Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

13/09/12

CATATAN SEORANG (yang dianggap) PEMBANGKANG


CATATAN SEORANG (yang dianggap) PEMBANGKANG (bag.1 )

Mengenang masa-masa pencarian diri, pergulatan identitas di kampus Parang tambung dan sekitarnya, dari berbagai inspirator.


(Diramu dari alam bawah sadar serpihan kisah di awal millennium 2K), Nama dan peristiwa adalah benar adanya, bersumber dari alam bawah sadar yang pernah terekam beberapa tahun silam_ catatan ini diinspirasi dari seorang Kakek, mantan anggota Dewan 5 periode, alumni HMI periode JK, sebut saja namanya H.Yunus.Istilah alam bawah sadar yang disampaikannya tidak sepenuhnya sesuai dengan istilah Freud, semoga Allah senantiasa memberkatinya).

Syamsu Alam | Makassar, 12 September 2012

Indikator keberhasilan mahasiswa dari ospek hingga tamat adalah generasi yang bercita-cita menjadi guru, dosen, karyawan dan lain-lain sekaligus tidak bermental ‘Krupuk’ dan berpikiran ala ‘Roti”
(Alamyin)

Dulu sebelum kuliah, saya bercita-cita menjadi Pilot, entah karena waktu kecil setiap pagi saya melihat pesawat lalu lalang di depan rumah kakek, tapi bukan pesawatku, pesawat yang datang dan pergi di Bandara Hasanuddin Ujung Pandang (Mandai).
Seiring berjalannya usia, lagu-lagu Iwan Fals mendapat tempat dihatiku, satu persatu kunikmatinya, hingga pada suatu saat menjelang tamat SMA, saya ingin seperti anak kecil dalam lagunya Iwan Fals. "sore tugu pancoran". Walaupun saya tidak tahu dimana tugu pancoran, saya Ingin kuliah dengan biaya hasil jerih payah sendiri, walau hanya dengan menjajakan koran ataupun menemani orang-orang bekerja.

Singkat cerita saya mendaftar UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) program studi yang menarik bagiku adalah Matematika, Jurusan lain sama sekali tidak menarik minat saya, jauh dari preference imajinasiku, sosial, politik, ekonomi. Kecuali Teknik, ada sedikit godaan untuk melanjutkan studi Teknik Informatika, mengingat PTN saat itu belum ada yang membuka program itu akhirnya kembali ke selera awal "Matematika". Akhirnya dengan perjuangan yang sedikit melelahkan. Latihan soal-soal, absen main bola dan bulutangkis demi sebuah status "Mahasiswa".

Hari yang menegangkan tiba. Pengumuman UMPTN. Teman-teman saya begitu antusias dan progresif mencari pengumuman untuk mengecek apakah nomor undiannya (tes) dimuat di koran. Ada yang berangkat pagi-pagi sekali. Namun saya memilih berangkat agak siang. Walau saya tinggal di Bogor (Bontonompo Gowa Raya, dengan perkiraan 1 jam perjalanan tiba di Pettarani dengan kendaraan khas Gowa-Makassar (pete-pete Merah). Tapi hari itu, saya memilih naik Damri dari terminal sumigo. Sepertinya hari itu dewi Fortuna memihak kepadaku, tanpa harus membeli Koran saya bias mengecek nomor undian di Koran, karena duduk bersebelahan dengan perempuan yang cantik sedang mencari-cari nomor undian, tapi bukan nomornya, Nomor anak kesayangannya. Setelah perempuan itu menemukan nomor yang dicarinya, ia pun meminjamkan kepada saya untuk menjelajah angka dan nama,….ta da… Alhamdulillah, nomor pendaftaran 80-4011… Syamsu Alam terlacak sensor mataku.

Masa-masa meneganggkan belum usai. Pendaftaran ulang, mengurus berkas, berjumpa dengan senior yang sangar-sangar. Cerita tentang senior sangar, saya peroleh dari tetangga yang mengenyam lebih awal manis-asam-asin kehidupan mahasiswa. Bahwa Ospek adalah tahapan yang membutuhkan stamina ekstra untuk dilalui, kesiapan fisik, psikis dan nyali perlu dipersiapkan dengan matang. Tapi lagi-lagi saya biasa-biasa saja, sok..sok menenangkan diri. 

Akhir millennium ke-2, atau menjelang Tahun 2K merupakan fase Ospek yang masih terhitung keras bahkan sedikit kejam. Dalam sehari syukur2 kalau kita bisa berdiri dan bergaya di depan senior-senior. Bentakan… dan hentakan yang paling dominan terekam dalam benakku adalah Jalan Jongkok, merayap, push up dan bla..bla…bla… hingga hari ketiga Ospek tangan dan siku berdarah karena harus merayap di atas aspal sepanjang belakang gedung FF 103-Workshop Matematika, jalan jongkok di selokan-selokan MIPA UNM, hingga harus memanjat pohon yang kini sudah tiada di depan himpunan Matematika. Ada pula kejahilan senior yang diturunkan kepada kami yang botak-botak adalah sejenis “permen Massal” satu permen di gilir dari mulut ke mulut ,.. eeits tapi bukanji ciuman ala film itu. Gesek-gesek ketek antar teman sambil menyanyikan lagu “long beach” salah satu Iklan yang popular ketika itu ‘’ la la..la..la..laa...lala..lala…..”

