan si entrepreneur, keinginan dan keikhlasan berbagi dengan yang kurang mampu, dan lain-lain, yang semuanya tidak bisa dinilai dengan hitung-hitungan akuntansi. Ungkapan One to Unlimited juga menyiratkan bahwa tujuan berwirausaha bukan hanya 'akumulasi modal fisik' ala bilangan fibonacci tetapi diarahkan pada yang yang 'tak terhingga nilainya'. Dengan kata lain, bukan sekedar mengakumulasi uang/ keuntungan dan memperkaya diri sendiri, tetapi di distribusikan untuk kegiatan-kegiatan sosial, berbagi kebahagiaan, berbagi kesejahteraan dengan yang lain. Dari sini akan lahir sociopreneur yang mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan dan persamaan.

Hal yang sama, yang diharapkan oleh Sujiwo Tejo, yang juga pernah mengenyam pelajaran Matematika di ITB, mengemukakan bahwa, Dalam matematika, kita lebih banyak membahas tentang persamaan daripada pertidaksamaan, kalau pun membahas pertidaksamaan, hal itu hanya untuk mempertegas persamaan. Dengan prinsip ini maka, entrepreneur yang mengedapnkan prinsip-prinsip persamaan, prinsip zero to unlimited, insyaallah akan membuat dunia lebih indah, dunia usaha lebih bersahabat, lebih ramah dan elegan. Sehingga Error Entrepreneur seperti bencana Lapindo, Freeport, Blok Cepu dan lain-lain tidak terjadi lagi. Spirit yang sama juga sebaiknya di internalisasi oleh pemerintah, sehingga bukan sekedar memperbanyak entrepreneur yang error.

Penulis adalah Alumni Matematika UNM 2006, Pegiat Usaha di Titik9 Design and Printing. Kini belajar Ilmu Ekonomi di PPs Unhas.

27/04/12

ENTREPRENEURSHIP PERSFEKTIF MATEMATIKA

ENTREPRENEURSHIP PERSFEKTIF MATEMATIKA. Satu dekade terakhir pemerintah  baik pusat ataupun daerah menargetkan ribuan bahkan jutaan entrepreneur muda. Berbagai event dilakukan untuk menstimulus generasi muda berwiraswasta. Bahkan program CSR (Corporate Social Resposibilty) perusahaan swasta dan perusahaan BUMN mengadakannya dalam bentuk lomba atau pelatihan bertajuk 'Entrepreneur". Saya pun bertanya-tanya, Kenapa pemerintah Indonesia fokus pengembangan entrepreneurship ?. Salah satu alasan yang paling umum adalah belajar dari pengalaman negara-negara tetangga yang sukses membangun ekonomi bangsa dengan bertumpu pada semangat dan praktik kewirausahaan. Misalnya Korea, Cina dan negara-negara asia lainnya yang sukses dengan program kewirausahaan. Alassan lain adalah banyaknya pengangguran di Indonesia, yang cenderung meningkat setiap tahun.
    
Tulisan ini diinspirasi dari dua kejadian yang dialami oleh penulis, pertama ketika presentase penjurian wilayah Wirausaha Mandiri 2012. Inspirasi kedua, Ceramah Sujiwo Tejo di FedEx Bandung, dengan tema Math : Finding Harmony in Chaos. Tulisan sebelumnya tentang Entrepreurship di alamyin.com atau  EntreprenurShit di Kompasiana.

Berbagai publikasi, buku, majalah, surat kabar yang membahas tentang entrepereneurship. Kita sering kali menemui ungkapan "from zero to hero". Ungkapan yang senantiasa menyemangati, menginspirasi para pembaca, pemirsa ataupun audience agar tergerak melakukan usaha atau bergabung dengan usaha yang sedang dipresentasikan oleh trainer. Saya ingin menuangkan kekurang sepakatan saya dengan slogan tersebut. Dengan mencoba memanfaatkan basis keilmuan yang diperoleh ketika kuliah di jurusan Matematika UNM dan Ilmu Ekonomi (UNHAS) yang sedang saya geluti. 

Para trainer hendak menyemangati para audience dengan mengatakan from "zero", yang berarti tidak mempunyai apa-apa menjadi "one" (yang sukses, berhasil menggapai cita-cita). Sepintas, kata-kata tersebut dapat membius para audience, namun kalau dipikir dengan seksama penggunaannya kurang tepat. Menyatakan "kita" sebagai manusia yang akan memulai usaha dengan tanpa modal apapun merupakan kekeliruan besar, sebagaimana kelirunya filosof empirisme,  John Locke mengatakan manusia lahir seperti "kertas kosong" tidak mempunyai apa-apa, tanpa potensi dan tanpa pengetahuan dasar.

