Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

15/07/08

UNTUKMU GURUKU (Refleksi Kritis Seorang mantan Siswa)


Mengawali refleksi ini penulis mengawali kisah sederhana yang penulis kutip dari buku Rumahku Sekolahku yang ditulis oleh Syafinuddin Almandari..
Dr Reza Sadjad pernah menuturkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar di Amerika Serikat tidak dipaksakan mengejar prioritas plajaran matematika dan IPA. Kepada anak-anak yang baru menumbuhkan pencarian identitas diri dan orientasi hidupnya itu, gencar ditanamkan mental PERAYA DIRI terlebih dahulu. Wawasan tentang diri dan dunianya menjadi pelajaran yang paling utama, makanya pelajaran awal yang diberikan kepada mereka adalah mengenal peta dunia beserta seluruh potensi alam dan manusianya. Anak-anak itu harus menguasai nama dan letak negara, latar histori budaya, serta ideologi. Tujuannya agar mereka dapat memosisikan diri dan bangsanya. Ditanamkan pula bahwa negara mereka bukan negara kaya, sehingga agar dapat survive (bertahan hidup) ia harus menguasai negara-negara yang dapat membuatnya survive. Pada akhirnya ditumbuhkanlah sejenis doktrin bahwa syarat untuk menguasai masa depan adalah dengan menguasai ilmu pengetahuan, tekhnologi dan politik.
Gambaran sederhana di atas sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah saya alami ketika menuntut ilmu di Sekolah Dasar (SD) bahkan hingga Sekolah Menengah Umum. Banyak hal yang tidak bisa saya lupakan dan menggumpal menjadi kenangan, dan membuatku berprasangka kurang baik terhadap sekolah. Apakah sekolah menjadi tempat hukuman bagi para pelanggar aturan, aturan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah tepat waktu), terlambat datang ataupun mengisi waktu luang dengan bermain bersama teman sekelas karena guru tidak ada di kelas. Padahal, hal itu dilakukan hanya karena kondisi belajar di kelas yang tidak menyenangkan atau kami siswa-siswa hanya ingin menunjukkan kreativitas lain yang tidak melulu berada di ruang kelas. Saya seolah dipaksa untuk harus tahu menghapal rumus-rumus, kata-kata latin ataupun ayat-ayat pendek dalam al Qur’an, tanpa pernah di beri tahu makna dan pentingnya semua hal yang diperintahkan oleh guru. Membantah atau melawan perintah guru berarti bersiap untuk mendapat nilai yang kurang baik atau bahkan intimidasi.
Sebuah pengalaman yang masih sering melintas di alam pikiranku ketika melihat anak-anak SD bermain kejar-kejaran adalah ketika kami dihukum sekelas oleh guru kelas kami karena dianggap melanggar aturan sekolah, akibatnya setiap hal yang akan kami lakukan harus berpikir keras dan akhirnya mungkin ini dapat menghambat kreativitas. Pernah juga di hukum karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru, ha..ha.. kasian de gue.
Fenomena lain yang sering di tampilkan oleh guru-guru adalah guru menjanjikan “imbalan” atau “hadiah” kepada siswa-siswa yang dianggap berprestasi atau dapat melaksanakan tugas dengan baik. Hal ini kadang menjadi ‘jurus ampuh’ untuk memotivasi para siswa untuk berlomba meraih ‘hadiah’ , yang mendapat hadiah akan lebih bersemangat sedangkan yang belum beruntung akan tetap berusaha untuk berprestasi.
Praktik –praktik pemberian hukuman pada yang melanggar dan pemberian hadiah kepada yang berprestasi yang kerap dipraktikkan diruang-ruang kelas , dan belakangan saya ketahui bahwa itu adalah pendekatan belajar ala “SKINNERIAN”. Dari sini juga kuketahui bahwa ternyata belajar belum menjadi sebuah kebutuhan yang menyenangkan atau “Learn by Fun” tetapi lebih karena motivasi dari luar yang berupa ‘hukuman’ atau ’hadiah’. Bukan penanaman mental-mental juara, atau rasa percaya diri yang diberikan kepada murid sehingga wajar jika potensi yang dimiliki siswa (dan mungkin juga saya) tidak dapat teraktualkan dengan baik.
Anak itu ibarat anak panah,
Orang tua hanyalah sekadar busur.
Soal anak panah akan melesat menancap ke mana,
Itu terserah si anak panah karena anak senantiasa mempunyai kekuatan sendiri.
Orang tua atau orang dewasa hanyalah bertugas mamfasilitasi apa yang dibutuhkan anak.
(Kahlil Gibran.)
Memasuki masa-masa SMP tingkah laku guru, tidak jauh beda namun lebih kompleks, ada guru yang ‘kadang’ lebih menyukai siswa perempuan, ada yang ‘Killer’ istilah yang diberikan kepada guru yang sangat ditakuti oleh siswa-siswa., ada yang cuek namun ada juga yang antusias dan berupaya memberikan perhatian kepada semua siswa.