Itulah kegiatan OUTDOOR setiap subuh hingga jam 9 sebelum masuk diruangan 103-104 selama masa OSPEK(PESMAB MIPA). Untuk mendengar materi tentang berbagai aktifitas kegiatan mahasiswa (LK-UKM-BIRO-BIROKRASI KAMPUS dan Wawasan-wawasan lainnya). Di dalam ruangan tak jarang bentak dan gertakan masih berlanjut, khususnya dari panitia yang sering berdiri di dekat pintu (khususnya seksi keamanan), memantau aktifitas kami yang botak dan berbau. Panitia atau senior lain yang biasanya adalah pejabat-pejabat teras kampus (mungkin hanya Jaim kale… :P)kadang memberi pencerahan, presentase dan arahan dengan pendekatannya sedikit soft, komunikatif, dan sedikit demokratis, metode pendekatannya juga bervariasi, bukan hanya hardikan dan gertakan ala militer yang terdengar. Bukan hanya ala militer, gaya imitasi artis kerap dipertontonkan, hukuman berupa nyanyian.Namun, kami seolah-olah merasa nyaman dari “kebringasan” senior-senior yang sok “militeristik” dan keusilan-keusilan lainnya. Dengan cara itu seolah mengharapkan penghormatan dari kami. Dan masih banyak lagi cerita yang mengharu biru di kampus Biru MIPA.

Satu lagi yang berkesan adalah senior perempuan, disalah satu pos yang berbaik hati melindungi dari keprogresifan senior lain. Walaupun pada dasarnya ia juga mempunyai bakat dan kuasa untuk membentak dan menghardik, namun ia memilih bertanya tentang suatu hal, s..e…n…s…o….r… here, semoga ia bahagia dan dirahmati olehNYA.

Terlepas dari +/- kegiatan penyambutan mahasiswa baru, saya teringat dengan ungkapan Pak Ismail (dosen Biologi) (ketika itu PD III MIPA UNM)mengatakan dengan mengutip buku “Quantum Learning”, bahwa esensi penyambutan mahasiswa baru adalah, bagaimana membawa dunia mereka ke dalam dunia yang baru. Artinya ada upaya untuk menginternalisasi dunia yang belum pernah mereka peroleh. Dunia kampus, aktifitas belajar mandiri, keuletan, kerja keras, tanggung jawab pribadi dan sosial dan nilai-nilai universal yang lain (kemanusiaan, kebebasan). Nah, jika transformasi dan internalisasi nilai-nilai kampus berhasil dilakukan maka Ospek bisa dikatakan berhasil. Indikator keberhasilan mahasiswa dari ospek hingga tamat adalah generasi yang bercita-cita menjadi guru, dosen, karyawan dan lain-lain sekaligus tidak bermental ‘Krupuk’ dan berpikiran ala ‘Roti”. Bukan pula yang mengangungkan masa lalu dan keluarganya.


Kuliah hari pertama. Sebagaimana biasa adalah pemilihan ketua kelas. Walaupun nama saya masuk nominasi 3 besar calon ketua, namun demokrasi mayoritas saya harus puas diberi amanah, sebagai ketua pelaksana pengajian angkatan. Ketika itu setiap angkatan baru melakukan pengajian angkatan, diorganisisr sendiri dan tentunya ada bimbingan dari pengurus HIMATIKA ketika itu. Saat itu saya seolah menjadi orang yang paling soleh, karena mengenakan peci :P. Ini pula yang mengunndang minat lembaga dakwah kampus untuk bisa mengajak bergabung dalam jamaahnya.

Hingga suatu ketika saya pun menjadi salah satu pegiat LDK, sebut saja namanya SCMM (bukan nama samaran). Ikut-ikutan pengajian, daurah, hingga suatu hari kemudian hari saya talak karena saya dilarang belajar Logika dan Filsafat. Pernah suatu ketika saya membawa dan membaca buku karya Muhammad Baqir Sadr judulnya “FALSAFATUNA” dan Pembina organisasi tersebut yang juga senior dua tingkat di atasku merebut dari tanganku dan menyimpan, seraya berkata “janganmi Belajar Filsafat,… dan bla..bla…”, semoga Tuhan memberinya petunjuk.Pelarangan itu, semakin menguatkan tekadku mencari tempat-tempat yang bisa membuat saya merasa nyaman dan bebas balajar apa saja. Hingga pada suatu ketika, saya melihat Panflet “Kajian Paket Logika” di Masjid Kampus I UMI setiap malam selama sepekan, walau harus jalan kaki. Kesimpulanku saat itu, belajar Logika itu seksi dan menyehatkan. Dan HMI adalah salah satu tempat yang bisa memediasi hasrat belajar Logika. Hingga dikemudian hari menjelang selesai saya tertarik mengangkat topic skripsi “Aplikasi Logika dalam membuktikan keberadaan Tuhan dengan Logika”, hingga skripsi itu selesai bagian penutupnya, namun tidak bisa diujikan, karena, katanya lebih tepat di program Filsafat. Walaupun dalam pembahasannya saya menggunakan Logika Simbolik (matematika). Demi tugas dan amanah orang-orang yang bejasa melahirkan dan mendidik saya, Bank Indonesia yang memberi beasiswa dan semua orang-orang pernah bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan kehidupanku, yang ingin melihat saya menjadi s a r j a n a……

