Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

13/10/2008

Hidup tak sekedar untuk bertahan hidup


Ada banyak hal di dunia yang tidak bisa diganti dengan apa pun. Ada saat dimana Laila Majnun dan kekasihnya merasakan kebahagiaan yang tiada samanya dengan apapun di dunia ini, atau kisah romeo dan juliet yang menginspirasi jutaan pecinta untuk melakukan apa pun demi yang dicintainya. Ada masa ketika seseorang terselamatkan dari bahaya atau dari kecelakaan kecil. Ada juga ketika seseorang mencapai cita-cita yang didambakannya selama bertahun-tahun. Ditingkatan yang lebih tinggi ada kenikmatan ketika hamba sedang berkomunikasi intim dengan Tuhannya, di masjid, di gereja, di wihara atau dimanapun yang dianggap tempat ibadah yang suci oleh sang hamba. Dan ribuan bahkan jutaan momen-moment lainnya yang membuat orang yang mengalami peristiwa tersebut sangat bahagia. Bahkan jika ada seseorang yang menawarkan untuk menggantinnya dengan sesuatu yang lain maka bisa dipastikan akan ditolaknya. Luapan kebahagiaan dapat dirasakan hanya dengan untaian kata, misalnya seorang kekasih membisikkan kata yang menggugah hati. Para petapa yang dengan santai menikmati bisikan angin, ataupun suara gemercik air. Dan lain-lain.

Fenomena alam yang lain adalah pasangan dari kebahagiaan, kebanyakan orang menyebutnya kesedihan, atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sedih karena tidak bisa mencapai cita-citanya. Merasa kehilangan ketika apa yang dicintainya tidak lagi dalam pelukannya, entah karena batas hidupnya sudah usai. Rumah di rampok, kesehatan yang sangat berharga yang kini tidak lagi dinikmati, perusahaan pailit dan sejumlah peristiwa lainnya yang telah menemui ajalnya. Suara angin tidak lagi begitu mesra. Gemercik air berubah menjadi suara demonstran di jalan-jalan, atau mungkin laksana letusan gunung merapi, atau seperti letusan bom di irak. kesedihan/kehilangan sesuatu sama seperti hal lain. Sama halnya ketika kesedihan Charlie dalama film Charlie and chocolate factory berakhir ketika ia mendapat tiket emas dalam coklat sebagai tiket gratis melihat pabrik coklat Willy Wonka. Ada banyak hal yang sama dalam kehidupan ini. Menurut pengetahuan pendahuluku yang telah tertanam dalam benakku, Bahwa segala sesuatu mempunyai awal dan akhir.

Namun ada hal yang menyedihkan bagiku, ketika aku dan mungkin aku yang lain tidak merasa sedih karena kehilangan pengetahuan, tidak memanfaatkan masa muda untuk 'mengakumulasi” pengetahuan sebanyak-banyaknya dan menjaga agar tetap langgeng. Pengetahuan akan tetap langgeng jika ia tidak hanya dijadikan alat untuk sekedar bertahan hidup atau “The survival of the fittest” dalam kosakata teori evolusi . Pengatahuan akan tetap langgeng dan meraih fitrahnyanya sebagai pengetahuan ketika dibagi/dishare dengan sesama. Bagiku disitulah salah satu wajah kebahagiaan menampakkan dirinya.

Pengetahuan mestinya berbanding lurus dengan keseimbangan. Semakin tinggi dan dalam pengetahuan manusia maka keseimbangan hidup antara sesama dengan alam mestinya tetap terjaga. Yang berpengetahuan lebih, tak sewajarnya mengeksploitasi yang kurang berpengetahuan apalagi mengeksploitasi alam semesta yang akibatnya akan dirasakan oleh semua makhluk di seantero dunia. Dengan dalih untuk bertahan hidup, demi kehidupan manusia yang lebih baik dimasa yang akan datang, maka teknologi rekayasa pun dikembangkan, mulai dari rekayasa genetika hingga mungkin rekayasa “kentut' akan diupayakan demi sabuah alasan “bertahan hidup” dan masa depan yang lebih baik. Apakah memang kehidupan manusia dimasa lalu tidak baik?

Sejenak, kubergumam dan meriew beberapa pesan-pesan yang sempat kutangkap dari film seperti dalam film chaos; bahwa segala sesuatu beraturan bahkan beragam kekacauan pun adalah sebuah keteraturan. Di film yang lain seperti in to the wild, memberikan pelajaran berharga, pertama, bahwa kebahagiaan bukan hanya sekedar diperoleh dari interaksi dengan sesama manusia, ia dapat kita raih dengan berkomunikasi intim dengan alam semesta yang terbentang luas. Pelajaran nomor dua Happiness real when shared.

Akhirnya aku berkeyakinan bahwa harapan untuk hidup lebih harmonis, tak sepenuhnya sirna. Dan semoga harapan itu tak membungkamku atau menjadi penjara.

Alamyin. Makassar, 06 Oktober 2008

12/10/2008

Caleg muda yang modis

Photobucket

Bukan sebenarnya mau berpusing-pusing ria dengan agenda 5 tahunan di Indonesia, sebut saja pesta demokrasi (PEMILU). Hanya saja melihat perilaku para partai utamanya partai baru, dimana calegnya kebanyakan dari kaum muda, bahkan ada yang masih KULIAH, semester awal.

entah kebablasan atau ketololan para pendiri partai atau masyarakat, atau diam-diam kita sepakat dengan maraknya caleg-caleg muda.
diusia yang masih belia sukrela melacurkan diri. politik (baca: partai politik) menurutku ada arena melacurkan diri, dimana kebohongan, kecurangan dan praktik manipulatif adalah konsumsi pokok, penghianatan adalah salah satu fiturnya yang paling indah.

inikah yang dicita-citakan reformasi.. gumamku.. ah tidak. ini pasti kebablasan kebebasan. ini pasti ketololan melihat kenyataan. dimana dengan bergabung ke partai, menjadi caleg dan menjadi anggota dewan yang terhormat maka persoalan kebangsaan dapat diselesaikan.

cita-cita demokrasi seperti kebebasan, partisipasi aktif, dan pemenuhan hak sebagai makhluk politik yang diupayakan lewat jargon pendidikan politik tidak akan pernah terwujud, jikalau kum mudanya lebih asik membincang suksesi dan politik pragmatis lainnya sementara orang disekitarnya bahkan dirinya bersimbah kebodohan dan pandangan tertutup kabut tebal kedirian pasca penjajahan soeharto, sehingga yang tampak hanya rayuan-rayuan jabatan dan gila kekuasaan yang pernah dikerangkeng oleh soeharto dan koleganya.

Benarkah bertaburnya caleg muda adalah pertanda kemajuan demokrasi ataukah ini adalah pertanda bahwa masyarakat tontonan, politik tontonan, dimana pencitraan adalah raja di raja.
semoga saja bukan.

ditulis di makassar dekat kantor DPRD 9 oktober 2008