Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

13/05/2012

7 Mitos Penghambat Kemandirian

TORAWARENAI SUNAONA KOKORO 
(Pikiran yang Tidak Melekat)
oleh Dr.Ir. Dimitri Mahayana, M.Sc.

7 Mitos Penghambat Kemandirian. Entah angin apa yang mengantar saya pada Folder koleksi Artikel, dan menemukan tulisan yang menurut saya inspirasi untuk membangun kemandirian personal maupun bangsa. Tulisan sederhana yang senantiasa menyemangati gerak keseharian kita, khususnya bagi pebisnis, akademisi, intelektual, "politisi", petualang dan siapapun yang ingin belajar dan berpikiran maju. Judul postingan, adalah murni subjektifitas saya (alamyin) tidak ada maksud selain berbagi inspirasi. Selamat membaca.

Judul asli tulisan ini adalah TORAWARENAI SUNAONA KOKORO (Pikiran yang Tidak Melekat) ditulis oleh Dr.Ir. Dimitri Mahayana, M.Sc.

Konosuke Matsushita, pendiri korporasi raksasa Jepang Matshushita, mempunyai satu prinsip filosofis manajemen yang amat terkenal; "Torowarenai sunaona kokoro, (pikiran [hati] yang tidak melekat)". Matsushita yakin seorang pemimpin harus benar-benar memiliki kebeningan hati, kecerahan pikiran, dan ke-tidakmelekat-an pikiran dan hati agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang tepat.

Kemelekatan IBM dengan industri komputer mainframe-nya, misalnya, telah membuat para pimpinannya membatasi penjualan PC (Personal Computer) - yang dikhawatirkan akan merusak pasar komputer mainframe- sehingga akhirnya IBM tidak bisa leading dalam industri PC di dunia, padahal ia termasuk yang paling awal menguasai teknologi PC. Dan apa yang terjadi? PC ternyata menjadi satu dengan kehidupan masyarakat global. IBM telah menyia-nyiakan pasar masa depan hanya karena kemelekatannya dengan masa lalunya. Berpikir tentang krisis moneter akhir-akhir ini ala Matsushita, kita mesti meninggalkan ke-melekat-an pikiran dan persepsi bangsa atas beberapa aspek berikut.

Pertama, kemelekatan atas bayangan-bayangan "sukses" pembangunan nasional di masa sebelum krisis.

Analisis-analisis para pakar ekonomi dari Bank Dunia, IMF, telah lama meninabobokkan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya dengan angka-angka yang fantastis. Mereka mensugesti Indonesia dengan "kenyataan" bahwa pertumbuhan ekonomi nasional 7 hingga 8% setahun dengan laju inflasi kurang dari dua digit. Bangsa Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lain mesti melepaskan diri dari khayalan-khayalan "sukses" semacam ini, dan segera menyadari kondisi objektif yang benar-benar riil. Dengan kesadaran ini, kejernihan melakukan langkah yang tepat dalam menanggulangi krisis dapat diperoleh.

Kedua, kemelekatan pada nowism (kekinian) dan menyibukkan diri dengan melihat kurs dolar maupun jumlah orang yang di-PHK tiap hari dan merenungkannya, kemudian menenggelamkan diri dengan berbagai isu-isu dan rumor-rumor yang tidak jelas arah dan sumbernya.

Akan sangat banyak energi yang terbuang sia-sia jika bangsa ini terjebak pada pola over-analysis dan over-observation sehingga malah tidak segera mengambil tindakan apa pun. Apakah dengan nilai dolar setiap hari berubah, seorang bussinesmen mesti mengubah bisnisnya setiap hari? Atau apakah semua orang mesti terjun beramai-ramai bermain valas, sehingga bangsa akan memakan dolar sebagai ganti beras? Apakah dengan menangisi orang-orang yang di-PHK semuanya akan beres?

Ketiga, kemelekatan pada ketergesaan dalam menghadapi krisis.
Tendensi tensi emosional masyarakat yang meningkat menimbulkan pola pikir, perubahan yang cepat, kalau bisa sekejap. Eksplosi emosional seperti ini tidak logis dan tidak realistis. Tidak mungkin kita bisa mengubah krisis ini dalam waktu sebulan, dua bulan atau bahkan setahun. Berbagai kambing hitam yang telah ditudingkan sebagai "faktor" krisis ini merupakan indikasi ketergesaan emosional masyarakat ini. Bila diformulasikan logika ketergesaan emosional masyarakat ini mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: "Mengapa terjadi krisis? Siapa penyebabnya? Ganyang penyebabnya; beres masalahnya." Logika seperti ini tidak keliru, dan secara otomatis pasti ada dalam masyarakat, hanya tidak secara otomatis memecahkan permasalahan.

Keempat, kemelekatan atas predikat-predikat tertentu yang dinisbatkan orang kepada bangsa. Indonesia "terbelakang". Indonesia "tidak maju". Indonesia "tidak demokratis". Indonesia "tidak menguasai teknologi". Indonesia "kolusi dan korupsi".

Kemelekatan pada ide bahwa bangsa ini terbelakang dan tidak maju menimbulkan kebergantungan permanen pada bangsa yang "telah maju". Padahal jika para insinyur Indonesia di bawah pimpinan Menristek Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie telah berhasil membuat pesawat N-250, teknologi apa yang tidak bisa dikembangkan bangsa ini? Mobil nasional dengan 80% komponen dalam negeri ? Sepeda motor nasional dengan lebih dari 80% komponen dalam negeri? Berbagai teknologi digital, mulai dari industri rumah alarm dan peralatan elektronik hingga software dan konsultasi system engineering ? Tentunya semuanya bisa, bila pikiran bangsa kita tidak melekat pada ide-ide negatif tersebut. Amerika dan kekuatan-kekuatan raksasa di dunia telah terbukti menunggangi kuda sembrani "globalisasi", dan menebarkan jaring laba-laba perangkapnya pada seluruh bangsa di dunia. Perangkapnya adalah kemelekatan pada ide bahwa semua yang berbau Amerika dan kekuatan-kekuatan raksasa tersebut "maju, modern, demokratis, sahih, valid, trendy", dan lain-lain. Film? Hollywood. Komik? Disney atau Dragon Ball. Musik? Michael Jackson atau Phill Collins. Komputer? IBM. Makan? KFC atau McDonald atau Wendy's atau Pizza Hut. Busana? Giani Versace. Motor? Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki. Mobil? BMW, Mercedez, Mitubishi, Toyota, Honda. Minuman? Coca-Cola. Idola? Bill Gates ataupun Leonardo Di Caprio. Buku favorit? Toffler dan Drucker. Sentral telepon? Siemens. Instrumentasi elektronik? Schlumberger. Mesin-mesin berat? Mitsubishi. Software? Microsoft. Komputer IBM. Buah-buaha? Anggur atau apel Jepang. Otomatis bangsa-bangsa yang terperangkapp merasa dirinya "terbelakang", "tradisional", "otoriter", "kurang benar", "tidak valid", dan "tertinggal". Yah, adalah satu ironi bahwa penghasilan sebuah perusahaan burger terkenal di Amerika lebih besar dari RAPBN Indonesia. Demikianlah satu realitas dari apa yang diyakini (jangan baca diimani" secara membuta oleh orang banyak sebagai "globalisasi" yang akan membawa berkah fan kesejahteraan global. Ternyata telah menyebarkan jaring laba-laba ide-ide yang menjajah, yang telah sekian lama meninabobokan bangsa dengan lagu "kemajuan adalah GNP dan GNP Anda naik berkat "globalisasi"? dan menghancurkan pikiran kreatif bangsa. Dan itu semua benar-benar telah melekat erat dalam pikiran dan kehidupan bangsa.

Kelima, kemelekatan pada keengganan untuk berubah, padahal semua kondisi dengan terang mengatakan kita harus berubah, atau mati.

Orang selalu mengatakan, jika kita hendak berubah nanti kondisinya lebih buruk. Logika seperti ini seperti mengatakan "jangan naik kendaraan bermotor apapun, dan berjalan kakilahm agar tidak tertabrak". Pikiran ini jelas-jelas salah. Karena orang selayaknya selalu mengatakan jika kondisi ini tidak benar, maka kita harus berbuat yang lebih benar. Dan tentu kita yakin akan suatu prinsip kesegalaan yang sering disebut dengan devine justice alias Keadilan Ilahi. Yang baik akan menuai yang baik. Yang buruk akan menuai yang buruk. Namun bila kita mempunyai kesepakatan untuk mengubahnya, kita benar-benar memiliki suatu kans besar untuk mengubahnya.