Semester-semester awal di fakultas MIPA ketika itu, kurang bersahabat untuk meluangkan waktu selain kuliah, kerja tugas laporan praktikum ( TPB: Tahap Pembelajaran Bersama), selama 2 semester harus mengikuti mata kuliah dan praktikum bidang exacta lainnya (Biologi, Kimia, dan Fisika). Suatu kemujuran jika membuat laporan 1-2 kali dan di ACC oleh asisten. Perburuan jadwal asistensi/ responsi dengan asisten sebagai prasyarat untuk mengikuti Praktikum adalah kesibukan tersendiri yang hampir menyita separoh lebih waktu dalam sehari untuk menyesuaikan jadwal. Melalui responsi tesebut, saya dan teman2 dapat mengetahui mahasiswa-mahasiswa berprestasi di jurusan lain. Karena asisten-asisten dikala itu adalah orang-orang yang berprestasi, bukan hanya secara akademik, tetapi juga para pembesar di Lembaga Kemahasiswaan.

Semester awal juga adalah momen yang sangat berkesan, karena ketika itu, hampir 3-4 kali dalam sepekan harus ikut berpanas-panas ria mengikuti yel-yel senior meneriakkan "Sulawesi Merdeka". Dengan kepala botak, pakai ransel, naik truk teriak-teriak sepanjang jalan, bahkan tak jarang saya melihat, beberapa senior bernegosiasi dengan sopir truk agar bersedia mengangkut kami keliling kota, mendatangi TVRI, Gedung DPRD. Menutup ruang kuliah dengan tumpukan Kursi kuliah adalah salah rutinitas sebelum mengumpulkan massa-demonstran. Sebelum berangkat beberapa orator melakukan orasi di Masjid kampus ( kampus Ulil Albab) yang ketika itu masih ada pengurus LDK LKIMB UNM yang bercokol disana. Atau setidaknya orasi / penyampaian pernyataan sikap BEM UNM, masih sering dikumandangkan ibarat adzan di pagi hari. Sehingga semarak dan heroiklah demonstrasi kala itu. Bahkan teman dari Unhas ( sebut saja namanya Fajar Juang / mhs sospol 2002) merasa takjub dan angkat jempol tehadap upaya Lembaga Kemahasiswaan (LK) UNM dalam mengorganisir demonstrasi.

Dari sekian aksi, prestasi dan inovasi beberapa senior yang sempat saya amati zaman itu. Sejenak berguman dalam hati, "sepertinya, saya tidak mampu bicara, diskusi dan berdebat dengan dosen, menulis artikel, merangkai kata-kata dan bla..bla...,bla...diskusi dengan dekan, rektor hingga pejabat, seperti yang dilakukan oleh pengurus-pengurus LK UNM ( Jurusan-Perguruan Tinggi)". Walaupun dalam hati selalu menggoda dan memotivasi bahwa saya bisa seperti mereka bahkan mungkin bisa melampauinya :-P, mengingat pengalamanmu waktu masih sekolah (ketua osis, wakil ketua Ambalan Pramuka, Waka saka bhayangkara dan eX ketua ReMas). Tidak.... tidak... saya mau kuliah sambil membantu penghidupan orang tua, sekali lagi dalam benakku terbayang lagu Iwan Fals,

“Si Budi kecil kuyup menggigil,
menahan dingin tanpa jas hujan,
disimpang jalan tugu pancoran,
tunggu pembeli jajakan koran…
……..
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan Buku,
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si budi diam di dua sisi”


Spirit mandiri, kerja keras, dan cita-cita terlukis dalam untain setiap lirik lagu tersebut. Walau hanya sebuah lagu, ternaya mampu membangkitkan hasrat keingintahuan dan etos kerja tanpa terlalu berharap hasil, sebagaimana lagu Iwan Fals yang lain “Seperti Matahari”.

Kisah Cinta yang Tak Biasa

Lelaki dan Rembulan karya almarhum Franki Sahilatua, lagu yang apik dan kira-kira bisa menjadi penyampai risalah hati. Keindahan ciptaan Tuhan yang berwujud pada makhluknya yang mungkin mewakili sisi “feminitasnya”. Saya tergolong orang yang sedikit Introvert, demikian salah satu hasil penelitian salah seorang teman yang kuliah di Psikologi. Namun juga menyimpan potensi agresifitas yang tinggi .

Kadang bersenda gurau dengan teman-teman baik di lingkup Matematika, Fakultas Mipa, dan Lintas Fakultas (PKM Kavling I Lt.2 ; Sekretariat BEM UNM yang kini jadi gedung tak bertuan). Sebagai seorang yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mengecap berbagai pengalaman dari berbagai Organisasi atau lebih tepatnya media pencarian diri dan penelusuran bakat pergulatan identitas. Identitas ateis, agamis, sosialis, kapitalis, bahkan mungkin apatis. Bertinteraksi dengan orang-orang yang sok ngatur, ngebos, pemikir, pekerja, pemarah, serakah, pendiam, pembohong dan banyak lagi wajah-wajah yang melebihi wajah Billi yang hanya 24.

Diberbagai tingkatan organisasi di kampus maupun di intra kampus, yang legal maupun illegal sangat berperan dalam membentuk kepribadian. Di HIMPUNAN saya belajar tentang hal-hal yang sederhana teknis-praktis, bagaimana mengelolah kegiatan, manajemen praktis dan lain-lain. Di Fakultas, sedikit agak kompleks karena berinteraksi dengan orang-orang baru (lintas jurusan), birokrasi fakultas. Tentunya kemampuan pendekatan komunikasi perlu beradaptasi dengan dunia ini.

