Read, Write, and Do Something

No Teaching without learning

Menulislah agar abadi

---

Listen, free economic make better

15/07/2016

'Kegilaan' Fans Bola

Sepakbola benar-benar sudah menjadi ritual, bahkan menyerupai agama. Ada kiblatnya, ritualnya, penggemar fanatik, tempat ibadahnya sendiri dan seterusnya. Sepakbola bisa disorot dari berbagai sudut pandang, ada yang melihat dari sisi ekonomi, politik, manajemen, humor, dan lain-lain. Bisa juga sekedar sebagai alat satir dan lain-lain, namun yang pasti, ia adalah bisnis dalam bidang olahraga. Berikut hanyalah catatan sekilas, spontanitas, sesaat setelah menyaksikan PIALA EURO, lebih tepatnya kemenangan Jerman, dan memastikan diri lolos ke Semifinal. Kenapa Jerman, saya suka aja, no reason :P

Cerahkanlah pikiran dan matanya  bagi fans yang 'Summun' 'Bukmun' 'Umyun' (buta mata, telainga) terhadap pemain klubnya.  Tim bola itu kolektif,  ada supporter, pemain,  pelatih (fisik dan psikis),  tukang masak2, satpam,  sopir,  dll, istri dan anaknya,   bukan hanya seorang pemain  yang hanya main di Klub kesayanganmu.  Atau kekelahan tim yang kalian ngga suka,  entah karena musuh bebuyutannya di liga yang sama.  Tim Negara yang kalah disebabkan oleh pemain di klub liga yang kalian benci. Contoh,  kemenangan Jerman dinilai karena ada pemain madrid (Kross). Kekalahan Belgia misalnya,  kau salahkan karena ada Hazard yang main di Chelsea.  Sy pikir ini ketololan yang luar biasa,  yang bisa saja berdampak pada cara pandangmu terhadap apapun,  boleh jadi terhadap paham,  teori,  dll.   Ini adalah sejenis TERORISME fans bola.  Haha lebay...

Jujur,  paling jengkel sama penonton yang beginian,  cerewet,  sok ta,  dan apapun hasil pertandingannya selalu saja ada pembenaran atas kehebatan TIM yang didukungnya. Seperti mahasiswa yang tidak pernah kehabisan alasan,  meskipun dia tahu alasannya itu ngawur,  wur.  Sadar ko,  kau cuma penonton,  yang bersorak di depan layar kaca pula.  Kalian hanya bagian dari hiruk pikuk industri bola. Ingat itu,  industri bola.

Tapi,  sebagai industri,  untung rugi pasti pertimbangan yang utama. Meski demikian,  selaku pemain futsal yang tidak pernah ikut turnamen bergengsi kecuali porseni jurusan. Pernahlah,  mencatatkan nama sebagai top skorer 😀 "mode sombong". Nah,  sebagai penonton keterlibatan emosional perlu,  supaya sorak makin seru,  tapi ngga mesti buta mata,  hati dan pikiran keleesss. Apapun adalah pemain tim lo di liga yang selalu handal. Jangan lupa EVERYTHING IS CONNECTED,  ini bukan nokia tapi pesan utama AVATAR AANG. Yang gundul,  segundul harapan saya agar tim-tim yang yang megandal PARKING BUS digundul pula oleh tim yang bisa menghibur kami sebagai penonton. Attack, spartan, maskulin  meski harus sesekali feminim di lapangan.  Itu, coy.

Intinya,  santaimako deeh.  Kalah ya terima,  seperti kebesaran hati Buffon menyalami pemain-pemain Jerman. Dan selamat buat Tim yang senang dengan strategi "MENYERANG" karena MENYERANG ADALAH STRATEGI BERTAHAN YANG PALING BAGUS (Arsene Wenger). 

Selamat Buat all supporting TIM JERMAN,  boleh jadi juga kontribusi hitler di alam kubur,  atau Anda para penonton yang dalam hati kecilnya terbesit haralan semoga Jerman menang kodong.  Nah,  itu.  Selamat menikmati tontonan selanjutnya,  penonton yang baik adalah yang sorakannya besar,  meriah dan membuat iri penonton lain.  Yaa emosi massa yang liar,  binal,  dan kadang tak terkontrol.  Tapi pembaca yang budiman,  tetaplah terkontrol sejauh yang Anda bisa.

@alamyin. 27 Rumallang 2016. at BoGoR