Keenam, kemelekatan pada kultur-kultur dan cara berpikir masyarakat yang jelas-jelas salah. Budaya kolusi dan korupsi dalam berbagai proyek.
Budaya ABS (asal bapak senaang). Lemahnya institusi dan kekuatan hukum, maupun kesadaran masyarakat akan hukum. Budaya cuek terhadap permasalahan politik dan sosial, yang bahkan telah menghinggapi para pelajar sejak era NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Budaya mengacuhkan agama, syariat agama, dan aturan-aturan Tuhan. Bagaimana mungkin di negeri yang kebanyakan adalah muslim, yang percaya hukum Tuhan, pabrik bir bisa beroperasi dengan lancar, budaya wine (anggur) menyerbu kalangan elit, acara-acara TV yang tidak layak mengisi sebagian besar kehidupan masyarakat, prostitusi diizinkan beroperasi dan berbagai sumber-sumber kemaksiatan lain? Mengapa banyak orang yang enggan untuk mengakui, seperti yang diserukan oleh Mas Amien Rais, bahwa kita harus melakukan tobat nasional. Bertobat atas seluruh cara berpikir dan kultur-kultur yang benar-benar salah dan kesalahannya tak perlu dibuktikan lagi (self-evident).

Ketujuh, untuk mengembalikan kepercayaan (trust) dalam masyarakat,  yang menurut Francis Fukuyama merupakan faktor kunci untuk mencapai masa itu, maka bangsa ini harus segera melepaskan diri dari semua keterlekatan dan kembali kepada prinsip-prinsip alami yang swa-bukti, yakni justice (keadilan), honesty (kesederhanaan), fair-play. Covey, dalam bukunya Managing by Principles, hanyalah pemimpin yang kembali pada prinsip-prinsip yang kembali pada prinsip-prinsip alami swa-bukti ini. Prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan seluruh makro dan mikrokosmos ini, dan yang menentangnya akan sirna. Dalam istilah Darwiniannya, the survival of the fittest (survivalitas yang paling cocok dengan alam). Dan bila bangsa Indonesia tidak segera melepaskan diri dari seluruh kemelekatan dan kemudian bersegera untuk kembali pada prinsip-prinsip niscaya yang alamiah ini, berarti bangsa Indonesia akan segera sirna?

Penulis adalah dosen teknik eletro ITB kelahiran 1968 di Semarang dengan catatan prestasi sebagai berikut: mahasiswa terbaik ITB tahun 1989, wisudawan terbaik-cumlaude tahun 1989, dan meraih gelar Master of Engineering di Waseda University, Tokyo dengan straight-A mark pada tahun 1994 dan Doktor dengan predikat cumlaude di ITB pada tahun 1998. Saat ini, selain sebagai dosen juga aktif berbicara di forum-forum internasional dan nasional di bidang Automation, Robotics and Computer Vision, serta aktif menulis di berbagai media-massa cetak dan berbicara di media TV dengan topik: trend teknologi, futuristik dan prospek masa depan. [di Sadur dari Menjemput Masa Depan, 1999]

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [8]

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [8]. Idiom  atau  ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru yang artinya tidak mudah dipahami hanya dengan memahami kata yang membentuknya. Postingan Idiom I 'Three in One" dan audionya dapat direview  "here" dan Pelajaran Idiom ke-2 "here". Idiom ke-3 dapat disimak "here". Idiom sesi ke-4 dapat direview "here' . Postingan Essential IDIOM ke-5, Idiom ke-6 . Idiom ke-7. Berikut adalah Essential Idiom ke-8,

LESSON 18
1. to do without: survive or exist without something (also: to go without)
With prices so high now, I'll have to do without a new suit this year.
o As a traveling salesperson, Monica can't do without a car.
o It's a shame that so many poor people in the world have to go without basic necessities of life such as nutritious food and suitable shelter.
2. according to: in the order of; on the authority of
o The students on the football team were ranked according to height, from shortest to tallest.
o According to my dictionary, you are using that word in your essay incorrectly.
3. to be bound to: to be certain to, to be sure to
This idiom is used when the occurrence of an event seems inevitable or unavoidable.
o We are bound to be late if you don't hurry up.
o With the economy improving now, their business is bound to make more money this year.
4. for sure: without doubt (also: for certain)
o In the dark, I couldn't tell for sure whether it was Polly or Sarah who drove by.
o I now for certain that Gene will move back to Washington next month.
5. to take for: to perceive or understand as (S)
This idiom is usually used when someone is mistakenly perceived. A noun or pronoun must separate the idiom.
o Because of his strong, muscular body, I took him for a professional athlete. As it turns out, he doesn't play any professional sports.
o What do you take me for --- a fool? I don't believe what you're saying at all.
6. to try out: to test, to use during a trial period (S)
o You can try out the new car before you decide to buy it.
o I can let you try the computer out for a few days before you make a decision.
7. to tear down: to destroy by making flat, to demolish (S)
o The construction company had to tear down the old hotel in order to build a new office building.
o The owners had to tear the house down after it burned down in a fire.
8. to tear up: to rip into small pieces (S)
o Diedre tore up the letter angrily and threw all the pieces into the trash can.
o He told the lawyer to tear the old contract up and then to prepare a new one.
9. to go over: to be appreciated or accepted
This idiom is usually followed by the adverb well. (I Lesson 6 this idiom has
the meaning to review, as in the second sentence of the second example below.)
o The teacher's organized lessons always go over well with her students.
o The comedian's jokes weren't going over well; the audience wasn't laughing much at all. I think that the comedian should go over his material more carefully before each act.
10. to run out of: to exhaust the supply of, not to have more of
o We ran out of gas right in the middle of the main street in town.
o It's dangerous to run out of water if you are in an isolated area.
11. at heart: basically, fundamentally
This idiom is used to describe the true character of a person.
o James sometimes seems quite unfriendly, but at heart he's a good person.
o The Fares often don't see eye to eye, but at heart they both love each other very much.
12. about to: ready to, just going to
o We were about to leave the house when the phone rang.
o I'm sorry that I broke in. What were you about to say?


LESSON 19
1. to bite off: to accept as a responsibility or task
This idiom is often used when one accepts more responsibility than one can
handle alone. It is usually used in the form to bite off more than one can chew.
o When I accepted the position of chairman, I didn't realize how much I was biting off.
o When James registered for 18 units in his last semester at college, he
2. bit off more than he could chew.
3. to tell apart: to distinguish between (also: to pick apart, to tell from) (S)
o The two brothers look so much alike that few people can tell them apart.
o That copy machine is so good that I can't pick the photocopy and the original apart.
o Most new cars are very similar in appearance. It's almost impossible to tell one from another.
4. all in all: considering everything
o There were a few problems, but all in all it was a well-organized seminar.
o Leonard got a low grade in one subject, but all in all he's a good student.
5. to pass out: to distribute (also: to hand out) (S); to lose consciousness
The verbal idiom to hand out can be made into the noun handout to refer to items that are distributed in a class or meeting.
o Please help me pass out these test papers; there must be a hundred of them.
o Alright, students, here are the class handouts for this week.
o The weather was so hot in the soccer stadium that some of the fans in the stands passed out.
6. to go around: to be sufficient or adequate for everyone present; to circulate, to move from place to place
o We thought that we had bought enough food and drink for the party, but actually there wasn't enough to go around.
o There's a bad strain of influenza going a
7. to be in (the/one's) way: to block or obstruct; not to be helpful, to cause inconvenience (for both, also: to get in the/one's way)
o Jocelyn couldn't drive through the busy intersection because a big truck was in the way.
o Our small child tried to help us paint the house, but actually he just got in our way.
8. to put on: to gain (pounds or weight) (S); to present, to perform (S)
o Bob has put on a lot of weight recently. He must have put at least fifteen pounds on.
o The Youth Actor's Guild put on a wonderful version of Romeo and Juliet at the globe Theater.
9. to put up: to tolerate, to accept unwillingly
o The employee was fired because his boss could not put up with his mistakes any longer.
o While I'm studying, I can't put up with any noise or other distractions.
10. in vain: useless, without the desired result
o All the doctors' efforts to save the injured woman were in vain. She was declared dead three hours after being admitted to the hospital.
o We tried in vain to reach you last night. Is your phone out of order?
11. day in and day out: continuously, constantly (also: day after day; for longer periods of time, year in and year out and year after year)
o During the month of April, it rained day in and day out.
o Day after day I waited for a letter from him, but one never came.
o Year in and year out, the weather in San Diego is the best in the nation.
12. to catch up: to work with the purpose of fulfilling a requirement or being equal to others
The idiom is often followed by the preposition with and a noun phrase. It is
similar in meaning to keep up with from Lesson 17.
o The student was absent from class so long that it took her a long time to catch up.
o If you are not equal to others, first you have to catch up with them before you can keep up with them.