Nah, disini kisah-kisah itu dimulai,… mulai digosipkan homo dengan sekum (kini: dosen di FIP UNM), dan gossip dan kisah cinta backstreet, namun publik masih tetap memanganggap saya jomblo sejati :P….
Jaim, yaa… itulah kira-kira kata yang orang sering alamatkan ke saya, namun saya sendiri tidak pernah merasa jaim,.. berupaya memperlakukan semua mahkluk Tuhan adalah merupakan cita ideal. Namun, manusia tetaplah manusia, punya perasaan…. Jika bicaramu bisa berbohong, mungkin matamu tidak, jika matamu bisa kau atasi, mengkin denyut jantungmu tidak bisa menahan derasnya gemuruh, jika suatu nama atau kata terdengar oleh telingamu.

Kisah itu bermula ketika..... bersambung

04/09/12

Kang Jalal - Tempo tentang Syiah di Indonesia


Kang Jalal - Tempo tentang Syiah di Indonesia





WAWANCARA EDISI KHUSUS TEMPO.CO dengan Kang Jalal(disadur dari TEMPO.CO dalam 6 sesi, di republished by alamyin @ www.alamyin.com)


TEMPO.CO, Jakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan pada banyak negara. Karena itu, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional, melainkan permasalahan internasional. Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan inilah hasil perbincangan wartawan Tempo: Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Senin, 03 September 2012 | 05:02 WIB
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)
Kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia?Tak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tak menunjukkan dirinya Syiah. Melainkan ber-taqiyah (berpura-pura) menjadi pengikut mahzhab Syafi''i. Karena itu, secara kultur Nahdlatul Ulama adalah Syiah. Tapi tak pernah ada sejarah yang merekam jejak mereka. Jadi, dianggapnya tak ada Syiah di kala itu. (Baca juga: Penyebaran Syiah di Aceh )

Kenapa mereka berpura-pura menganut Mahzab Syafi''i? Mereka tetap orang Syiah. Tapi di luarnya mempraktikkan mahzab Syafi''i. Tujuannya untuk melindungi diri dari serangan.

Apa yang membuat Anda yakin Syiah sudah masuk Indonesia kala itu?

Anda bisa lihat dari beberapa tradisi di Indonesia. Tabot, misalnya. Tradisi itu kerap dilakukan masyarakat Bengkulu pada 1 hingga 10 Muharram tiap tahunnya. Tak kurang dari seribu orang mengikuti Tabot. Mereka melakukan drama kolosal yang mengenang tragedi pembantaian keluarga nabi dan tewasnya Imam Hussein di Karbala.   Awalnya, tradisi itu diperkenalkan saudagar India yang kapalnya terdampar di Bengkulu. Tapi warga tak tahu jika tabot adalah tradisi Syiah. Sampai sekarang pemerintah dan warga Bengkulu tetap menggelar tabot, meskipun mereka bukan Syiah. (Baca: Tabot, Jejak Syiah dalam Tradisi Indonesia)

Lalu kapan jejak Syiah di Indonesia mulai terbaca sejarah?

Pada penyebaran gelombang kedua, Syiah masuk sekitar 1982. Berawal dari revolusi Islam di Iran pada 1979-1980-an, yakni peristiwa perebutan kekuasaan di Iran dari pemerintahan otokrasi, Mohammad Reza Shah Pahlavi, oleh ulama tua, Ayatullah Rohullah Khomeini. (Baca juga: Syiah Berkembang di Indonesia Pasca-Evolusisi Iran) Kakek ini (Khomeini) menarik perhatian mahasiswa. Buat gerakan Islam di Indonesia yang selalu gagal dalam pertarungan politik, Imam Khomeni dianggap sebagai harapan. Ia menjadi lambang negara dunia ketiga yang melawan Amerika. Mahasiswa yang dilarang berkegiatan sosial oleh pemerintah kembali ke masjid. Mereka mengulas buku-buku revolusi Iran, mengenal Syiah, mempelajari ideologi serta filosofinya. Kemudian muncullah Syiah di kalangan pelajar yang berpusat pada masjid kampus. 

Kelompok Syiah pertama kali muncul di daerah mana?
Di Bandung. Lalu Syiah masuk ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan mulai tersebar ke kampus di daerah lain. Aktivis HMI menyebarkan ajaran Syiah secara sistematis, yakni melalui pelatihan kepemimpinan. (Baca juga: Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia )

Syiah di masa itu sudah menimbulkan protes dari masyarakat?

Belum. Bahkan masyarakat tak merisaukan kesibukan mahasiswa yang mempelajari Syiah. Sebab mereka tak membicarakan soal fiqih. Jadi hanya dianggap sebagai gerakan intelektual.

Lalu kapan Syiah mulai diprotes?

Pada gelombang ketiga. Waktu orang-orang sudah mengerti ideologi dan filofosi Syiah. Kemudian mereka ingin mengenal Syiah dari segi fiqih. Mereka belajar dari habib yang pernah belajar di Khum, Iran. Karena sudah masuk ke ranah fiqih, muncullah perbedaan paham. Dan timbullah benih konflik.

Apa sampai di situ saja penyebaran Syiah di Indonesia?