Spirit yang ingin dikembangkan oleh pemerintah ataupun pra trainer di atas adalah "spirit perubahan", "spirit inspirasi" untuk tergerak mengakumulasi keuntungan, dari tidak berpunya menjadi berlimpah (kaya raya), rangsangan lewat cerita inspirasi orang-orang sukses senantiasa kita dengar. Harta yang banyak, merek mobil mewah, rumah yang megah, teknologi canggih yang dipakai, bahkan mungkin istri yang banyak pula. :).

Spirit akumulasi menyerupai deretan bilangan Fibonacci, dimana angka selanjutnya dapat diperoleh dengan menjumlahkan angka yang sebelumnya. Namun, menurut hemat saya, Spirit entrepreneurship lebih tepat jika diandaikan dengan deretan bilangan asli (Natural). Bilangan yang dimulai dengan angka 1 menuju tak terhingga. (from one to unlimited). Walaupun banyaknya bilangan antara 0-1 adalah tak terhingga namun angka nol yang diartikan dengan tidak mempunyai modal apa-apa adalah kekeliruan para trainer entrepreneurship. Karena faktanya bahwa, semua manusia diciptakan dengan "fitrah". Fitrah tidak sama dengan 'tabula rasa' ala John Locke. Fitrah menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi-potensi berbuat baik, potensi mengabdi kepada yang menciptakannya. Dengan demikian ungkapan tidak mempunyai apa-apa keliru adanya.
 
Dalam ekonomi, setiap individu ataupun masyarakat bukan hanya mempunyai modal ekonomi (modal fisik), tetapi juga mempunyai modal sosial (Social Capital) dan modal manusia (Human Capital), bahkan di referensi yang lain ada banyak modal termasuk modal moral dan lain-lain. Sederhananya apapun yang dapat menghidupkan atau menggerakkan aktifitas ekonomi adalah merupakan modal. dan Modal dasar yang paling hakiki yang dimiliki oleh manusia sebagai individu adalah "Fitrah".

Alangkah indahnya, jika inspirasi dan semangat entrepreneurship dibangun dari fondasi "fitrah", di mulai dari fondasi yang 1 menuju yang tak terhingga (unlimited). Ungkapan ini menyiratkan bahwa tujuan berwirausaha bukan hanya 'akumulasi modal fisik' ala bilangan fibonacci tetapi diarahkan pada yang yang 'tak terhingga nilainya'. Dengan kata lain, bukan sekedar mengakumulasi uang/ keuntungan dan memperkaya diri sendiri, tetapi didistribusikan untuk kegiatan-kegiatan sosial, berbagi kebahagiaan, berbagi kesejahteraan dengan yang lain. Dari sini akan lahir sociopreneur yang mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan dan persamaan.

Hal yang sama, yang diharapkan oleh Sujiwo Tejo, yang juga pernah mengenyam pelajaran Matematika di ITB, mengemukakan bahwa, Dalam matematika, kita lebih banyak membahas tentang persamaan daripada pertidaksamaan, kalau pun membahas pertidaksamaan, hal itu hanya untuk mempertegas persamaan. Dengan prinsip ini maka, entrepreneur yang mengedapnkan prinsip-prinsip persamaan, prinsip One to Unlimited, insyaallah akan membuat dunia lebih indah, dunia usaha lebih bersahabat, lebih ramah dan elegan. Sehingga Error Entrepreneur seperti bencana Lapindo, Freeport, Blok Cepu dan lain-lain tidak terjadi lagi. Spirit yang sama juga sebaiknya di internalisasi oleh pemerintah, sehingga bukan sekedar memperbanyak entrepreneur yang error.

15/04/12

Entrepreurship VS Entrepreneurshit

Enterpreurship VS Enterpreneurshit. "Untuk membuat tempat duduk dari bambu saja saya tidak mampu apalagi membeli mobil" (kata seorang  ayah kepada reporter yang mewawancarainya). kira-kira seperti itulah potret masyarakat yang dihadapi oleh Muhammad Yunus, salah satu penerim Nobel Prize bidang ekonomi, tepatnya gagasan tentang Grameenk Bank (GB) yang kini banyak diadopsi oleh program-program pemberdayaan masyarakat. Salah satu yang diterapkan oleh PNPM Mandiri Perdesaan, namun dengan sedikit modifikasi.

