Education for freedom 1

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 2

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 3

Read, Write, and Do Something

Education for freedom 4

Read, Write, and Do Something.

Education for freedom 5

Read, Write, and Do Something

14/12/10

Pelangi itu indah karena warna-warni (bag 1)


Media massa disibukkan dengan beragam pemberitaan, hasil jempretan fenomena-fenomena alam dan kejadian-kejadian hasil rekayasa politisi. Teguran alam seperti Banjir, Tsunami, Gempa, merapi bukanlah kejadian yang harus dibenci ataupun dicerca. Anggap saja sebagai belaian kasih semesta, dan aktifitas rutinnya untuk mencari keseimbangan dirinya.

Aksi solidaritas seluruh rakyat Indonesia perlu mendapat apresiasi, namun semoga kita tidak melupakan bencana-bencana yang diakibatkan oleh sifat serakah manusia, seperti Lumpur Lapindo.

Selain fenomena alam yang tak bisa dipastikan dan dikendalikan, kejadian-kejadian yang bisa dikendalikan oleh manusia, ada rekayasa genetika,pencangkokan tanaman. yang tak kalah hebohnya digosipkan oleh media rekayasa yang dilakukan oleh para penguasa. Hiruk pikuk kasus century, gayus, dan kasus-kasus kejahatan lainnya. Namun yang membuat miris hati adalah kasus-kasus kejahatan tersebut belum diselesaikan eeh,.. malah presiden (pemerintah) malah mengorek keistimewaan Yogya.Atas nama Monarki, tidak demokrasi dan alasan-alasan lainnya. Namun secara sepihak saya menilai bahwa, seolah ada keinginan terselubung dari SBY dan teman-temannya untuk menghilangkan kepemimpinan kultural, walau kebanyakan orang menilai itu hanya pengalihan isu dari ketidakmampuan pemerintah mengatasi kejahatan-kejahatan birokrasi.

Bahkan kadang saya berspekulasi bahwa, jangan-jangan SBY seolah-olah ingin mencari pembenaran bahwa dirinya bisa saja menjadi presiden seumur hidup, yaa.. dengan alasan kalau Gubernur bisa kenapa presiden tidak bisa... :)

menarik artikel yang ditulis Indra Tranggono di Kompas beberapa hari yang lalu tentang "Amnesia sejarah" berikut sebagian uraiannya saya copas...

Tragedi demokrasi liberal

Demokrasi liberal, yang kini menentukan detak jantung negara-bangsa, identik dengan uang. Padahal uang—seperti dinyatakan Sophocles, penulis drama tragedi Yunani—merupakan hasil kebudayaan yang paling buruk. Uang mereduksi manusia menjadi alat kepentingan sesaat. Uang pun memiliki daya linuwih menciptakan dehumanisasi dan dekulturalisasi, dua praktik penghancur peradaban manusia.

Tragedi demokrasi liberal— antara lain melalui pemilihan langsung—telah kita rasakan bersama. Konflik horizontal rentan tersulut. Pilkada-pilkada menjelma menjadi arena para gladiator politik tanpa sikap kesatria.

Demokrasi liberal terbukti menjauhkan pemimpin dari rakyatnya, karena pemimpin merasa telah ”membeli” jabatan melalui politik uang. Rakyat diapresiasi haknya hanya saat pemilu, sesudah itu mereka dilupakan. Ini menambah dosis kelenyapan peran negara atas rakyat.

Demokrasi liberal—yang tanpa diimbangi pendidikan politik atas rakyat—tidak mengenal kearifan kolektif karena hanya mengandalkan ukuran kuantitas. Padahal, tidak semua persoalan bangsa bisa diselesaikan dengan mayoritas suara. Tanpa kearifan, mayoritas berpotensi menjadi diktator. Dalam konteks ini, kita semakin kehilangan makna ”kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.

Demokrasi yang dibangun di negeri ini telah kehilangan empati atas nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini punya peran penting dalam membangun sosok negara/bangsa Indonesia. Atas nama pragmatisme politik dan kekuasaan kapital, berbagai nilai kearifan lokal (hendak) dilenyapkan. Pelenyapan ini berujung pula pada pelenyapan karakter dan bangsa ini semakin tumbuh dalam penyeragaman dari gaya hidup sampai ide. Tragisnya, penyeragaman bermuara pada konsumtivisme.

Maka, untuk menyelamatkan Indonesia dari ”kodrat kapital” yang mencetak bangsa ini menjadi bangsa konsumen, salah satunya dengan menghidupkan berbagai kekayaan kearifan lokal. Ini termasuk dalam soal kepemimpinan. Kita justru semakin banyak membutuhkan kepemimpinan kultural semacam yang ada di Yogyakarta, bukan malah melenyapkannya atas nama demokrasi liberal, demokrasi uang!