Tidak. Ada gelombang keempat, ketika orang Syiah mulai membentuk ikatan. Misalnya Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia, IJABI. Berdiri 1 Juli 2000, IJABI merupakan organisasi massa yang diakui keberadaannya oleh Kementerian Dalam Negeri. Tapi penyebaran kali ini tak mengutamakan fiqih, kami mengedepankan akhlak. Alasannya, fiqih sudah menimbulkan konflik. Sedangkan bagi kami, yang penting Islam bersatu dan Indonesia tenteram. Jadi IJABI lebih fokus pada kegiatan sosial.

Senin, 03 September 2012 | 05:26 WIB
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 2)

Berapa populasi umat Syiah di Indonesia?

Berdasarkan penelitian pemerintah, paling sedikit ada 500 ribu orang. Ada juga yang memberikan perkiraan tertinggi, sekitar lima juta umat. Tapi menurut saya sekitar 2,5 juta jiwa yang tersebar di banyak daerah. (Baca: Berapa Populasi Syiah di Indonesia)

Di daerah mana saja?

Kalau berdasarkan ranking jumlah pengikut, ada tiga lokasi terbesar. Pertama, Bandung, lalu Makassar, dan Jakarta. (Baca: Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia) Kalau di Sampang, berapa orang? Sedikit. Sekitar 700 orang. Karena kecil itu, Syiah di Sampang sering diserang. Coba mereka serang Bandung…. (Baca: Bagaimana Kronologi Syiah Masuk Sampang?)

Apa perbedaan Syiah di Indonesia dengan Iran?

Tidak ada. Syiah di Iran menganut Syiah Itsna Asyariyah atau Imamah, yakni ajaran yang mengutamakan masalah kepemimpinan. Ajaran itu tercantum dalam Undang-Undang Iran. Dan kami juga Syiah Itsna Asyariyah.

Lalu bagaimana hubungan Syiah di Indonesia dengan Iran?

Kami hanya punya hubungan ideologi saja. Iran adalah negara Syiah. Tapi selain itu, mereka hampir tak pernah memberikan bantuan apa pun. Saya mendirikan sekolah di berbagai tempat, tapi orang-orang memuji Kedutaan Iran. Mereka dianggap berhasil memajukan Syiah di Indonesia. (Baca: Iran Tak Pernah Bantu Syiah Indonesia)

Apa mereka tahu keberadaan IJABI?

Ya. Bahkan, pernah ada ulama Indonesia yang mengadu ke pemerintah Iran. Mereka meminta Iran membubarkan IJABI. Alasannya, IJABI menentang ideologi Iran. Memang kami menentangnya karena ideologi kami Pancasila, seperti yang dipakai Indonesia. Lalu kata utusan Iran, hal itu bukan urusannya. Sebab, Iran tak bisa membubarkan organisasi di negara lain.

Kalau hubungan dengan pemerintah, bagaimana?

Baik. Beberapa kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta saya menjadi perwakilan Syiah di Indonesia yang pergi ke luar negeri. Permintaan itu datang ketika ada pertemuan menyangkut Syiah di dunia internasional dan Kementerian Agama yang mengutus saya. IJABI pun diakui secara resmi oleh Kementerian Dalam Negeri. Jadi, dalam politik, kedudukan kami sama dengan yang lain, yakni memiliki hak berserikat dan berkumpul. (Baca: Hubungan Pemerintah-Penganut Syiah Indonesia Baik )


Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 3)

Bagaimana umat Syiah menjalankan ibadah?

Tak beda dengan penganut aliran lainnya. Kami salat di masjid biasa, yang notabene milik ahlul sunnah.

Kenapa tak di masjid Syiah?

Karena tidak ada masjid Syiah di Indonesia. Bukan tak memiliki dana, tapi kami tidak mau menimbulkan provokasi. Kalau mendirikan masjid, nanti malah dibakar. We used things and we love people. Bukan kami tidak cinta masjid. Tapi masjid itu benda, kami lebih cinta manusia. Cinta damai. (Baca lengkap di: Soal Ibadah, Umat Syiah di Indonesia Tak Tertutup)

Apa karena alasan itu juga penganut Syiah bersembunyi?

Ya. Kalau mengaku, kami akan diusir. Karena itu kami mempraktikkan taqiyah (bertindak layaknya pemeluk Islam yang berbeda aliran). Tujuannya, menyembunyikan identitas ke-Syiah-an demi persatuan. Jadi biarlah kami menyesuaikan cara beribadah kalian (Sunni), tak apa kami menjadi makmum, tidak disebut Syiah juga tak masalah, asal Islam rukun. Kami dahulukan akhlak ketimbang fikih.

Apakah tak masalah bagi Syiah menjalankan ibadah di masjid Sunni?

Tidak. Bahkan banyak ulama Syiah yang memberikan ceramah atau mengajarkan bahasa Arab di masjid Sunni, tanpa diketahui identitas ke-Syiah-annya. Tujuannya untuk berkegiatan sosial. Dan karena tidak terbuka, yang mengetahui seseorang Syiah adalah umat Syiah lainnya. Di luar itu, tidak.

Kenapa masyarakat benci Syiah?

Saya yakin mereka tidak benci. Tapi karena terpengaruh ulama mereka. Apalagi masyarakat tradisional, seperti Sampang. Dibanding pusing memikirkan hadis, fikih, atau tafsir Al-Quran, sebaiknya semua urusan agama mereka serahkan pada ulama. Mereka sendiri memilih bekerja. Jadi, bila ulamanya bilang A, mereka bakal ikut A. Beda dengan masyarakat kota.

Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 4)

Sejak kapan konflik terhadap Syiah muncul?