Suatu ketika siswa kelas II.4, pagi hari jam pelajaran matematika, guru hanya memberikan catatan kepada ketua kelas untuk di catat di papan tulis, melihat hal itu para siswa pun riang gembira karena tidak akan diberi tugas yang susah oleh guru matematikanya dan tidak akan di suruh berdiri di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal.Waktu itupun dimanfaatkan dengan baik oleh teman-teman sekelas bermain takraw dihalaman sekolah, karena keenakan main takraw hingga lupa waktu, sehingga menjelang waktu istirahat guru mata pelajaran pun datang hendak mengambil bukunya dan didapatinya siswa yang sedang main takraw, dan akhirnya merekapun dihukum. Ada juga guru yang begitu ketat menerapkan kedisiplinan dalam ruang-ruang kelas, sehingga bertanya saja kepada teman apalagi berdiskusi bisa membahayakan diri.
Namun, sejak kelas III saya lebih rajin belajar utamanya pelajaran matematika bahasa Inggris dan seni, selain karena pelajarannya menarik juga karena guru-gurunya yang cukup tegas dan bersahabat, mempunyai penguasaan mata pelajaran yang mumpuni tidak seperti di kelas satu dan dua. Guru matematika misalnya yang selain karena cerdas, penguasaan materi ajar juga karena intonasi suara dalam mengajar dan sesekali diselingi dengan cerita. Lain lagi dengan guru bahasa Inggris, yang begitu akrab dengan siswa-siswa, sehingga nyaris semua siswa dalam kelas itu menyukai guru tersebut, salah satu wataknya yang disukai oleh siswa-siswa adalah ia tidak pernah bosan utnuk ditanya oleh para murid, juga gaya mengajarnya yang dapat membuat siswa lebih santai karena tidak adanya hukuman yang berat yang di ‘hadiahkan’ kepada siswa jika tidak dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Jika keliru yaa belajar lagi, demikian dan seteruanya. Selain itu guru bahsa inggrisnya masih gadis… jangan diteruskan.
Masa SMU adalah masa-masa terindah, dimasa inilah saya mulai banyak mengenal organisasi dan mulai bersentuhan dengan demonstrasi. Sebagai ketua kelas tentu lebih dekat dengan guru. Karena akses informasi lebih gampang maka watak guru pun dapat kami pahami lebih dekat. Meskipun masih banyak guru-guru yang menerapkan pendekatan pengajaran yang Skinnerian, model hukuman lebih berat bahkan beberapa kawan kami harus berhubungan dengan aparat kepolisian, karena mengisi waktu luang dengan main kartu plus duit di halaman sekolah. namun beberapa guru lebih arif menghadapi kekurangan ataupun “kenakalan” yang kami perbuat.
Pemandangan umum yang ditampilkan oleh guru yang dapat dianggap sukses dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan mungkin juga afektif adalah terjalinnya keakraban antara siswa dengan guru, yang memungkinkan siswa dapat bertanya tanpa beban kepada guru. Namun fenomena guru “diktator" maksudnya penjual diktat masih kerap mewarnai sekolah, sehingga nyaris interaksi diruang-ruang kelas lebih banyak dilakukan dengan mengerjakan tugas-tugas, akibatnya proses dialogis siswa-guru kadang mengalami hambatan. Namun yang belum saya dapatkan di sekolah formal (SD-PT) belajar belum menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membebaskan.
Kedepan kita membutuhkan guru progresif yang dapat membangkitkan spirit belajar siswanya bukan karena takut hukuman atau mengharapkan hadiah tetapi karena kecintaan terhadap pengetahuan dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan (Che Alam).

Jayalah terus bangsaku, bangkitlah negeriku dengan pendidikan.
Berjuanglah terus Guruku, guru yang bukan tanpa tanda jasa.
Sekian dulu refleksi singkatnya lain kali kalau lagi mood, gue bakal lanjutkan, dengan cerita yang lebih seru.
Dari Lingkungan hidupnya Anak-Anak Belajar
Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang
Jikaanak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas.
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya.
Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbioasa menjadi pemalu.
Jika langkah anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar
JIka anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri
Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak diterima oleh lingkungan, ia akan terbiasa menyayangi.
Jika anak tak banyak dipersalahkan, ia akan senang menjadi dirinya sendiri.
Jika anak mendapat pengakuan dari kiri-kanan, ia akan terbiasa menetapkan arah.
Jika anak diperlakukan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.
Jika anak ditimbang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasamelihat keadilan.
Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang disekitarnya.
Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian “sungguh indah dunia ini”
Bagaimana dengan Anda ?
_ Dorothy Low Nolte_