12/05/2012

Kesejahteraan Perspektif Komunitas

Sumber: http://www.nationalarchives.gov.uk
Kesejahteraan Perspektif Komunitas. Andorra, Sebuah negara kecil terletak antara dua negara Perancis dan Spanyol, sebelah timur pegunungan Pyrenees. luasnya 468 km2 dengan jumlah penduduk Jumlah penduduk hanya 280.228 jiwa. Negeri kepangeranan ini berada di Eropa barat daya. Sebelah timur bantaran Sungai Pyrenees yang berbatasan dengan Perancis dan Spanyol. Negara makmur ini sangat mengandalkan sektor pariwisata dan juga kegiatan kebeacukaian. Andorra merupakan sebagian dari negara-negara Katalan. Karel yang Agung atau Karel Agung— Bapak pendiri Perancis dan Jerman, bahkan kadang disebut Bapak pendiri Eropa sejarah negeri ini cukup unik. Negeri ini terbilang cukup tua, telah ada sejak 1278. Cerita yang berkembang mengatakan, Karel yang Agung atau Karel Agung Bapak pendiri Perancis dan Jerman, bahkan kadang disebut Bapak pendiri Eropa. Ia adalah kaisar pertama di Barat sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi.— memberikan piagam untuk orang Andorra sebagai pengganti perang mereka melawan bangsa Moor. Jabatan maharaja di daerah itu diwariskan kepada pangeran Urgell dan akhirnya kepada uskup dari keuskupan Urgell. Pada abad ke-11, terjadi pertentangan antara uskup dan tetangganya di utara Perancis atas Andorra. 

Pada 1278, konflik itu diselesaikan dengan penandatanganan parage, yang menegaskan bahwa kedaulatan Andorra dipegang antara pangeran Foix dari Perancis (yang akhirnya jabatannya diserahterimakan kepada kepala negara Prancis) dan uskup La Seu d’Urgell, di Katalonia, Spanyol. Ini memberikan kepangeranan kecil itu wilayahnya beserta bentuk politisnya.
Selama bertahun-tahun jabatan itu diwariskan kepada raja Navarre. Setalah Henrike dari Navarra menjadi Raja Henri IV dari Perancis, ia mengeluarkan dekrit (1607) yang memberikan kepala negara Prancis dan Uskup Urgell jabatan perangkap-pangeran Andorra. Antara 1812–13, Kekaisaran Perancis menganeksasi Katalonia Spanyol dan membaginya menjadi 4 departemen. Andorra juga dianeksasi dan dijadikan bagian distrik Puigcerdà (departement Segre). Pada 1933 Perancis menuduki Andorra sebagai akibat dari kerusuhan sosial sebelum pemilihan. Pada 12 Juli 1934, seorang penjelajah bernama Boris Skossyreff mengeluarkan proklamasi di Urgel, menyatakan dirinya sebagai Boris I, pangeran berdaulat dari Andorra, secara serentak menyatakan perang kepada uskup Urgel.Ia ditangkap oleh pemerintah Spanyol pada 20 Juli dan akhirnya diusir dari Spanyol. Dari 1936 sampai 1940, sebuah detasemen Perancis ditempatkan di Andorra untuk mencegah pengaruh Perang Saudara Spanyol dan Francisco Franco Bahamonde. Namun, pasukan Francisco Franco mencapai perbatasan Andorra di akhir perang. Selama PD II, Andorra tetap netral dan merupakan rute penyelundupan penting antara Vichy Perancis dan Spanyol.
Saya kira cukup untuk pengantar kondisi geografis dan sekilas sejarah Andorra.
Lalu, apa yang unik dengan Andorra ? 

Kenapa kehidupan masyarakat Andorra, menarik, bahkan BBC pernah membuat reportase tentang kehidupan masyarakatnya yang mempunyai tingkat harapan hidup yang rata-rata tinggi di dunia. 

Sebelum sampai pada uraian tentang bagaimana antara negara dan pada umumnya masyarakat untuk memandang kesejahteraan, perlu disimak beberapa contoh negara lain. Dibalik kemajuan sebuah bangsa yang selalu diukur oleh ukuran yang serba materiil, terutama negara-negara Eropa, Andorra merupakan sebuah negara kecil yang terletak antara Perancis dan Spanyol, sebelah timur pegunungan Pyrenees. Negara ini rara-rata tingkat harapan hidup (life expectancy) penduduknya 83.5 tahun dan beberapa dari mereka hidup hingga 90 tahun. Negara ini sudah tujuh abad tidak pernah konflik dengan negara luar dan oleh karenanya tidak memiliki tentara. Penduduknya gemar berolah raga, memelihara udara bersih, makan sedikit daging atau daging yang tak berlemak, banyak makan sayuran, mengkonsumsi minyak zaitun dan memelihara kesehatan yang baik. Barang kali salah satu rahasia hidup adalah tingkat strees yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30% ada faktor genetis yang menyebabkan hidup panjang, namun 70% diperkirakan dari gaya hidup (lifestyle) mereka. Negara yang dilihat terisolasi dari negara Eropa itu penduduknya sangat damai. Setelah dewasa orang hidup harus berpasangan dan harus menjaganya, memiliki kewajiban membantu satu dengan lainnya, memiliki hak yang sama untuk menjamin ketahanan sosial (Henley, 2008, BBC News) .

Ini tidak hanya terjadi di satu negara melainkan juga terjadi dalam beberapa masyarakat dibeberapa negara. Di Sardinia Itali, di Okinawa Jepang dan di Loma Linda California AS, adalah contoh dimana terdapat penduduk yang rata-rata hidupnya berumur panjang di atas 80 tahun. Dari beberapa wilayah yang terpisah ini umumnya terdapat kebiasaan yang serupa, meskipun ada perbedaan latar belakang dan keyakinannya. Rata-rata rahasia hidup berumur panjang itu karena gaya hidup mereka. Pada umumnya mereka hidup dengan gaya tradisional, mengutamakan keluarga, ramah dengan orang lain, menghargai antar sesama atau mencintai sesama dan mengutamakan pergaulan dalam kehidupan, selain itu juga tidak pernah menggerutu. Pada umumnya mereka gemar berolahraga dan berkegiatan. Merawat dan memelihara orang tua dalam satu keluarga dan bukan mengirimkannya ke rumah jompo. Mereka pada umumnya gemar makan sayuran dan buah-buahan dan tidak merokok, bahkan orang Lomba Linda di Kalifornia hidup dengan tidak menyantap daging sapi, kambing dan babi yang dianggap tidak suci menurut Agama Advent Hari Ketujuh. Orang Okinawa, agama menjadi bagian penting meskipun agama yang dianutnya berbeda dengan orang Lomba Linda, yakni berkeyakinan Khong Hu Cu (National Geographic Indonesia : 2005).

Tingginya harapan hidup merupakan salah satu indikasi kesejahteraan. Apa yang dapat dipetik dari pelajaran mengenai masyarakat dibeberapa negara ini? Sejahtera bukanlah satu satunya diukur atas capaian materiil. Kalau dilihat dari apa yang telah dicapai oleh penelitian tentang beberapa masyarakat tersebut di atas, sejahtera juga dipahami secara sosial, psikologis, higienis, dan terpeliharanya kebugaran tubuh (George, 1995:1). Dari segi sosial, mereka ramah dengan orang lain, mengutamakan keluarga dan menghindari konflik. Meskipun tidak tampak dari cerita di atas, kemungkinan keadilan distributif (justice distribution) menjadi komponen yang dipertimbangkan juga. Secara psikologis, mereka diikat oleh keyakinan dan tidak menggerutu. Secara higienis, makanan yang dikonsumsi tidak mengandung unsur lemak tinggi, secara fisik, mereka pada umumnya tidak pernah berhenti berkegiatan dan berolah raga.
Orang-orang ini hidup dalam masyarakat, yang tidak terpengaruh oleh kehidupan modern. Kalau disimak, mereka pada umumnya memiliki cara perumusan sejahtera yang amat berbeda dengan ukuran sejahteranya konstruksi modernitas dimana kesejahteraan itu lebih banyak dilihat dari pemenuhan kebutuhan materiil yang dikonstruksikan oleh pasar. 