Waktu pengikut Syiah mulai tertarik fikih. Konflik pertama terjadi pada 2000 lalu di Batang, Jawa Tengah. Waktu itu pesantren milik Ustad Ahmad B diserbu massa usai salat Jumat. Tapi itu hanya percikan kecil. Pelaku ditangkap polisi, dan sampai sekarang umat Syiah dan Sunni hidup rukun di sana. Setelah itu, ada juga perseteruan di Bangil, Bondowoso, atau Pasuruan, tapi skalanya kecil. Karena polisi bertindak tegas, konflik langsung menurun. Sampai sekarang tak terjadi lagi.

Konflik di Sampang, sudah sejak kapan?

2004 lalu. Kemudian di 2006 dan Desember 2011.

Kenapa Syiah di Sampang sering menjadi sasaran serangan?

Pertama, karena jumlah mereka sedikit, 700 orang. Kedua, penganut Syiah di sana kondisinya lemah, terutama dari segi ekonomi. Sedangkan si penyerang mendapat kucuran dana dari luar desa untuk menyerang. Ketiga, sikap pemerintah yang terkesan mendorong penyerangan itu. Buktinya, tiga kali penyerangan, polisi tak langsung menangkap si pelaku. Malah Ustad Tajul Muluk, yang diserang, mereka tangkap. (Baca Polri Bantah Lambat Tangani Kasus Sampang)

Apa dampak fatwa Syiah sesat dari Majelis Ulama Indonesia di Jawa Timur?

Fatwa itu juga memperkeruh suasana. Karena di Madura, pendapat kiai itu sangat didengar. Preman saja patuh pada kiai. Apalagi Menteri Agama sempat satu suara akan fatwa itu. Maka halallah darah umat Syiah. Orang sesat harus disingkirkan, begitu pikir mereka. Jadi ucapan Menteri itu sangat berpengaruh pada penegakan hukum di Sampang.

Apa benar konflik di Sampang dipicu masalah keluarga antara Ustad Tajul Malik dengan adiknya, Roisul Hukama?

Semuanya bilang begitu. Tapi sesungguhnya, konflik berdasarkan agama itu sudah ada sejak lama. Jadi bukan masalah agama yang mengatasnamakan keluarga, melainkan perseteruan aliran pada agama yang memperalat problem keluarga. (Baca lengkap di: Karena Fikih, Konflik Syiah Mulai di Indonesia)

Senin, 03 September 2012 | 16:01 WIB
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 5)

Anda katakan konflik Sampang bukan masalah keluarga. Lalu karena apa?

Begini. Roisul Hukama atau Rois itu dulunya penganut Syiah. Bahkan dia dan kakaknya, Tajul Muluk, saya lantik menjadi pengurus Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia di Sampang. Tapi kemudian muncul masalah keluarga. Rois bergabung dengan penyerang dan mengatakan ia tobat dari Syiah. Pertobatan Rois itu membuat senang orang-orang yang dari dulu antipati terhadap Syiah. Jadi konflik agama itu sudah ada terlebih dulu, baru problem keluarga.

Masalah apa yang membuat Rois pergi dari keluarga dan Syiah?

Rois memang doyan perempuan. Dia sering gonti-ganti istri. Satu perempuan yang ia taksir itu santrinya Ustad Tajul Muluk. Masalahnya, umur si gadis masih di bawah 17 tahun. Jadi Tajul Muluk menolak permintaan Rois untuk menikahi anak itu. Lalu Tajul memulangkan si santri ke orangtuanya. Tapi, oleh mereka, anak itu malah dinikahkan dengan Rois. Mereka menikah di bawah tangan. Dan Tajul marah karenanya.

Apakah Tajul menyukai santri itu?

Tidak. Dia hanya kasihan dengan santrinya yang masih kecil. Jadi Tajul melindunginya. Karena itu Rois marah. Dan muncullah konflik itu.

Menurut versi lain, sekitar 2006, seorang santri ustad Tajul Muluk bernama Halimah diminta adik Tajul, Ustad Rois, untuk dijadikan pembantu di rumahnya. Waktu itu usia Halimah baru 8 tahun. Suatu saat ada teman ustad Tajul yang tertarik pada santri itu. Teman ustad Tajul memohon kepada Tajul agar melamarkan Halimah untuknya. Tajul pun setuju dan lamaran pun diterima. Beberapa bulan setelah lamaran, orang tua Halimah mendatangi Ustad Rois untuk meminta Halimah dibawa pulang karena mau dikawinkan. Mendengar itu, Rois marah dan melabrak Tajul. Rupanya Rois juga suka pada Halimah. Sejak itulah, hubungan Rois dan Tajul tidak baik. Rois pun keluar dari Syiah dan kembali ke Sunni. Ditemui wartawan Tempo Musthofa Bisri di pengungsian, 31 Agustus 2012, Halimah meminta agar masa lalunya dan suaminya tidak dibawa-bawa dan dijadikan sebagai penyebab kerusuhan. "Jangan kambing hitamkan keluarga saya," katanya lalu pergi.)

Jadi menurut Anda, ada yang mengatur konflik di Sampang?

