Read, Write, and Do Something

No Teaching without learning

Menulislah agar abadi

Membaca untuk hidup lebih baik atau sekadar pamer

Listen, free economic make better

11/06/2012

Proposal Penelitian Ekonomi

Proposal Penelitian Ekonomi. Pada umumnya dalam presentase proposal penelitian atau ujian skripsi/ tesis dan sebagainya, hal yang paling utama dan urgen ditanyakan adalah "MASALAH PENELITIAN". Penelitian yang baik adalah yang masalahnya dikemukakan dengan sejelas mungkin. Masalah penelitian hanya dapat ditemukan jika peneliti mengetahui "kenapa masalah tersebut penting diteliti". JIka calon peneliti/ mahasiswa berhasil medefinisikan masalah penelitian dengan baik, maka bisa dikatakan, ia telah berhasil separuh dalam penelitian. Menyusun proposal bukanlah proses instan. Oleh karena itu, Contoh pembuatan proposal ini adalah pengalaman mengikuti mata kuliah metodologi penelitian, yang akan disajikan dalam site alamyin.com tidak dengan instan. Postingan sebelumnya tentang "Contoh Proposal Penelitian" menguraikan tentang tahapan-tahapan pembuatan proposal dan link download contoh proposal penelitian ekonomi. Kenapa ekonomi, karena bidang keilmuan saya ekonomi :).

Uraian berikut ini mengemukakan tentang Beberapa fenomena Mengapa Investasi Human Capital penting untuk diteliti:
  • Enam puluh tujuh tahun Indonesia telah merdeka, namun kemajuannya tidak seperti negara-negara yang baru merdeka setelahnya seperti Singapura, Malaysia, bahkan dahulu warga Malaysia banyak belajar di Indonesia, Namun sekarang Indonesia harus mengimpor tenaga ahli dari Malaysia. Mengapa Malaysia bisa lebih maju daripada Indonesia. Adakah masalah dengan strategi pembangunan Indonesia ?.
  • Pertumbuhan ekonomi 2008 dari tiga negara di asia masing-masing China 9 %, India 7,3% dan Indonesia 6,1% , perbedaan pertumbuhan ini karena besaran kontribusi investasi Human Capital.
  • Studi yang dilakukan Dale Jorgenson et al. (1987) pada ekonomi Amerika Serikat dengan rentang waktu 1948-1979 menunjukkan bahwa 46 persen pertumbuhan ekonomi disebabkan pembentukan modal (capital formation), 31 persen disebabkan pertumbuhan tenaga kerja dan modal manusia serta 24 persen disebabkan kemajuan teknologi.
  • Penelitian di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa perubahan GNP bukan semata-mata oleh adanya perkembangan tenaga kerja dan modal, akan tetapi dari faktor residual, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia dari faktor produksi. Dimana peningkatan tersebut dapat dicapai dengan riset dan pengambangan.
  • Jika dilihat dari besarnya investasi di bidang riset dan pengembangan, kondisi Indonesia tidak lebih baik dibanding China dan Singapura. Anggaran untuk riset dan pengembangan Indonesia jauh lebih kecil. Demikian juga dari besarnya investasi pendidikan yang dilakukan di luar negeri. Singapura yang berpenduduk tidak sampai setengah penduduk Jakarta, mengirim mahasiswa ke AS hampir setengah jumlah mahasiswa Indonesia di AS. Data menunjukkan sekitar 60% tenaga kerja Singapura adalah lulusan perguruan tinggi sedangkan Indonesia hanya pada kisaran 1,9 % dari jumlah penduduknya.
  • Human Capital (HC) berkontribusi langsung pada penciptaan kekayaan nasional. Semakin tinggi rata-rata tingkat keterampilan dan pengetahuan, semakin mudah bagi individu dalam usia kerja untuk memahami, menerapkan dan mendapatkan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya meningkatkan standar hidup bangsa.
Contoh Proposal Penelitian Ekonomi : Download Here
Semoga bermakna, Keep share and relax :)

02/06/2012

ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL [9]


ESSENTIAL IDIOM FOR TOEFL [9]. Idiom atau ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru yang artinya tidak mudah dipahami hanya dengan memahami kata yang membentuknya. Postingan Idiom I 'Three in One" dan audionya dapat direview "here" dan Pelajaran Idiom ke-2 "here". Idiom ke-3 dapat disimak "here". Idiom sesi ke-4 dapat direview "here' . Postingan Essential IDIOM ke-5, Idiom ke-6 . Idiom ke-7. Berikut adalah Essential Idiom ke-8,
Lesson 20