Barangkali rasa sejahtera seperti ini, dilihat dari pandangan masyarakat modern, merupakan cara hidup tradisional sebab banyak hal yang sulit diukur secara kuantitatif sebagaimana pencapaian kesejahteraan secara individual dengan ukuran materiil. Bagaimana ketenteraman, pemahaman keyakinan hidup, keramahan dan sikap tidak menggerutu dalam kehidupan adalah menjadi bagian perasaan yang terdalam dalam hidup sejahtera. Indikator seperti ini kemungkinan besar terdapat juga dalam masyarakat Indonesia meskipun kehidupan seperti ini adalah bagian yang tersisa dari kehidupan masa lalu. Cara hidup seperti ini sangat lazim dalam masyarakat tradisional di desa, dimana tidak ditandai oleh gaya hidup kelimpahan materiil dan sangat sederhana. Komunitas memegang peranan penting bahwa kesejahteraan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana komunitas mengelola institusi kesejahteraan yang menjamin para anggotanya. Pada masa lalu desa-desa di Jawa memiliki lumbung padi. Lumbung ini menjadi cadangan pangan bagi penduduk desa tatkala paceklik terjadi. Lumbung padi yang dihimpun dari pengumpulan padi setiap penduduk esensinya adalah ketahanan komunitas, yakni kedaulatan pangan (food sovereignity) sekaligus adalah ketahanan pangan (food security) bagi penduduk desa. Tentu dalam kehidupan bersama, desa selalu memiliki institusi resolusi konflik. Harmoni menjadi bagian yang didambakan untuk memahami kesejahteraan. Saling menjamin antartetangga jika terjadi kesulitan. Konsep Patron-Klien (pattern client relationships) dalam konseptualisasi pikiran materiil dan individualis adalah sebuah bentuk eksploitasi dari patron ke klien, namun institusi seperti ini adalah hubungan yang saling menjamin antara pemilik tanah luas dan tak bertanah (landless). James C. Scott (1976:41) mengatakan bahwa keduanya saling memiliki kewajiban moral (moral obligations ) , seperti orang yang numpang tinggal ditanahnya orang kaya “ngindung” memiliki kewajiban moral terhadap yang ditumpangi, demikian sebaliknya. 
 
Di tengah masyarakat Indonesia yang sedang berubah dimana kesejahteraan ditentukan atas ukuran individual yang ditandai oleh peningkatan pendapatan dan pemilikan, institusi kesejahteraan yang berbasis komunitas (community welfare) dalam beberapa hal masih tampak di pedesaan maupun kampung pinggiran kota. Kerangka ini tidak dapat ditangkap oleh kerangka organisasi formal pelayanan kesejahteraan sosial (Narayan, 2007:141). Institusi itu antara lain adalah kematian, sakit, hajatan dan berbagai bentuk kegiatan untuk kepentingan bersama yang dipikul secara bersama-sama. Perilaku sosial seperti ini juga diamanatkan oleh agama sebagai kepedulian terhadap kemanusiaan (Barusch, 2005:131) Misalnya kematian, sekarang ini orang mati pun harus membayar ketika hendak dikuburkan. Biaya yang dikeluarkan oleh sanak keluarga mulai dari bedah bumi sampai dengan menjamu para pelayat tidak bisa lepas dari biaya ekonomi dari para keluarga. Namun orang yang meninggal tatkala mereka masih hidup telah mengasuransikan hidupnya kepada komunitas dengan cara ikut menyumbang ketika ada tetangganya yang meninggal. Ini lah yang disebut dengan community insurance (Banerjee , 2006:369).
 
Dalam struktur masyarakat modern yang berbasis kepada kepentingan individu, kegiatan seperti ini ditangkap sebagai kegiatan pemborosan. Orang ketika dilihat dari ukuran materiil adalah miskin namun dalam kehidupan sosialnya masih membagi-bagikan apa yang dimiliki untuk menjamin keberlangsungan komunitas (shared poverty). Konsep membagi kemiskinan dikemukakan oleh salah satu Indonesianis, yakni Clifford Geertz yang menyoroti tentang perkembangan masyarakat Indonesia saat memasuki modernisasi dimana perubahan itu ditunjukkan ada perkembangan namun perkembangan itu tidak menunjukkan peningkatan (involution). Tentu, kerangka konseptualnya untuk menyebutkan shared poverty terhadap perkembangan masyarakat Indonesia karena ia melihatnya dari cara pandang capitalist mode of production .

Keluarga besar yang diikat oleh komunitas masih berlangsung ditengah perkembangan masyarakat yang sudah mulai individualis atas konstruksi kapitalisme. Keluarga besar, dalam pengertian ikatan komunitas ini, merupakan institusi yang membawa masyarakat itu tetap exist, meskipun banyak pihak dalam institusi kesejahteraan modern menganggapnya komunitas itu miskin. Salah satu contoh masyarakat Gunung Kidul, ketika mereka menengok sanak keluarganya atau tetangganya yang sedang menderita sakit dan harus dirawat di rumah sakit, mereka tidak membawa roti, buah buahan atau sejenis makanan lain seperti layaknya orang kota sebagai kepedulian untuk ikut sependeritaan. Mereka satu persatu menyisihkan uangnya untuk diberikan kepada sisakit atau keluarganya. Ini adalah sebuah rasionalitas dimana penderitaan dipikul secara bersama-sama oleh anggota komunitas. Kiranya banyak hal yang ditegakkan oleh komunitas ini sebagai sebuah institusi kesejahteraan. 

Bagi anak-anak desa atau kampung biaya pendidikan seringkali juga dibantu oleh keluarga yang mampu. Pada pedagang kecil, kemajuan usaha kalau diukur dari pertambahan akumulasi keuntungan materiil yang diperoleh, barang kali ini tidak akan tampak, sejak dulu berjualan untuk mempertahankan kehidupan hanya itu itu saja, akan tetapi kemampuan mereka untuk menyekolahkan anak, membiayai kesehatan, ketika sakit, adalah bentuk akumulasi kapital sosial (sosial capital) dan bukan diwujudkan sebagai kapital materiil. Kiranya tidak hanya terjadi di Okinawa, Sardina dan Loma Linda bahwa tingkat harapan hidup masyarakat itu tinggi, melainkan juga sebagian orang-orang desa di Indonesia yang hidupnya panjang karena kesederhanaan gaya hidup masih banyak jumlahnya. Ini perlu kajian sampai seberapa jauh kesederhanaan mereka memberikan kontribusi terhadap life expectancy

Mereka adalah orang orang yang hidupnya tidak terlalu terpengaruh oleh 
keinginan yang disuguhkan oleh pasar. Sekarang ini, pekerjaan di sektor pertanian diisi oleh para petani yang usianya lanjut. Meskipun demikian, mereka masih mencangkul, merokok walau pun usianya sudah 80 tahun. Sebuah realitas yang perlu diperhatikan, institusi kesejahteraan yang dijamin oleh komunitas itu menyediakan indikator sosial seperti ketenteraman, asuransi sosial, ketahanan sosial dalam keluarga dan komunitas.
 
Perubahan gaya hidup materiil dan lebih individualis dialami oleh ibu-ibu muda yang memutuskan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Meskipun rentan perlindungan ketenagakerjaan, ini tidak menyurutkan tekadnya menjadi TKW keluar negeri. Tentu hasil ekonomi yang diperoleh jauh lebih baik dibandingkan dengan bekerja di Indonesia. Kiranya tidak sedikit bagi para ibu yang telah mampu membangun rumahnya. Kepergian kerja dalam waktu lama juga ada biaya sosial yang harus dibayar (social opportunity cost), yakni keretakan berumah tangga, perceraian, perselingkuhan ketika para suami ditinggal istri, anak-anak mereka frustrasi dan terjerumus narkoba. Apakah ini sebuah indikasi hidup sejahtera? Kebutuhan materi sudah tentu tidak bisa diabaikan, akan tetapi well being bukan satu satunya ukuran materiil, kebutuhan sosial, kebutuhan psikologis, kebutuhan kebugaran fisik menjadi bagian yang terdapat di dalamnya.