Ya. Saya kira memang ada grand design dalam konflik Sampang. Kalau dilihat sekarang, yang menguasai desa itu sekarang bukanlah polisi, tapi warga. Bahkan polisi tak berkutik di hadapan penyerang. Bila ada petugas yang membawa ponsel berkamera, warga bakal menyitanya. Hebat ya, masyarakat punya kekuatan semacam itu. Kemudian dari transportasi yang digunakan penyerang. Mereka menyewa bus lebih dari 10 buah. Kabar dari sana, tiap bus disewa sekitar Rp 500 ribu. Mereka tak datang dengan gratis. Tapi uang dari mana, untuk makan saja mereka kesulitan. Jelas sudah para penyerang mendapat bantuan finansial dari luar. Itu fakta.

Jadi menurut Anda ada yang membiayai penyerangan itu?

Ya. Informasi yang saya terima, ada dua supplier uang di Sampang. Satu pengusaha Madura yang tinggal di Jakarta dan satu lagi orang Arab di Surabaya. Lagi pula, membakar masjid itu bukan tradisi orang Madura. Bagi mereka, merusak masjid bisa menimbulkan perasaan kualat. Dan inilah pertama kali ada masjid atau pesantren yang dibakar di Madura.

Untuk apa mereka mengeluarkan duit itu?

Saya duga ada yang mau mengeliminasi Syiah dari Indonesia. Saya tidak dapat menyebut siapa orangnya, karena bisa jadi serangan itu merupakan satu gerakan terencana. Penggeraknya banyak, gerakan ilegal, jadi tak bakal ketahuan siapa otaknya.

Jalaludin Rakhmat. TEMPO/Praga Utama
Senin, 03 September 2012 | 16:37 WIB
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 6)

Anda katakan, ada yang mengatur penyerangan di Sampang. Apakah itu gerakan baru?

Tidak. Gerakan ini sudah melalui proses yang panjang dan melewati beberapa tahap. Sebelum mereka serang Syiah, diserang dulu Ahmadiyah. Ternyata berhasil.

Tapi kenapa mereka mau singkirkan Syiah? Apa keuntungannya?

Banyak. Dari segi lokal, ada satu tokoh agama di Jawa Timur yang mengatakan ini sebetulnya bukan soal pendapat, tetapi soal pendapatan. Ada yang mendapatkan dana sekian atau mobil, ada lagi yang tidak mendapat. Jadi menimbulkan konflik. Lalu ada juga yang mengatakan kalau Ustad Tajul Muluk sering memberikan pengajian tanpa pernah menerima amplop. Padahal tradisi di Madura, para ustad menerima amplop usai pengajian. Maka analisis saya, sebagian ustad menganggap sikapnya Tajul itu merusak pasar. Itu kesimpulan saya. Tajul juga membangun rumah perawatan untuk orang sakit. Dan bila ada bencana dia memberikan bala bantuan. Hasilnya, orang-orang menyukai dia. Jemaah Tajul jadi semakin banyak. Dan bagi ustad di daerah, kehilangan satu jemaah itu merupakan masalah. Apalagi kalau banyak jemaahnya yang pindah pengajian. Perkara besar itu. Itu dari segi lokal.

Kalau tingkat nasionalnya?

Mereka mau membuat Indonesia tidak aman. Membuat pemerintah yang sekarang tak bisa tidur.

Apa konflik Syiah di Sampang bisa dikategorikan terbesar?

Ya. Untuk di Indonesia. Dan sekarang kondisinya sudah di luar kendali Rois (adik sekaligus tersangka kasus penyerangan kelompok Syiah Sampang). Sebab konfliknya sudah sebesar ini. Dan menurut saya, Rois juga harus dihukum. Dialah yang menyerang.


http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427062/Cerita-Jalaluddin-Rakhmat-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-I

http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427066/Kisah-Kang-Jalal-Soal-Syiah-di-IndonesiaBagian-2

http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427149/Kisah-Kang-Jalal-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-3

http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427162/Kisah-Kang-Jalal-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-4

http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427194/Kisah-Kang-Jalal-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-5
http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427207/Kisah-Kang-Jalal-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-6


Wassalam:
Panjang Umur Pecinta Ahlul Bait (AY)
Download : https://www.dropbox.com/s/dtsbdzdq6qtfgoi/KISAH%20KANG%20JALAL%20TENTANG%20SYIAH.docx

03/09/12

ENTREPRENEURSHIP PERSFEKTIF MATEMATIKA

Oleh : Syamsu Alam

Satu dekade terakhir pemerintah, baik pusat ataupun daerah menargetkan ribuan bahkan jutaan entrepreneur muda. Berbagai event dilakukan untuk menstimulus generasi muda berwiraswasta. Bahkan program CSR (Corporate Social Resposibilty) perusahaan swasta dan perusahaan BUMN mengadakannya dalam bentuk lomba atau pelatihan bertajuk 'Entrepreneur". Saya pun bertanya-tanya, Kenapa pemerintah Indonesia fokus pengembangan entrepreneurship? Salah satu alasan yang paling umum adalah belajar dari pengalaman negara-negara tetangga yang sukses membangun ekonomi bangsa dengan bertumpu pada semangat dan praktik kewirausahaan. Misalnya Korea, Cina dan negara-negara asia lainnya yang sukses dengan program kewirausahaan. Alassan lain adalah banyaknya pengangguran di Indonesia, yang cenderung meningkat setiap tahun.

Tulisan ini diinspirasi dari dua kejadian yang dialami oleh penulis, pertama ketika presentase penjurian wilayah Wirausaha Mandiri 2011. Inspirasi kedua, Ceramah Sujiwo Tejo di FedEx Bandung, dengan tema Math : Finding Harmony in Chaos.