1. to hold still: not to move (S)
o Please hold still while I adjust your tie.
o If you don't hold that camera still, you'll get a blurred picture.
2. to know by sight: to recognize (S)
This idiom is used when the person has been seen previously but is not known personally. The person must be used to separate the idiom.
o I have never met our new neighbors; I simply know them by sight.
o The woman said that she would know the thief by sight if she ever saw him again.
3. to be the matter: to be unsatisfactory, to be improper, to be wrong
In a question, this idiom is used with what or something. In an answer, something or nothing is usually used.
o A: What is the matter, Betty? You look very upset.
o B: Yes, something is the matter. I've lost my purse!
o A: Is something the matter, Charles? You don't look well.
o B: No, nothing is the matter. I'm just a little under the weather.
4. to bring up: to rear, to raise from childhood (S); to mention, to raise an issue,
to introduce a topic (S)
o Parents should bring up their children to be responsible members of society.
o Sarah wanted to bring the scheduling problem up at the club meeting, but finally she decided against doing so.
o One of the students brought up an interesting point related to the subject in our textbook.
5. to get lost: to become lost; to go away in order not to bother
The second definition provides a very informal, even rude, meaning that should be used only with close friends. It is sometimes used in a joking manner.
o While driving in Boston, we got lost and drove many miles in the wrong direction.
o Todd kept bothering me while I was studying, so I told him to get lost.
o Lisa joked that she wanted her sister to get lost forever.
6. to hold up: to delay, to make late (S); to remain high in quality
o A big accident held up traffic on the highway for several hours.
o Deidre is amazed at how well her car has held up over the years.
7. to run away: to leave without permission; to escape
o The young couple ran away and got married because their parents wouldn't permit it.
o That cat is just like a criminal --- it runs away from anyone who tries to come near!
8. to rule out: to refuse to consider, to prohibit (S)
o Heather ruled out applying to college in Texas because she would rather go to school in Canada.
o I'd like to watch a good movie on TV tonight, but a ton of homework rules that out.
9. by far: by a great margin, clearly
o Jacquie is by far the most intelligent student in our class.
o This is by far the hottest, most humid summer we've had in years.
10. to see off: to say good-bye upon departure by train, airplane, bus, etc. (also: to send off) (S)
A noun or pronoun must divide the idiom.
o We are going to the airport to see Peter off on his trip to Europe.
o When I left for Cincinnati on a business trip, no one came to the train station to send me off.
11. to see out: to accompany a person out of a house, building, etc. (S)
A noun or pronoun must again divide the idiom.
o The Johnsons were certain to see their guests out as each one left the party.
o Would you please see me out to the car? It's very dark outside.]
12. no wonder: it's no surprise that, not surprisingly
This idiom derives form reducing it is no wonder that...
o No wonder the portable heater doesn't work. It's not plugged into the electrical outlet!
o Jack has been out of town for several weeks. No wonder we haven't seen him recently.
LESSON 21