Pada umumnya kondisi kehidupan seperti ini dalam masyarakat Indonesia justru menjamin asuransi sosial yang seharusnya dipikul oleh negara. Dapat dibayangkan, seandainya kondisi seperti ini tidak ada, ditengah krisis ekonomi yang berakibat pada rasionalisasi ketenagakerjaan diperusahaan besar, radikalisasi sosial akan mengakibatkan stabilitas sosial politik akan goncang ketika negara tidak mampu mengatasi pemutusan hubungan kerja. Keuntungan terbesar dari kondisi kehidupan masyarakat tradisional yang tersisa masih mampu menjamin sanak keluarga untuk hidup bersama ketika ada pemutusan hubungan kerja. Mereka pulang ke desa masih disapa dan diterima untuk sementara waktu sebelum mendapat pekerjaan baru. Tentu ini akan sulit di negara maju karen harus melakukan intervensi besar-besaran untuk biaya sosial disaat terjadi krisis.

Semoga Bermanfaat, Keep share and enjoy,

Sumber gambar: http://www.nationalarchives.gov.uk/cabinetpapers/alevelstudies/1965-cartoon.
Sebagian besar tulisan ini disadur dari Working paper " : Prof.Dr. Susetiawan: Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat: Sebuah Ketidakberdayaan Para Pihak. FISIP UGM.

11/05/2012

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [7]

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [7]. Idiom  atau  ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru yang artinya tidak mudah dipahami hanya dengan memahami kata yang membentuknya. Postingan Idiom I 'Three in One" dan audionya dapat direview  "here" dan Pelajaran Idiom ke-2 "here". Idiom ke-3 dapat disimak "here". Idiom sesi ke-4 dapat direview "here' . Postingan Essential IDIOM ke-5, Idiom ke-6 .


Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan selain mencarinya dalam kamus. Berikut adalah beberapa contoh idiom yang biasa di gunakan dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam tes Toefl. Idiom essential ke-7 Sebagai berikut:


LESSON 161. on one's toes: alert, cautious
This idiom is usually used with the verbs stay and keep.
o It's important for all the players on a soccer team to stay on their toes.
o We'd better keep on our toes while we're walking along the dark portions of this street.
2. to get along: to make progress; to manage to live in a certain state of health
o Juan is getting along very well in his English studies.
o How is Mr. Richards getting along after his long illness?
3. hard of hearing: partially deaf, not able to hear well
o You'll have to speak a little louder. Mrs. Evans is hard of hearing.
o Please don't shout. I'm not hard of hearing.
o Listening to loud music too much can make you hard of hearing.
4. to see eye to eye: to agree, to concur
o I'm glad that we see eye to eye on the matter of the conference location.
o A husband and wife don't always see eye to eye with each other, but a good marriage can survive small disagreements.
5. to have in mind: to be considering, to be thinking (S)
o I don't want to see a movie now. I have in mind going to the park.
o It's up to you what we eat tonight. Do you have anything in mind?
6. to keep in mind: to remember, not to forget (S) (also: to bear in mind)
o Please keep in mind that you promised to call Stan around noon.
o I didn't know that Paula doesn't like vegetables. We should bear that in mind next time we invite her for dinner.
7. for once: this one time, for only one time
o For once I was able to win a game of golf against Steve, who is a much better player than I am.
o Dad, for once would you please let me drive the new car?
8. to go off: to explode; to sound as an alarm; to leave suddenly without explanation
o The accident happened when a box of firecrackers went off accidentally.
o For what time did you set the alarm clock to go off tomorrow morning?
o Vince went off without saying good-bye to anybody; I hope he wasn't angry.
9. to grow out of: to outgrow, to become too old for; to be a result of
o He still bites his nails now and then, but soon he'll grow out of the habit.
o The need for the salary committee grew out of worker dissatisfaction with the pay scale.
10. to make the best of: to do the best that one can in a poor situation
o If we can't find a larger apartment soon, we'll just have to make the best of it right here.
o Even though the Martinez family is having financial problems, they make the best of everything by enjoying the simple pleasures of life.
11. to cut off: to shorten by cutting the ends (S); to disconnect or stop suddenly (S)
o The rope was two feet longer than we needed, so we cut off the extra length.
o The operator cut our long-distance phone conversation off after two minutes.
12. to cut out: to remove by cutting (S); to stop doing something (S) (for the second definition, also: to knock it off)
For the second definition, the idiom is usually separated by the pronoun it.
o The child likes to cut out pictures form the newspaper and to paste them in a notebook.
o He kept bothering her, so finally she told him to cut it out. However, he wouldn't knock it off until her larger brother appeared.

LESSON 171. to blow out: to explode, to go flat (for tires); to extinguish by blowing (S)
o On our trip to Colorado, one of the car tires blew out when it hit a large hole in the road.
o Little Joey wasn't able to blow all the candles out, so his big sister helped him.
2. to become of: to happen to (a missing object or person)
This idiom is always used in a clause beginning with what.
o What has become of my pencil? I had it ten minutes ago, but now I can't find it.
o I wondered what became of you. I looked around the shopping center for two hours, but I couldn't find you at all.
3. to shut up: to close for a period of time (S); to be quiet, to stop talking
The second definition of this idiom is impolite in formal situations.
o During the hurricane, all the store owners shut their shops up.
o Bob's sister told him to shut up and not say anything more about it.
o The student got into big trouble for telling his teacher to shut up.
4. have got: to have, to possess
o Curtis has got a bad cold. He's sneezing and coughing a lot.
o How much money have you got with you right now?
5. have got to: must (also: have to)
o She has got to go to Chicago today to sign the contract papers.
o I have to be back home by two o'clock or my wife will feel ill at ease.
6. to keep up with: to maintain the same speed or rate as
o Frieda works so fast that no one in the office can keep up with her.
o You'll have to walk more slowly. I can't keep up with you.
7. on the other hand: however, in contrast
o Democracies provide people many freedoms and privileges. On the other hand, democracies suffer many serious problems such as crime and unemployment.
o My sister takes after my father in appearance. On the other hand, I take after my mother.
8. to turn down: to reduce in brightness or volume (S); to reject, to refuse (S)
o Please turn down the radio for me. It's too loud while I'm studying.
o Laverne wanted to join the military but the recruiting officer turned her application down because Laverne is hard of hearing in one ear.
9. fifty-fifty: divided into two equal parts
o Let's go fifty-fifty on the cost of a new rug for our apartment.
o The political candidate has a fifty-fifty chance of winning the election.
10. to break in: gradually to prepare something for use that is new and stiff (S);
to interrupt (for the second definition, also: to cut in)
o It is best to break a new car in by driving it slowly for the first few hundred miles.
o While Carrie and I were talking, Bill broke in to tell me about a telephone call.
o Peter, it's very impolite to cut in like that while others are speaking.
11. a lost cause: a hopeless case, a person or situation having no hope of positive change.
o It seems that Charles will never listen to our advice. I suppose it's a lost cause.
o The police searched for the missing girl for two weeks, but finally gave it up as a lost cause.
o Children who have committed several crimes as teenagers and show no sorrow about their actions are generally lost causes.
12. above all: mainly, especially
o Above all, don't mention the matter to Gerard; he's the last person we should tell.
o Sheila does well in all her school subjects, but above all in mathematics. Her math scores are always over 95 percent.



@alamyin, Semoga bermanfaat, Keep Share !

09/05/2012

CONTOH (Kerangka) PROPOSAL PENELITIAN EKONOMI (2)

CONTOH (Kerangka) PROPOSAL PENELITIAN EKONOMI (2). Kita ketahui bersama bahwa proposal yang baik adalah separuh dari keberhasilan penelitian. Postingan sebelumnya "Proposal Penelitian Ekonomi (1)", Seperti yang diutarakan pada Tulisan tersebut tentang cara membuat Pendahuluan yang baik. Kenapa ini penting, Karena dalam banyak kasus, terjadi kesalahan dalam menguraikan pentingnya penelitian yang harusnya terungkap dengan jelas dalam pendahuluan oleh karena itu akan diuraikan satu persatu cara membuat pendahuluan yang memadai.
Kemukakan faktor-faktor yg mengantar pada pemilihan judul:
  • Latar Belakang Penelitian
1.  Kondisi umum atau perspektif makro penelitian
2.  Jelaskan pentingnya penelitian
3.  Kemukakan jika penelitian:
-- Penelitian relatif baru, merupakan sanggahan atau pengembangan dari penelitian sebelumnya.
-- Mulai dengan pernyataan yg provokatif, kontroversial sehingga ada ketertarikan untuk membaca.
--  Sajikan secara menarik tentang kronologis judul yang dapat berupa evaluasi judul hingga statusnya sekarang.
-- Tampilkan data sekunder tentang profil obyek penelitian,  yang dapat diperoleh dari buku2, jurnal, majalah, lapooran penelitian,  dll.
Akhiri dengan pernyataan : Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka peneliti memilih judul penelitian: ....……………………….

