Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

18/05/10

Kreasi kesenangan yang terbeli


Beberapa hari yang lalu, Zuko berhasil ngumpul bersama teman-teman sepermainan di kampus UNM. tepatnya di PKM gd. BEM. Seperti biasa, setiap bertemu kawan lama pasti bertukar cerita tentang kondisi terupdate, dan sesekali menertawakan masa lalu, kadang juga mengecam masa lalu, bukan karena masa lalu itu jahat, tetapi kondisi yang kami lihat tak seindah angan-angan kami dahulu: Kerja, nikah, punya anak, punya kebun, punya sekolah ....:P, masih dalam acara mimpi kale yeee...,

Oia, bicara soal Kerja, Seorang teman bertutur. Kerja benar-benar mengalienasi/mengasingkan diri kita dari keDIRIan kita yang sebenarnya. Ekstasi paling tinggi dari kerja adalah kita tidak mengetahui untuk apa kita kerja. Coba bayangkan kalau kita kerja digaji, diberi insentif kesehatan, sebenarnya bukan untuk diri kita, bukan untuk kebahagiaan kita. tapi semata-mata agar mode produksi-reproduksi di perusahaan bisa tetap berjalan. Karena akan berbahaya jika kita (karyawan) sakit, atau tidak mempunyai uang belanja. Oleh karena itulah Perusahaan menggaji kita,memberi insentif kesehatan, sekali lagi agar roda mode produksi tetap bekerja. Dan siapakah yang paling diuntungkan dari roda produksi-reproduksi-produksi dan seterusnya ??.Sementara kita masih terperangkap dalam siklus yang itu-itu terus setiap hari. Pergi pagi-pulang malam, tidur dan rekreasi pada saat liburpun sebenarnya bukan untuk kesenangan atau kebahagiaan kita tetapi sekedar menghilangkan kepenatan selama kerja, tidur pun bukan sebenar-benarnya untuk beristirahat tetapi hanya untuk menampung dan mengembalikan kondisi tubuh supaya pagi hari bisa FIT dan siap ke kantor lagi, kerja lagi.

Begitulah kira-kira siklus hidup manusia yang katanya modern. Dengan jam kerja di atas 8 jam, tetapi masih sangat kekurangan dan tidak sejahtera bahkan banyak yang stress, terbukti dengan banyaknya klinik-klinik penghilang stress. Jika dibandingkan dengan suku aborigin, dan suku "*****" di Afrika yang hanya bekerja 2-3 jam sehari tetapi serba berkecukupan dan hidup bahagia tentram dan damai.Kesenagan manusia yang katanya modern sangat barbiaya tinggi. Misalnya, hanya untuk menghilangkan kepenatan, stress harus merogoh kantong 1/3 gaji untuk bisa berteriak-teriak di tempat-tempat karaoke, rumah bernyanyi, dunia fantasi dan semacamnya. Apakah hidup akan kita habiskan hanya untuk cari duit dan menghamburkannya ditempat-tempat yang katanya penyedia kesenangan dan kebahagiaan ? sedemikan tidak kreatifnyakah kita mencipta kesenangan yang bisa kita nikmati sendiri tanpa harus terjebak dalam mode produksi kapital yang kian menggila dan rayuan pasar hiburan.

Bagaimana sekiranya, pemilik perusahaan tempat kita bekerja adalah juga pemodal di tempat hiburan yang sring kita datangi untuk menghilangkan kepenatan, atau dengan kata lain, cuma satu pemodal yang mengontrol semua aktifitas perekonomian kita, bukankah sebenarnya kita menggali lobang dan mengali kuburan buat kebebasan berkreasi, mencipta, termasuk menciptakan kesenangan buat diri sendiri dan bukan diciptakan atau dihalau ketempat-tempat yang katanya bisa menghibur.
Zuko yakin dan percaya kita semua punya bakat kreatif, termasuk mencipta kesenangan dan kebahagiaan setidaknya bagi diri sendiri, dengan demikian kita tidak mesti terjebak dalam pasar hiburan yang hanya membuat hidup kita semakin sengsara dan merana :))

'' Rebut kembali hakmu berkreasi yang telah dirampas oleh pasar lewat tv, media cetak dan elektronik hingga internet ''

Zuko pernah dikontrak menjadi Tim Kreatif Media, TGC-ACCES-AUSAID untuk pembelajaran warga.
(tulisan untuk solidaritas kaum buruh sedunia, makassar,mei 2010)