1. to go up: to increase (also: to drive up); to be constructed, to be erected
The second definition is the same as the one for to put up in Lesson 19, except
that go up is not used with a noun object.
o Economists are predicting that consumer prices are going up. Inflation always has a tendency to drive up the cost of products.
o A new office is going up in the downtown area. A major construction company is putting it up.
2. to go up to: to approach (also: to come up to, to walk up to, to run up to, to drive up to, etc.)
The related forms have the same meaning, but the type of movement is different.
o After the lecture, several people in the audience went up to the speaker to congratulate her.
o The little girl came up to me and shook my hand as if she had known me for years.
o Bill's friend didn't want to admit that they had gotten lost, but finally he agreed to drive up to a gas station and inquire about the correct route.
3. to hand in: to submit or deliver something that is due (S)
o Every student has to hand in an original composition each week of the semester.
o All the salepeople hand their weekly reports in on Friday.
4. in case: in order to be prepared if
When the idiom occurs at the end of the sentence (the second example), then the meaning is in order to be prepared if something happens. The "something" might be an accident, a delay, etc.
o You'd better close the windows in case it rains.
o We should be sure to leave for the airport early, just in case.
o Cynthia, take one of your books in case you have some time to read on our trip.
5. to take apart: to disassemble, to separate the parts of something (S)
A noun or pronoun usually divides this idiom.
o It is much easier to take a watch apart than it is to assemble it.
o The engine had a serious problem, so the mechanic had to take it apart
completely in order to fix it.
6. to put together: to assemble (S)
A noun or pronoun usually divides this idiom. The preposition back is used
when something has been disassembled and then is being reassembled, as in
the second example.
o Todd followed the directions on the box but he couldn't manage to put the bicycle together properly.
o After the teenager took the broken video game apart and fixed it, he was unable to put it back together again.
7. to be better off: to be in a more favorable condition or situation
The opposite of this idiom is to be worse off.
o Jim would be better off staying at home because of his cold.
o You'd be much better off working in an office than in a factory.
o The economies of some nations are worse off than they were several
decades ago.
8. to be well-off: to have enough money to enjoy a comfortable life, to be rich (also: to be well-to-do)
o They live in the best section of town in a large home; they are very well- off.
o By the time I reach the age of fifty-five, I hope to be well-to-do and to travel frequently.
9. to take by surprise: to surprise, to amaze, to astonish (S)
A noun or pronoun usually divides this idiom.
o The offer of a high-paying position with another company took me by surprise.
o The president's announcement that the university was in financial trouble didn't take anyone by surprise.
10. to keep in touch with: to maintain contact with (also: to stay in touch with)
This idiom should be compared with to get in touch with in Lesson 9.
o You can telephone me every few days, and in that way we can keep in touch with each other.
o He promised to stay in touch with us while he was abroad. However, we were very disappointed that he never did get in touch with us.
11. to name after: to give the same name as another (S)
o Helen's parents named Helen after her grandmother.
o My grandson is named after Calvin Coolidge, the 30th President of the United States.
12. to hold on: to grasp tightly or firmly; to wait, to be patient
The second definition is often used when someone is talking on the telephone.
o The little girl held on to her mother's hand and refused to let go as they walked through the large crowd of people.
o (on the telephone) Could you please hold on a moment while I get a pencil and paper?
o Come on, Mike, hold on. I can't get ready so quickly.

13/05/2012

7 Mitos Penghambat Kemandirian

TORAWARENAI SUNAONA KOKORO 
(Pikiran yang Tidak Melekat)
oleh Dr.Ir. Dimitri Mahayana, M.Sc.

7 Mitos Penghambat Kemandirian. Entah angin apa yang mengantar saya pada Folder koleksi Artikel, dan menemukan tulisan yang menurut saya inspirasi untuk membangun kemandirian personal maupun bangsa. Tulisan sederhana yang senantiasa menyemangati gerak keseharian kita, khususnya bagi pebisnis, akademisi, intelektual, "politisi", petualang dan siapapun yang ingin belajar dan berpikiran maju. Judul postingan, adalah murni subjektifitas saya (alamyin) tidak ada maksud selain berbagi inspirasi. Selamat membaca.

Judul asli tulisan ini adalah TORAWARENAI SUNAONA KOKORO (Pikiran yang Tidak Melekat) ditulis oleh Dr.Ir. Dimitri Mahayana, M.Sc.

Konosuke Matsushita, pendiri korporasi raksasa Jepang Matshushita, mempunyai satu prinsip filosofis manajemen yang amat terkenal; "Torowarenai sunaona kokoro, (pikiran [hati] yang tidak melekat)". Matsushita yakin seorang pemimpin harus benar-benar memiliki kebeningan hati, kecerahan pikiran, dan ke-tidakmelekat-an pikiran dan hati agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang tepat.

Kemelekatan IBM dengan industri komputer mainframe-nya, misalnya, telah membuat para pimpinannya membatasi penjualan PC (Personal Computer) - yang dikhawatirkan akan merusak pasar komputer mainframe- sehingga akhirnya IBM tidak bisa leading dalam industri PC di dunia, padahal ia termasuk yang paling awal menguasai teknologi PC. Dan apa yang terjadi? PC ternyata menjadi satu dengan kehidupan masyarakat global. IBM telah menyia-nyiakan pasar masa depan hanya karena kemelekatannya dengan masa lalunya. Berpikir tentang krisis moneter akhir-akhir ini ala Matsushita, kita mesti meninggalkan ke-melekat-an pikiran dan persepsi bangsa atas beberapa aspek berikut.

Pertama, kemelekatan atas bayangan-bayangan "sukses" pembangunan nasional di masa sebelum krisis.

Analisis-analisis para pakar ekonomi dari Bank Dunia, IMF, telah lama meninabobokkan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya dengan angka-angka yang fantastis. Mereka mensugesti Indonesia dengan "kenyataan" bahwa pertumbuhan ekonomi nasional 7 hingga 8% setahun dengan laju inflasi kurang dari dua digit. Bangsa Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lain mesti melepaskan diri dari khayalan-khayalan "sukses" semacam ini, dan segera menyadari kondisi objektif yang benar-benar riil. Dengan kesadaran ini, kejernihan melakukan langkah yang tepat dalam menanggulangi krisis dapat diperoleh.