Latar belakang dapat diilustrasikan seperti gambar berikut:


  • Masalah Penelitian
  Identifikasi, pilih dan rumuskan masalah-masalah penelitian.
 - Apakah terdapat hubungan yang erat antara ... dengan…..?
 - Bagaimana pengaruh ……….terhadap …………...?
  • Tujuan Penelitian
  Kemukakan yang akan dicapai oleh penelitian: Untuk mengetahui, menganalisis atau membandingkan.
-- Untuk mengetahui pengaruh … terhadap …
-- Untuk mengetahui hubungan antara ……dengan …..…
-- Untuk menganalisis …..…….

  • Manfaat penelitian
Kemukakan siapa yg diharapkan memperoleh manfaat penelitian: Pengembangan ilmu pengetahun, Lemabaga, dan atau penelitian lain.
-- Penelitian ini diharapkan memberi manfaat dalam………
-- Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam...
Jadi penelitian kita hanya salah satu bahan, kadang kita sedikit angkuh mengatakan sebagai referensi. :).

Ad.3 : TINJAUAN PUSTAKA
Cakupan:  Penelitian terdahulu,  Landasan teoritis,  Kerangka teoretis (pikir),  Hipotesis penelitian.
-- Kemukakan hasil penelitian2 sebelumnya utk mengakrabkan peneliti dg informasi, data, model/peralatan analisis yang mungkin terkait dengan masalah yang sedang diteliti.
-- Kemukakan dan sintesakan teori-teori yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti.
--Buat dan tuliskan kerangka fikir dari sintesis teori-teori yang relevan, hubungkan variabel-variabel yang terkait .
-- Buat bagan keterkaitan variabel-variabel yang mungkin berhubungan atau mempengaruhi variabel penelitian yang sedang dilakukan.
-- Dari kerangka fikir, turunkan hipotesis penelitian yang merupakan jawaban teoritis sementara atas masalah-masalah  penelitian yang telah dikemukakan yang masih harus dibuktikan  validitasnya. 
-- Jumlah hipotesis seyogyanya berkorespondensi dengan jumlah masalah penelitian.
(ini juga kadang menjadi masalah umum, dimana masalah penelitian tidak sama jumlahnya dengan hipotesis).

Ad 4.  METODE PENELITIAN
Cakupan:  Lokasi Penelitian,  Populasi dan sampel,  Jenis data (Primer atau sekunder),  Model Analisis,  Definisi operasional konsep/variabel.

Ad 5.  DAFTAR PUSTAKA
Memuat daftar semua bacaan yang terkait dg penelitian. Alfabetis, atau  nomor, atau lainnya.


07/05/2012

Biaya Eksternalitas dan Abu Nawas


Biaya Eksternalitas dan Abu Nawas. Seorang pria miskin, sebut saja namanya Abu Nawas. Ia bertetangga dengan keluarga kaya raya dan kurus. pada suatu hari, Abu Nawas ngerumpi di warung kopi bersama teman-temannya. Melihat perawakan Abu Nawas yang semakin tambun  (gemuk) mengundang tanya koleganya. Hai, Abu, apa rahasia kamu sehingga kamu semakin gemuk ? tanya teman Abu Nawas. Tidak ada rahasia untuk kelian semua. Kontribusi tetangga saya yang kaya raya yang menjadikan saya seperti ini, setiap hari membuat masakan yang sedap dan aromanya senantiasa meliputi ruangan dirumah saya, sehingga walaupun masakan saya sederhana dan tidak beraroma sedap namun aroma masakan tetangga cukup menambah selera makan. Sehingga saya pun bisa makan seperti yang dinikmati tetangga saya.

Berita ini pun menyebar ke seluruh kota hingga ke rumah tetangga Abu Nawas yang kaya raya. Abu Nawas pun di tuntut ganti rugi oleh orang kaya tersebut, ia harus membayar atas aroma yang telah dia nikmati. Dalam persidangan Abu Nawas tidak melakukan pembelaan dan siap mengganti (mengkompensasi) aroma yang telah dia nikmati. Tapi sebelum hakim, penuntut dan hadirin persidangan meninggalkan ruangan sidang. Abu Nawas mengeluarkan beberapa uang koin dari kantongnya dan meminta agar orang kaya tersebut mendengarkan gemerincing uang koinnya dengan seksama dan khusyu sebagai kompensasi atas aroma masakannya. :)

Cerita Abu Nawas di atas, adalah contoh paling sederhana konsep eksternalitas. dalam ekonomi, eksternalitas  terjadi bila aktivitas seorang pelaku ekonomi mempengaruhi aktivitas pelaku ekonomi yang lain, namun pengaruhnya tidak terefleksikan pada transaksi di pasar. Misalnya, Pabrik bahan kimia mengeluarkan bahan beracun, Kebisingan lalu lintas pesawat di bandara, Limbah industri yang mengotori sungai dan perikanan disekitarnya. Eksternalitas bisa positif, kadang pula negatif. Ia positif jika saling menguntungkan, misalnya petani Apel berdekatan dengan Peternak lebah. Sedangkan Eksternalitas negatif, dapat dicontohkan dengan industri baja dengan petani tambak. Berkaitan dengan eksternalitas kedua, maka peran pemerintah sebagai mediator yang baik jujur dan adil sangat diperlukan. Dalam banyak kasus peran pemerintah dalam penyelsaian kasus eksternalitas negatif kurang mampu menjadi mediator yang elegan, alih-alih memberikan solusi justru malah memperparah keadaan. Contoh yang paling dekat adalah kasus lumpur Lapindo. Belum lagi kalau eksternalitas berkaitan dengan barang publik, maka kondisi semakin kompleks.

Namun, bagaimana dengan kasus Abu Nawas di atas, silahkan nilai sendiri. Tulisan sederhana ini juga mencoba menyentil salah satu buku yang yang dalam bagian tertentu membahas tentang eksternalitas. Dalam buku Radikal Itu Menjual, Karya Joseph Heat dan Andrew Potter meruntuhkan mitos tentang radikalitas gaya hidup (terjemahan dari Rebell Sell).

Mereka memberi argumen bahwa “budaya-tanding” atau hasrat melawan arus, berbeda, untuk menjalani hidup alternatif, justru merupakan kekuatan utama pendorong kapitalisme dan konsumerisme kontemporer. Ide bahwa pemberontakan gaya hidup individual akan bisa mengguncang “sistem” justru telah semakin memapankan masyarakat konsumen yang hendak ditentangnya sendiri itu. Lebih parah lagi, ide-ide budaya-tanding juga telah mempengaruhi politik progresif dan memelencengkannya dari cita-cita awal memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Dicontohkan bahwa kampanye aktivis penentang Industri minyak, pertambangan dan semcamnya sia-sia, tidak efektif dan hanya buang-buang waktu. Menurut mereka, akan lebih baik juga para pencemar lingkungan membayar "BIAYA POLUSI". Biaya polusi sudah diterapkan oleh beberapa negara, bahkan penghitungan polusi emisi karbon sudah ada ketentuan angka-angkanya, dan rumus untuk menghitung biaya eksternalitas negatif (biaya polusi). Salah satunya yang ditawarkan oleh ekonom, diantaranya adalah Inovasi  penting terkait Pigouvian taxation adalah gagasan tentang “pollution rights”. Misalkan perusahaan x dapat membeli hak polusi kepada perusahaan y. Pilihan x untuk  membeli hak tersebut identik dengan pilihan jumlah output yang akan diproduksi. Lagi..lagi.. peran pemerintah melalui AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) diharapkan berperan dengan baik. Dan diperlukan keberpihakan pada publik, jika ia bersentuhan dengan barang Publik. Jika tidak, maka apa gunanya kita bernegara jika pemerintah tidak bisa melindungi warganya ? apa gunanya konstitusi jika tidak dipatuhi ?.