Sungguh secara pribadi, saya merindukan pemimpin-pemimpin kultural yang tidak dipilih melalui mekanisme demokrasi yang rumit namun bobrok, kepemimpinan lokal yang tanpa struktur yang rumit, birokrasi yang berliku-liku. yang rentan terjadi kongkalikong dan manipulasi. So, buat apa demokrasi kalau hanya bikin susah, buat apa "demokrat" kalo perilaku otoriter (tidak menghargai keberagaman).

09/08/10

Menjelang Ramadhan 2010


Beragam cara menyambut Ramadhan, ada yang menyambutnya dengan memanfaatkan minggu terakhir bulan sebelum ramadhan dengan berekreasi,kirim smsan keteman-teman, buat design card/picture tentang Ramadhan lalu di kirim keteman via pos atau via facebook atau media teknologi lainnya, ada juga yang melakukan majelis-majelis ilmu, pengajian, mentraktir seperti yang dilakukan teman2 Exact community (traktir main futsal) dan lain-lain. ada juga yang biasa-biasa saja, tidak ada persiapn khusus, namun mereka tetap berpuasa jikalau Ramadhan tiba (muslim only).Oia, bulan Ramadhan adalah bulan kebahagaiaan bagi kaum mustadafien, kaum papa.DAN yang tidak kalah persiapannya adalah sejumlah program TV seolah-olah disulap menjadi sangat religius. Berlomba-lomba menyajikan program yang bernuansa religius, parodi, lawakan hingga berita yang nuansanya Islami. huhh...Zukozen sendiri sangat bersyukur kalau bisa menikmati Ramdhan tahun ini, dan bisa menikmati aroma buka puasa bersama keluarga, sahabat, dll, berharap bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri di bulan Bulan suci Ramadhan, Bulan Tuhan. amiiin.

Ada banyak hal yang kuharapkan, banyak harapan berarti harus bersiap menanggung kekecewaan. hehe... diantaranya bisa memanfaatkan Ramadhan dengan baik, bukan hanya sekedar menahan lapar seperti yang lalu, bukan hanya kampanye anti-konsumerisme. tetapi harus bisa menahan diri dari godaan-godaan lainnya.

Membincang soal konsumerisme dengan Ramadhan ada sedikit yang mengerikan dalam benakku. Mengerikan karena ini amat akut, dan menjangkiti hampir 90% orang-orang yang berpuasa. Katanya dengan Berpuasa hidup bisa lebih sederhana dan bersahaja, tetapi kenapa setiap menjelang puasa dan menjelang Ramadhan justru kebalikannya yang aku lihat. Biaya atau daya beli masyarakat meningkat tajam menjelang 2 momen itu. diam-diam saya berpikir, ooo mungkin godaan berbelanja sedemikian hebatnya,sehingga bisa mengalahkan seruan untuk hidup sederhana. Kenapa ini bisa terjadi ???.

18/05/10

Kreasi kesenangan yang terbeli


Beberapa hari yang lalu, Zuko berhasil ngumpul bersama teman-teman sepermainan di kampus UNM. tepatnya di PKM gd. BEM. Seperti biasa, setiap bertemu kawan lama pasti bertukar cerita tentang kondisi terupdate, dan sesekali menertawakan masa lalu, kadang juga mengecam masa lalu, bukan karena masa lalu itu jahat, tetapi kondisi yang kami lihat tak seindah angan-angan kami dahulu: Kerja, nikah, punya anak, punya kebun, punya sekolah ....:P, masih dalam acara mimpi kale yeee...,

Oia, bicara soal Kerja, Seorang teman bertutur. Kerja benar-benar mengalienasi/mengasingkan diri kita dari keDIRIan kita yang sebenarnya. Ekstasi paling tinggi dari kerja adalah kita tidak mengetahui untuk apa kita kerja. Coba bayangkan kalau kita kerja digaji, diberi insentif kesehatan, sebenarnya bukan untuk diri kita, bukan untuk kebahagiaan kita. tapi semata-mata agar mode produksi-reproduksi di perusahaan bisa tetap berjalan. Karena akan berbahaya jika kita (karyawan) sakit, atau tidak mempunyai uang belanja. Oleh karena itulah Perusahaan menggaji kita,memberi insentif kesehatan, sekali lagi agar roda mode produksi tetap bekerja. Dan siapakah yang paling diuntungkan dari roda produksi-reproduksi-produksi dan seterusnya ??.Sementara kita masih terperangkap dalam siklus yang itu-itu terus setiap hari. Pergi pagi-pulang malam, tidur dan rekreasi pada saat liburpun sebenarnya bukan untuk kesenangan atau kebahagiaan kita tetapi sekedar menghilangkan kepenatan selama kerja, tidur pun bukan sebenar-benarnya untuk beristirahat tetapi hanya untuk menampung dan mengembalikan kondisi tubuh supaya pagi hari bisa FIT dan siap ke kantor lagi, kerja lagi.