Kedua, kemelekatan pada nowism (kekinian) dan menyibukkan diri dengan melihat kurs dolar maupun jumlah orang yang di-PHK tiap hari dan merenungkannya, kemudian menenggelamkan diri dengan berbagai isu-isu dan rumor-rumor yang tidak jelas arah dan sumbernya.

Akan sangat banyak energi yang terbuang sia-sia jika bangsa ini terjebak pada pola over-analysis dan over-observation sehingga malah tidak segera mengambil tindakan apa pun. Apakah dengan nilai dolar setiap hari berubah, seorang bussinesmen mesti mengubah bisnisnya setiap hari? Atau apakah semua orang mesti terjun beramai-ramai bermain valas, sehingga bangsa akan memakan dolar sebagai ganti beras? Apakah dengan menangisi orang-orang yang di-PHK semuanya akan beres?

Ketiga, kemelekatan pada ketergesaan dalam menghadapi krisis.
Tendensi tensi emosional masyarakat yang meningkat menimbulkan pola pikir, perubahan yang cepat, kalau bisa sekejap. Eksplosi emosional seperti ini tidak logis dan tidak realistis. Tidak mungkin kita bisa mengubah krisis ini dalam waktu sebulan, dua bulan atau bahkan setahun. Berbagai kambing hitam yang telah ditudingkan sebagai "faktor" krisis ini merupakan indikasi ketergesaan emosional masyarakat ini. Bila diformulasikan logika ketergesaan emosional masyarakat ini mungkin dapat diurutkan sebagai berikut: "Mengapa terjadi krisis? Siapa penyebabnya? Ganyang penyebabnya; beres masalahnya." Logika seperti ini tidak keliru, dan secara otomatis pasti ada dalam masyarakat, hanya tidak secara otomatis memecahkan permasalahan.

Keempat, kemelekatan atas predikat-predikat tertentu yang dinisbatkan orang kepada bangsa. Indonesia "terbelakang". Indonesia "tidak maju". Indonesia "tidak demokratis". Indonesia "tidak menguasai teknologi". Indonesia "kolusi dan korupsi".

Kemelekatan pada ide bahwa bangsa ini terbelakang dan tidak maju menimbulkan kebergantungan permanen pada bangsa yang "telah maju". Padahal jika para insinyur Indonesia di bawah pimpinan Menristek Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie telah berhasil membuat pesawat N-250, teknologi apa yang tidak bisa dikembangkan bangsa ini? Mobil nasional dengan 80% komponen dalam negeri ? Sepeda motor nasional dengan lebih dari 80% komponen dalam negeri? Berbagai teknologi digital, mulai dari industri rumah alarm dan peralatan elektronik hingga software dan konsultasi system engineering ? Tentunya semuanya bisa, bila pikiran bangsa kita tidak melekat pada ide-ide negatif tersebut. Amerika dan kekuatan-kekuatan raksasa di dunia telah terbukti menunggangi kuda sembrani "globalisasi", dan menebarkan jaring laba-laba perangkapnya pada seluruh bangsa di dunia. Perangkapnya adalah kemelekatan pada ide bahwa semua yang berbau Amerika dan kekuatan-kekuatan raksasa tersebut "maju, modern, demokratis, sahih, valid, trendy", dan lain-lain. Film? Hollywood. Komik? Disney atau Dragon Ball. Musik? Michael Jackson atau Phill Collins. Komputer? IBM. Makan? KFC atau McDonald atau Wendy's atau Pizza Hut. Busana? Giani Versace. Motor? Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki. Mobil? BMW, Mercedez, Mitubishi, Toyota, Honda. Minuman? Coca-Cola. Idola? Bill Gates ataupun Leonardo Di Caprio. Buku favorit? Toffler dan Drucker. Sentral telepon? Siemens. Instrumentasi elektronik? Schlumberger. Mesin-mesin berat? Mitsubishi. Software? Microsoft. Komputer IBM. Buah-buaha? Anggur atau apel Jepang. Otomatis bangsa-bangsa yang terperangkapp merasa dirinya "terbelakang", "tradisional", "otoriter", "kurang benar", "tidak valid", dan "tertinggal". Yah, adalah satu ironi bahwa penghasilan sebuah perusahaan burger terkenal di Amerika lebih besar dari RAPBN Indonesia. Demikianlah satu realitas dari apa yang diyakini (jangan baca diimani" secara membuta oleh orang banyak sebagai "globalisasi" yang akan membawa berkah fan kesejahteraan global. Ternyata telah menyebarkan jaring laba-laba ide-ide yang menjajah, yang telah sekian lama meninabobokan bangsa dengan lagu "kemajuan adalah GNP dan GNP Anda naik berkat "globalisasi"? dan menghancurkan pikiran kreatif bangsa. Dan itu semua benar-benar telah melekat erat dalam pikiran dan kehidupan bangsa.