(Inspirasi Abu Nawas dari Pak Agus, Biaya polusi dari prof. Rahmatia, Dosen Ekonomi Unhas Mks)  
Sumber Gambar: 
http://4.bp.blogspot.com/-PNXAhRvYhTw/TZxJP6iQRtI/AAAAAAAAAAo/LVHD7GEMGtY/s1600/Abu_Nuwas.jpg

06/05/2012

Human Capital dan Pertumbuhan Ekonomi

Human Capital dan Pertumbuhan Ekonomi. Enam puluh tujuh tahun Indonesia telah merdeka, namun kemajuannya tidak seperti negara-negara yang baru merdeka seperti Malaysia, bahkan dahulu warga Malaysia banyak belajar di Indonesia, Namun sekarang Indonesia harus mengimpor tenaga ahli dari Malaysia. Mengapa Malaysia bisa lebih maju daripada Indonesia. Dahulu Indonesia mengekspor tenaga pengajar (ahli) ke Malaysia sekarang kebalikannya, bahkan dimata Bangsa Malaysia orang-orang Indonesia digelari "Indon" atau "bangsa babu" :(. Kita pun bertanya-tanya, Kenapa ??  Adakah yang salah  dengan strategi pembangunan Indonesia ?.
Source : http://www.hcdexperts.com/images/human-capital-chart
Banyak kalangan, khususnya ekonom menilai ada kesalahan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sejak awal kelompok Mafia Berkeley memegang kendali yang dominan dalam penentuan strategi pembangunan ekonomi bangsa. Kita sama-sama ketahui "Strategi memperbesar Kue Nasional" atau meningkatkan Produk Domestik Bruto. Dengan kata lain, fokus pada pengembangan ekonomi makro. Namun bangsa kita lalai dalam pembenahan skala mikro, skala Human Capital (Sumber daya manusia). Dan kini, fenomena tersebut berulang. Pertumbuhan ekonomi tumbuh setiap tahun, namun tingkat kemiskinan juga merangkak ke atas. 

Dengan peningkatan PDB dari tahun ke tahun, dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesiapun dimasukkan dalam lingkaran G20. Bergaul dan berinteraksi intens dengan negara-negara maju. Namun belum juga maju apalagi mendekati mandiri. Sangat kontra dengan Iran. Walaupun di Embargo oleh negara-negara maju tetap dapat menunjukkan eksistensi dan kemandiriannya di pentas global.
Pembangunan  ekonomi Indonesia bertujuan untuk meningkatkan  pertumbuhan ekonomi, pemerataan  dan stabilitas. Indikator pertumbuhan ekonomi penting diketahui dalam  melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi suatu negara, karena dapat  memberikan gambaran secara makro atas kebijakan pemerintah yang telah  dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan seberapa besar aktivitas perekonomian  mampu menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu kurun waktu tertentu, karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor  produksi oleh berbagai sektor ekonomi untuk menghasilkan output.  Agar pertumbuhan ekonomi meningkat dan dapat dipertahankan dalam jangka  panjang maka perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Secara umum pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor ekonomi seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, teknologi dan lainlain, serta faktor non ekonomi seperti lembaga sosial, keadaan politik dan nilai-nilai kultural suatu bangsa yang  mendukung berlangsungnya proses pertumbuhan  ekonomi yang umumnya dilihat melalui total Produk Domestik Bruto (PDB).

Kotler (1997) menyatakan bahwa perekonomian suatu bangsa dipengaruhi oleh potensi ekonomis yang dimiliki negara mencakup sumber daya alam, jumlah penduduk, human capital, modal fisik, teknologi dan infrastruktur. Kekurangan kekurangannya dapat dipenuhi dengan impor yang dapat dibayar dengan ekspor produk-produk lain atau pinjaman luar negeri.

Human Capital (HC) berkontribusi langsung pada penciptaan kekayaan nasional. Semakin tinggi rata-rata tingkat keterampilan dan  pengetahuan, semakin mudah bagi individu dalam usia kerja untuk memahami, menerapkan dan mendapatkan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya meningkatkan standar hidup bangsa.  Studi yang dilakukan Dale Jorgenson et al. (1987) pada ekonomi Amerika Serikat dengan rentang waktu 1948-1979 menunjukkan bahwa 46 persen pertumbuhan ekonomi disebabkan pembentukan modal (capital formation), 31 persen disebabkan pertumbuhan tenaga kerja dan modal manusia serta 24 persen disebabkan kemajuan teknologi.

Tjiptoherijanto (1994) menyatakan modal dasar yang digunakan ekonom untuk menjelaskan PDB atau Gross Domestik Product (GDP) dalam bentuk fungsi produksi di mana output GDP merupakan fungsi dari dua input utama yaitu tenaga kerja dan modal. Penelitian di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa perubahan GNP bukan semata-mata oleh adanya perkembangan tenaga kerja dan modal, akan tetapi dari faktor residual, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia dari faktor produksi. Dimana peningkatan tersbut dapat dicapai dengan riset dan pengambangan.

Jika  dilihat dari besarnya investasi di  bidang  riset dan pengembangan, kondisi Indonesia tidak lebih baik  dibanding China dan Singapura. Anggaran untuk riset dan pengembangan Indonesia jauh lebih kecil.  Demikian juga dari besarnya investasi pendidikan yang dilakukan di luar negeri.  Singapura, yang berpenduduk tidak sampai setengah penduduk Jakarta, mengirim mahasiswa ke AS hampir setengah jumlah mahasiswa Indonesia di AS. 

Kualitas faktor produksi sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kesehatan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal penting untuk meningkatkan stok human capital selain pengembangan teknologi dan penelitian. Sumber kemajuan ekonomi berasal dari peningkatan produktivitas manusia (lebih sehat, terampil, terdidik, bermotivasi bekerja), mesin baru yang lebih produktif,  organisasi produksi (penemuan, keringanan pajak, subsidi BBM dan listrik) dan  efisiensi kerja (kesehatan buruh, kursus-kursus atau training dan sistem pendidikan  yang lebih baik). 

Fergus (1995) menyatakan bahwa konsep pengembangan sumber daya manusia menurut pemikiran klasik didasarkan pada hubungan kesetaraan  antara manusia dalam hal ini tenaga kerja dengan sejumlah faktor produksi lain seperti tanah, material dan mesin-mesin. Pengeluaran pemerintah  (government expenditure) dapat  mempengaruhi aktivitas ekonomi pada umumnya. Belanja modal dalam bidang pendidikan dan kesehatan sangat penting. Selain itu, belanja pemerintah untuk penyediaan sarana dan prasarana akan mendorong pertumbuhan ekonomi, sepanjang perekonomian belum  mencapai tingkat kesempatan kerja penuh (full employment).

Studi-studi mengenai investasi dalam HC penting dilakukan di Indonesia, mengingat jumlah Sumber Daya Manusia (SDM)  dan Sumber Daya Alam (SDA) yang besar. SDM terdiri dari tenaga kerja terampil dan terdidik serta tenaga kerja yang kurang terampil (tidak tamat SD). Dengan mengintroduksi pengalaman negara-negara yang telah mencapai kemajuan disebabkan pengembangan sumber daya manusia. 

Human capital  sebagaimana yang diinternalisasi dalam model teori neo-klasik dan teori pertumbuhan baru. Neo-klasik menekankan tenaga kerja dan modal sedangkan  teori pertumbuhan baru menekankan pada investasi dalam pengetahuan, teori ini menguji peran investasi dalam modal fisik, modal manusia dalam menentukan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. 

Poin pentingnya adalah jika negara alfa dalam pengembangan Human Capital maka inisiasi dan aksi langsung mestinya tetap dilakukan oleh siapa saja,  individu, komunitas atau masyarakat.

(nb: Background proposal Alamyin Penelitian yang telah dimodifikasi)

INSPIRASI SEPANJANG MASA DARI DR.DIMITRI MAHAYANA

INSPIRASI SEPANJANG MASA DARI DR.DIMITRI MAHAYANA. Sudah lama berniat untuk mempublish, Materi-materi kajian Logika dan Pengantar Filsafat Dr. Dimitri Mahaya, Edisi copy saya peroleh ketika masih kuliah semester dua di Matematika UNM. 