Begitulah kira-kira siklus hidup manusia yang katanya modern. Dengan jam kerja di atas 8 jam, tetapi masih sangat kekurangan dan tidak sejahtera bahkan banyak yang stress, terbukti dengan banyaknya klinik-klinik penghilang stress. Jika dibandingkan dengan suku aborigin, dan suku "*****" di Afrika yang hanya bekerja 2-3 jam sehari tetapi serba berkecukupan dan hidup bahagia tentram dan damai.Kesenagan manusia yang katanya modern sangat barbiaya tinggi. Misalnya, hanya untuk menghilangkan kepenatan, stress harus merogoh kantong 1/3 gaji untuk bisa berteriak-teriak di tempat-tempat karaoke, rumah bernyanyi, dunia fantasi dan semacamnya. Apakah hidup akan kita habiskan hanya untuk cari duit dan menghamburkannya ditempat-tempat yang katanya penyedia kesenangan dan kebahagiaan ? sedemikan tidak kreatifnyakah kita mencipta kesenangan yang bisa kita nikmati sendiri tanpa harus terjebak dalam mode produksi kapital yang kian menggila dan rayuan pasar hiburan.

Bagaimana sekiranya, pemilik perusahaan tempat kita bekerja adalah juga pemodal di tempat hiburan yang sring kita datangi untuk menghilangkan kepenatan, atau dengan kata lain, cuma satu pemodal yang mengontrol semua aktifitas perekonomian kita, bukankah sebenarnya kita menggali lobang dan mengali kuburan buat kebebasan berkreasi, mencipta, termasuk menciptakan kesenangan buat diri sendiri dan bukan diciptakan atau dihalau ketempat-tempat yang katanya bisa menghibur.
Zuko yakin dan percaya kita semua punya bakat kreatif, termasuk mencipta kesenangan dan kebahagiaan setidaknya bagi diri sendiri, dengan demikian kita tidak mesti terjebak dalam pasar hiburan yang hanya membuat hidup kita semakin sengsara dan merana :))

'' Rebut kembali hakmu berkreasi yang telah dirampas oleh pasar lewat tv, media cetak dan elektronik hingga internet ''

Zuko pernah dikontrak menjadi Tim Kreatif Media, TGC-ACCES-AUSAID untuk pembelajaran warga.
(tulisan untuk solidaritas kaum buruh sedunia, makassar,mei 2010)

06/02/10

Tips menghadapi bos yang menyebalkan ;-)

1. Jangan biarkan Boss yang menyebalkan bisa mempengaruhi suasana hati Anda. Tetap positif dan sikap apapun dari Boss akan menjadi lebih mudah untuk ditangani.

2. Diskusikan masalah ini dengan orang terdekat Anda, teman ataupun keluarga. Anda perlu berbagi mereka karena sharing itu pun juga bersifat terapi. Keluarga atau teman dekat dapat mendukung serta membantu Anda melalui hari-hari yang paling sulit di tempat kerja.

3. Jika Boss anda memberikan kritikan yang tidak perlu atau bahkan tidak adil, kadang mudah sekali Anda terlarut dalam debat kusir dengannya. Biasanya konfrontasi seperti ini merupakan cerminan pribadi bos anda yang buruk (insecurity) . Jadi lebih baik Anda hindari perdebatan seperti ini terutama tentang siapa yang benar atau salah. Langsung saja dengan membahas solusinya dengan sikap tenang.

4. Ambil cuti jika masalah ini mulai membuat Anda stress, sama seperti yang akan Anda lakukan jika Anda sakit secara fisik (demam,flu, dll). Karena stress juga akan berdampak terhadap kesehatan jiwa anda (depresi).

5. Hindari melapor atau mengadu ke Bos-nya Boss. Kemungkinan besar mereka akan mendukung atasan Anda dan ini bisa menyebabkan masalah lebih besar lagi. Lebih baik jalin hubungan baik dengan senior di perusahaan Anda, tetapi diluar rantai komando (beda department/divisi) . Mereka biasanya akan lebih obyektif .

6. Jika Boss menyerang Anda secara tidak rasional, minta dia untuk menjelaskan ulang. Ini akan membantu Boss Anda untuk bisa memahami kekurangan dalam argumennya atau mungkin mendapat pemahaman lain dari sudut pandang anda.

8. Berbicara dengan teman dan rekan di tempat kerja. Cari tahu apakah mereka menerima perlakuan yang sama dan apakah mereka setuju bahwa itu tidak adil. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah hal ini berlaku kepada anda secara khusus atau bos berlaku tidak adil kepada semua orang.

9. Jangan bawa pekerjaan pulang. Ingat, boss anda hanya membayar waktu bekerja anda di kantor, bukan di rumah. Mereka tidak memiliki hak atas waktu senggang Anda di rumah.

sumber Milis: rtmcode@yahoogroups.com (di posting oleh: Walyx)