Kepercayaan pada kemampuan, kejujuran perempuan membuat GB  sukses diaplikasikan di Bangladesh. Hal ini dibuktikan dalam laporan BBC yang penulis baca dalam podcast britishcouncil.com bahwa dominan bahkan diutamakan perempuan (ibu-ibu) yang boleh menjadi nasabah di GB. Inovasi GB ini telah menginspirasi banyak orang diseluruh dunia termasuk di Indonesia tercinta.

Perubahan begitu cepat, kurang dalam hitungan dekade sejumlah konsep derivasi Enterpreneur bermunculan. Ada technopreneur, sociopreneur dan lain-lain. Bahkan sejumlah training dan lomba dilakukan oleh pemerintah dan swasta untuk merangsang minat dan hasrat masyarakat khususnya kaum muda agar terlibat dalam dunia usaha (Enterpreneurship). Salah satu yang penulis pernah ikuti adalah program wirausaha Mandiri.

Sociopreneur sendiri dikenal di Indonesia dengan istilah Bisnis Sosial. Ciri-cirinya seperti yang dirangkum oleh Muhammad Yunus dalam buku Bisnis Sosial sebagai berikut :
1. Tujuan bisnis adalah mengatasi kemiskinan, atau masalah lain (misalnya pendidikan, kesehatan, akses teknologi, dan lingkungan) yang mengancam manusia dan masyarakat bukan untuk memaksimalkan keuntungan.
2. Perusahaan akan berjalan secara berkelanjutan dalam hal finansial dan ekonomi
3.Investor hanya akan mendapatkan kembali uang sejumlah yang diinvestasikannya. Tak ada dividen yang diberikan ketika investasi awal sudah kembali dan perusahaan terus menghasilkan keuntungan.
4 Ketika dana yang diinvestasikan dibayarkan kembai, laba tetap diambil oleh perusahaan untuk perluasan dan perbaikan.
5.Perusahaan akan ramah terhadap lingkungan
6. Angkatan kerja mendapat upah sesuai pasaran tetapi dengan kondisi kerja diatas standar.
7. Dikerjakan dengan senang hati !!!

Sociopreneur berkembang cukup pesat, bahkan distus dan jejaring sosial banyak mengkampanyekan kegiatan-kegiatan sociopreneur. Lain halnya dengan. Pengusaha nakal (enterpreneurshit) yang berusaha dan berbisnis sekedar memuaskan hasrat pribadi, mangakumulasi kapital, mengeksplorasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan keseimbangannya bahkan memeksploitasi manusia (tenaga kerja) untuk memenuhi libido keserakahan yang tak berujung.

Kerusakan lingkungan, hancurkan ekosistem hewan dan tumbuhan, bahkan ambruknya sistem sosial kemasyarakatan (kasus Lapindo, kasus Newmont, Freeport dan lain lain). Ketidakstabilan alam dan hilangnya keseimbangan hidup manusia karena ulah segelintir pengusaha nakal (enterpreneurshit). Bahkan kerugian yang ditanggung masyarakat dan negara melebihi pajak yang disetornya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas industri berkontribusi  signifikan terhadap pemanasan global, rusaknya lapisan ozon, dan sejumlah kekhawatiran para ilmuan, pengamat ekonomi, sosial hingga pedagang kaki lima (PKL). Dampak yang paling sering dialami oleh PKL sebagai salah satu aktifitas ekonomi kecil yang diduga dapat menopang perekonomian bangsa, kerap menjadi "korban" aktifitas ekonomi yang lebih besar yang di baking oleh pengusaha besar nan nakal :).

Bukan hanya itu, konstitusi negara pun kadang di otak-otak untuk meyediakan "karpet merah" buat para enterpreneur yang mungkin berpotensi menjadi (shit).

Enterpreneur yang demikian akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, semua bisa jadi halal, semua aturan tidak perlu di langgar cukup dibengkokkan sedikit agar tidak memicu amarah para pendemo :-). Terlalu banyak bukti yang menunjukkan betapa perselingkuhan penguasa dan pengusaha yang mencederai hati rakyat Indonesia sebagai konstituen yang mesti diutamakan. Dan kita tidak mesti anti dengan enterpreneur. Karena dipahami enterpreneur yang baik bisa membuat hidup dan memberi kontribusi yang baik pula bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sungguh, kita merindukan enterpreneur yang benar-benar "Siiip" "Jempolan" "mantap" yang tidak hanya berbisnis untuk memenuhi hasrat keserakahannya semata. Namun dia juga peduli pada keberlanjutan sistem sosial yang lebih baik, ekosistem alam tetap terjaga, dan yang paling penting tidak menghancurkan kearifan dan nilai-nilai budaya kita yang luhur. Budaya yang menganggap bahwa Anda adalah diri saya yang lain.
wassalam. WAB. Alamyin.