Salah satu artikel yang merubah cara pandang saya terhadap model 'keberagamaan' adalah, Non-Kontradiksi dan Kausalitas. Namun, sebelum menunaikan niat, saya coba searching di Google. Batas
kueri hanya sampai 32 kata. Tetap saja saya coba searching rangkaian kata berikut :)
Jika seekor kucing benar-benar berada di rumah, dan kita yakin bahwa "kucing ada di rumah", dan kita katakan bahwa "kucing ada di rumah", maka jelas keyakinan kita maupun proposisi yang kita nyatakan bernilai benar secara mutlak. Inilah yang saya maksudkan dengan absolutisme. Setiap peyakin kebenaran, mesti seorang absolute.
Sumber : http://www.claudiorugge.com/imgnew/g/filosof.jpg
dan hasilnya:
Sekitar 112 hasil (0.18 detik)
Hasil di atas menandakan bahwa cukup banyak yang telah mengupload di Blog/ Weblog. Oleh karena itu niat pun diurungkan dan hanya mengupload file .pdf. Sekalian mendigitalisasi segala sesuatu yang menginspirasi.
Dr. Dimitri Mahayana adalah sosok yang bukan hanya ahli dibidang akademiknya (Elektro) tetapi Belia juga adalah sosok Intelektual, Tokoh Spiritual, pakar Bisnis, Pemerhati Sosial dan masih banyak lagi keahlian yang menjadikannya sangat pantas dijadikan inspirasi dan salah satu referensi dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Inspirasi unik dengan ide unik yang beda dengan akademisi kebanyakan menjadi alasan pendukung, kecintaannya pada Pengetahuan telah diwujudkannya dalam berbagai karya. Salah satu Artikel yang menarik adalah "Berhala Globalisme dan Kapitalisme Global" dan bukunya yang bertajuk "Futuristik", Buku terbitan tahun 2000-an yang memprediksi, bahwa kedepan, orang yang buta hurup adalah yang tidak mampu menguasai bahasa inggris dan keahlian komputer. Kini, semakin nyata terjadi dihadapan kita.

Untuk sesi pertama Ide Tokoh Unik, akan berbagi beberapa tulisan beliau yang merupakan dasar atas pengusaan ilmu-ilmu lainnya. Artikel sederhana singkat dan padat, yang dapat dijadikan salah satu bahan referensi sepanjang masa :) 
4. Download "Dialektika"
Kalo koneksinya lumayan ok Download "Inspirasi Dimitri Mahayana"
Semoga bermanfaat;
Keep share and enjoy !

05/05/2012

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [6]

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL TEST [6]. Idiom merupakan gabungan kata yang membentuk arti baru yang artinya tidak mudah dipahami hanya dengan memahami kata yang membentuknya. Postingan Idiom I 'Three in One" dan audionya dapat direview  "here" dan Pelajaran Idiom ke-2 "here". Idiom ke-3 dapat disimak "here". Idiom sesi ke-4 dan 5 dapat dilihat dalam postingan sebelumnya.
Makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frase atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan selain mencarinya dalam kamus. Berikut adalah beberapa contoh idiom yang biasa di gunakan dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam tes Toefl.

LESSON 14
1. to eat in/to eat out: to eat at home/to eat in a restaurant
o I feel too tired to go out for dinner. Let's eat in again tonight.
o When you eat out, what restaurant do you generally go to?
2. cut and dried: predictable, known beforehand; boring
o The results of the national election were rather cut and dried; the Republicans won easily.
o A job on a factory assembly line is certainly cut and dried.
3. to look after: to watch, to supervise, to protect (also: to take care of, to keep an eye on)
o Grandma will look after the baby while we go to the lecture.
o Who is going to take care of your house plants while you are away?
o I'd appreciate it if you'd keep an eye on my car while I'm in the store.
4. to feel like: to have the desire to, to want to consider
This idiom is usually followed by a gerund (the –ing form of a verb used as a noun).
o I don't feel like studying tonight. Let's go to a basketball game.
o I feel like taking a long walk. Would you like to go with me?
5. once and for all: finally, absolutely
o My daughter told her boyfriend once and for all that she wouldn't date him anymore.
o Once and for all, john has quit smoking cigarettes.
6. to hear from: to receive news or information from
To hear from is used for receiving a letter, telephone call, etc., from a person or organization.
o I don't hear from my brother very often since he moved to Chicago.
o Have you heard from the company about that new job?
7. to hear of: to know about, to be familiar with; to consider
The second definition is always used in the negative.
o When I asked for directions to Mill Street, the police officer said that she had never heard of it.
o Byron strongly disagreed with my request by saying, "I won't hear of it!"
8. to make fun of: to laugh at, to joke about
o They are making fun of Carla's new hair style. Don't you think that it'sreally strange?
o Don't make fun of Jose's English. He's doing the best he can.
9. to come true: to become reality, to prove to be correct
o The weatherman's forecast for today's weather certainly came true.
o Everything that the economists predicted about the increased cost of living has come true.
10. as a matter of fact: really, actually (also: in fact)
o Hans thinks he knows English well but, as a matter of fact, he speaks very poorly.
o I didn't say that. In fact, I said quite the opposite.
11. to have one's way: to arrange matters the way one wants (especially when someone else doesn't want to same way) (also: to get one's way)
o My brother always wants to have his way, but this time our parents said that we could do what I wanted.
o If Sheila doesn't get her way, she becomes very angry.
12. to look forward to: to expect or anticipate with pleasure
This idiom can be followed by a regular noun or a gerund.
o We're greatly looking forward to our vacation in Mexico.
o Margaret never looks forward to going to work.

LESSON 15
1. inside out: with the inside facing the outside
o Someone should tell little Bobby that his shirt is inside out.
o The high winds ruined the umbrella by blowing it inside out.
2. upside down: with the upper side turned toward the lower side
o The accident caused on car to turn upside down, its wheels spinning in the air.
o One of the students was only pretending to read her textbook; the teacher could see that the book was actually upside down.
3. to fill in: to write answers in (S); to inform, to tell (S)
For the second definition, the idiom can be followed by the preposition on and the information that someone is told.
o You should be careful to fill in the blanks on the registration form correctly.
o Barry was absent from the meeting, so I'd better fill him in.
o Has anyone filled the boss in on the latest public relation disaster?
4. to fill out: to complete a form (S)
This idiom is very similar to the first definition above. To fill in refers to completing various parts of a form, while to fill out refers to completing a form as one whole item.
o Every prospective employee must fill out an application by giving name, address, previous jobs, etc.
o The teenager had some trouble filling the forms out by himself, so his mother helped him.
5. to take advantage of: to use well, to profit from; to use another person's weaknesses to gain what one wants
o I took advantage of my neighbor's superior skill at tennis to improve my own ability at the game.
o Teddy is such a small, weak child that his friends take advantage of him all the time. They take advantage of him by demanding money and making him do things for them.
6. no matter: regardless of
This idiom is a shortened form of it doesn't matter. It is followed by a question word such as how, where, when, who, etc.
o No matter how much money he spends on his clothes, he never looks well dressed.
o No matter where that escaped prisoner tries to hide, the police will find him sooner or later.
7. to take up: to begin to do or study, to undertake (S); to occupy space, time, or energy (S)
o After today's exam, the class will be ready to take up the last chapter in the book.
o The piano takes up too much space in our living room. However, it would take too much time up to move it right now; so we'd better wait until later.
8. to take up with: to consult someone about an important matter (S)
The important matter follows the verb take, while the person consulted
follows with.
o Can I take the problem up with you right now? It's quite urgent.
o I can't help you with this matter. You'll have to take it up with the manager.
9. to take after: to resemble a parent or close relative (for physical appearance only, also: to look like)
o Which of your parents do you take after the most?
o Sam looks like his father, but he takes after his mother in personality.
10. in the long run: eventually, after a long period of time
This idiom is similar in meaning to sooner or later (Lesson 1). The difference is that in the long run refers to a more extended period of time.
o In the long run, the synthetic weave in this carpet will wear better than the woolen one. You won't have to replace it so soon.
o If you work hard at your marriage, you'll find out that, in the long run, your spouse can be your best friend in life.
11. in touch: having contact
o James will be in touch with us soon to relay the details of the plan.
o I certainly enjoyed seeing you again after all these years. Let's be sure to keep in touch.
12. out of touch: not having contact; not having knowledge of
o Marge and I had been out of touch for years, but then suddenly she called me up the other day.
o Larry has been so busy that he seems out of touch with world events.

Download Audio "next postingan"