Berbagai publikasi, buku, majalah, surat kabar yang membahas tentang entrepereneurship. Kita sering kali menemui ungkapan "from zero to hero". Ungkapan yang senantiasa menyemangati menginspirasi para pembaca, pemirsa ataupun audience agar tergerak melakukan usaha atau bergabung dengan usaha yang sedang di presentasikan oleh trainer. Saya ingin menuangkan kekurang sepakatan saya dengan slogan tersebut. Dengan mencoba memanfaatkan basis keilmuan yang ketika kuliah di jurusan matematika dan ilmu ekonomi yang sedang saya geluti. Para trainer hendak menyemangati para audience dengan mengatakan from "zero", yang berarti tidak mempunyai apa-apa menjadi "one" (yang sukses, berhasil menggapai cita-cita). Sepintas, kata-kata tersebut dapat membius para audience, namun kalau dipikir dengan seksama penggunaannya kurang tepat. Menyatakan "kita" sebagai manusia yang akan memulai usaha dengan tanpa modal apapun merupakan kekeliruan besar, sebagaimana kelirunya filosof empirisme, John Locke mengatakan manusia lahir seperti "kertas kosong" tidak mempunyai apa-apa, tanpa potensi dan tanpa pengetahuan dasar.

Spirit yang ingin dikembangkan oleh pemerintah ataupun pra trainer di atas adalah "spirit perubahan", "spirit inspirasi" untuk tergerak mengakumulasi keuntungan, dari tidak berpunya menjadi berlimpah (kaya raya), rangsangan lewat cerita inspirasi orang-orang sukses senantiasa kita dengar. Harta yang banyak, merek mobil mewah, rumah yang megah, teknologi canggih yang dipakai, bahkan mungkin istri yang banyak pula. :).

Spirit akumulasi menyerupai deretan bilangan Fibonacci, dimana angka selanjutnya dapat diperoleh dengan menjumlahkan angka yang sebelumnya. Namun, menurut hemat saya, Spirit entrepreneurship lebih tepat jika diandaikan dengan deretan bilangan asli (Natural). Bilangan yang dimulai dengan angka 1 menuju tak terhingga. Saya menyebutnya from one to unlimited. Walaupun banyaknya bilangan antara 0-1 adalah tak terhingga namun angka nol yang diartikan dengan tidak mempunyai modal apa-apa adalah kekeliruan para trainer entrepreneur. Karena faktanya bahwa, semua manusia diciptakan dengan "fitrah". Fitrah tidak sama dengan 'tabula rasa' ala John Locke(b. 1632, d. 1704). Fitrah menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi-potensi berbuat baik, potensi mengabdi kepada yang menciptakannya. Dengan demikian ungkapan tidak mempunyai apa-apa keliru adanya.

Dalam ekonomi, setiap individu ataupun masyarakat bukan hanya mempunyai modal ekonomi (modal fisik), tetapi juga mempunyai modal sosial (Social Capital) dan modal manusia (Human Capital), bahkan di referensi yang lain ada banyak modal termasuk modal moral dan lain-lain. Sederhananya apapun yang dapat menghidupkan atau menggerakkan aktifitas ekonomi adalah merupakan modal. dan Modal dasar yang paling hakiki yang dimiliki oleh manusia sebagai individu adalah "Fitrah akal sehat”.

Alangkah indahnya, jika inspirasi dan semangat entrepreneurship dibangun dari fondasi "fitrah", di mulai dari fondasi yang 1 menuju yang tak terhingga (unlimited). Terminologi tak terhingga bisa merujuk pada perbuatan-perbuatan baik, kedermawanan si entrepreneur, keinginan dan keikhlasan berbagi dengan yang kurang mampu, dan lain-lain, yang semuanya tidak bisa dinilai dengan hitung-hitungan akuntansi. Ungkapan One to Unlimited juga menyiratkan bahwa tujuan berwirausaha bukan hanya 'akumulasi modal fisik' ala bilangan fibonacci tetapi diarahkan pada yang yang 'tak terhingga nilainya'. Dengan kata lain, bukan sekedar mengakumulasi uang/ keuntungan dan memperkaya diri sendiri, tetapi di distribusikan untuk kegiatan-kegiatan sosial, berbagi kebahagiaan, berbagi kesejahteraan dengan yang lain. Dari sini akan lahir sociopreneur yang mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan dan persamaan.

Hal yang sama, yang diharapkan oleh Sujiwo Tejo, yang juga pernah mengenyam pelajaran Matematika di ITB, mengemukakan bahwa, Dalam matematika, kita lebih banyak membahas tentang persamaan daripada pertidaksamaan, kalau pun membahas pertidaksamaan, hal itu hanya untuk mempertegas persamaan. Dengan prinsip ini maka, entrepreneur yang mengedapnkan prinsip-prinsip persamaan, prinsip zero to unlimited, insyaallah akan membuat dunia lebih indah, dunia usaha lebih bersahabat, lebih ramah dan elegan. Sehingga Error Entrepreneur seperti bencana Lapindo, Freeport, Blok Cepu dan lain-lain tidak terjadi lagi. Spirit yang sama juga sebaiknya di internalisasi oleh pemerintah, sehingga bukan sekedar memperbanyak entrepreneur yang error.

Penulis adalah Alumni Matematika UNM 2006, Pegiat Usaha di Titik9 Design and Printing. Kini belajar Ilmu Ekonomi di PPs Unhas.