Kelima, kemelekatan pada keengganan untuk berubah, padahal semua kondisi dengan terang mengatakan kita harus berubah, atau mati.

Orang selalu mengatakan, jika kita hendak berubah nanti kondisinya lebih buruk. Logika seperti ini seperti mengatakan "jangan naik kendaraan bermotor apapun, dan berjalan kakilahm agar tidak tertabrak". Pikiran ini jelas-jelas salah. Karena orang selayaknya selalu mengatakan jika kondisi ini tidak benar, maka kita harus berbuat yang lebih benar. Dan tentu kita yakin akan suatu prinsip kesegalaan yang sering disebut dengan devine justice alias Keadilan Ilahi. Yang baik akan menuai yang baik. Yang buruk akan menuai yang buruk. Namun bila kita mempunyai kesepakatan untuk mengubahnya, kita benar-benar memiliki suatu kans besar untuk mengubahnya.

Keenam, kemelekatan pada kultur-kultur dan cara berpikir masyarakat yang jelas-jelas salah. Budaya kolusi dan korupsi dalam berbagai proyek.
Budaya ABS (asal bapak senaang). Lemahnya institusi dan kekuatan hukum, maupun kesadaran masyarakat akan hukum. Budaya cuek terhadap permasalahan politik dan sosial, yang bahkan telah menghinggapi para pelajar sejak era NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Budaya mengacuhkan agama, syariat agama, dan aturan-aturan Tuhan. Bagaimana mungkin di negeri yang kebanyakan adalah muslim, yang percaya hukum Tuhan, pabrik bir bisa beroperasi dengan lancar, budaya wine (anggur) menyerbu kalangan elit, acara-acara TV yang tidak layak mengisi sebagian besar kehidupan masyarakat, prostitusi diizinkan beroperasi dan berbagai sumber-sumber kemaksiatan lain? Mengapa banyak orang yang enggan untuk mengakui, seperti yang diserukan oleh Mas Amien Rais, bahwa kita harus melakukan tobat nasional. Bertobat atas seluruh cara berpikir dan kultur-kultur yang benar-benar salah dan kesalahannya tak perlu dibuktikan lagi (self-evident).

Ketujuh, untuk mengembalikan kepercayaan (trust) dalam masyarakat,  yang menurut Francis Fukuyama merupakan faktor kunci untuk mencapai masa itu, maka bangsa ini harus segera melepaskan diri dari semua keterlekatan dan kembali kepada prinsip-prinsip alami yang swa-bukti, yakni justice (keadilan), honesty (kesederhanaan), fair-play. Covey, dalam bukunya Managing by Principles, hanyalah pemimpin yang kembali pada prinsip-prinsip yang kembali pada prinsip-prinsip alami swa-bukti ini. Prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan seluruh makro dan mikrokosmos ini, dan yang menentangnya akan sirna. Dalam istilah Darwiniannya, the survival of the fittest (survivalitas yang paling cocok dengan alam). Dan bila bangsa Indonesia tidak segera melepaskan diri dari seluruh kemelekatan dan kemudian bersegera untuk kembali pada prinsip-prinsip niscaya yang alamiah ini, berarti bangsa Indonesia akan segera sirna?

Penulis adalah dosen teknik eletro ITB kelahiran 1968 di Semarang dengan catatan prestasi sebagai berikut: mahasiswa terbaik ITB tahun 1989, wisudawan terbaik-cumlaude tahun 1989, dan meraih gelar Master of Engineering di Waseda University, Tokyo dengan straight-A mark pada tahun 1994 dan Doktor dengan predikat cumlaude di ITB pada tahun 1998. Saat ini, selain sebagai dosen juga aktif berbicara di forum-forum internasional dan nasional di bidang Automation, Robotics and Computer Vision, serta aktif menulis di berbagai media-massa cetak dan berbicara di media TV dengan topik: trend teknologi, futuristik dan prospek masa depan. [di Sadur dari Menjemput Masa Depan, 1999]